Slot Header 970×90

Bareskrim Gagalkan Peredaran 5 Kg Etomidate Asal Malaysia, Bongkar Lab Rahasia di Apartemen Jakarta

Oleh Fery Fadli · null

29 September 2026 pukul 15.16 WITA · 3 menit baca

Sumber Antara
Sumber Antara

JAKARTA, BALINEWS — Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menggagalkan peredaran 5 kilogram Etomidate asal Malaysia yang diduga akan diedarkan di Indonesia dalam bentuk vape.

Pengungkapan tersebut juga membawa penyidik membongkar sebuah apartemen di Jakarta Utara yang diduga digunakan sebagai clandestine lab atau laboratorium rahasia untuk memproduksi vape yang mengandung Etomidate.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Irjen Pol. Eko Hadi Santoso mengatakan kasus tersebut melibatkan jaringan lintas negara. Polisi mengamankan tujuh orang yang terdiri atas lima warga negara Malaysia, satu warga negara Indonesia, dan satu warga negara Tiongkok.

“Secara keseluruhan ditemukan 10 bungkus dengan berat bruto 5 kg. Serbuk tersebut diuji laboratorium oleh Bea Cukai positif mengandung Etomidate,” kata Eko dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Pengungkapan bermula ketika petugas DJBC Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta mengamankan lima WN Malaysia pada Jumat (25/9/2026).

Kelima orang tersebut adalah Mohammad Zulhusni bin Ab Salin, Nur Aisyah binti Abdullah, Emanuel bin Harry, Prince Alvin Robin, dan Muhammad Adam bin Julle. Polisi menduga kelimanya berperan sebagai kurir.

Mereka diketahui terbang dari Kuala Lumpur menuju Indonesia. Saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, petugas menemukan masing-masing dua bungkus serbuk yang diduga Etomidate dengan berat sekitar 500 gram per bungkus.

Serbuk tersebut disembunyikan di bagian insole sepatu yang dikenakan para pelaku.

Dari pemeriksaan, para WN Malaysia mengaku diperintah seorang perempuan yang hanya dikenal dengan nama panggilan “Madam” untuk membawa Etomidate dari Malaysia ke Indonesia. Komunikasi disebut dilakukan melalui aplikasi Telegram.

Sesampainya di Jakarta, para kurir diarahkan berkumpul di Yello Hotel Harmoni untuk mengumpulkan sepatu berisi serbuk Etomidate ke dalam sebuah koper berwarna merah.

Koper tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Wu Song, WN Tiongkok yang diduga berperan sebagai kurir sekaligus menguasai lokasi yang digunakan sebagai laboratorium rahasia.

Penyidik kemudian mengembangkan informasi tersebut dan menangkap Wu Song. Dari tangannya, polisi menemukan kunci apartemen di Mediterania Marina Residence Tower, Jakarta Utara.

Penggeledahan di apartemen tersebut menemukan sejumlah peralatan dan perlengkapan yang diduga digunakan untuk memproduksi vape yang mengandung Etomidate.

Eko mengatakan Wu Song telah berada di Indonesia sejak 19 September 2026 dan tinggal di unit apartemen tersebut.

Menurut keterangan Wu kepada penyidik, dirinya mendapat arahan melalui grup komunikasi bernama “SIGNAL” untuk mencatat stok barang yang berada di apartemen.

Wu juga mengaku diperintahkan mengambil narkotika jenis Etomidate yang disimpan dalam koper di kawasan Yello Hotel Harmoni pada Jumat (25/9/2026).

Hasil pemeriksaan laboratorium di Laboratorium Forensik Bareskrim Polri pada Minggu (27/9/2026) memastikan barang bukti tersebut positif mengandung Etomidate.

Penyidik juga menemukan dugaan keterlibatan sebelumnya. Mohammad Zulhusni bin Ab Salin dan Nur Aisyah binti Abdullah disebut telah dua kali melakukan pengiriman Etomidate.

Pengiriman pertama dilakukan dari Malaysia ke Tokyo dengan bayaran RM7.000 atau sekitar Rp30 juta berdasarkan kurs yang digunakan dalam keterangan polisi. Pengiriman kedua dilakukan dari Malaysia ke Indonesia dengan bayaran RM9.000 atau sekitar Rp30 juta hingga Rp50 juta.

Sementara itu, Emanuel bin Harry, Prince Alvin Robin, dan Muhammad Adam bin Julle disebut baru pertama kali menerima pekerjaan dari “Madam”.

Dalam pengembangan kasus, Wu Song mengaku awalnya datang ke Indonesia pada 19 September dengan alasan berlibur. Setibanya di Indonesia, ia mengaku dihampiri seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai Qing.

Qing, menurut keterangan Wu, menawarkan tempat tinggal gratis di sebuah apartemen. Wu kemudian mengikuti pria tersebut ke lokasi.

Polisi menyebut sejumlah barang yang kemudian disita telah berada di apartemen sejak Wu tiba di Indonesia. Wu mengaku mendapat tugas menghitung stok, mulai dari jeriken berisi cairan, kartrid kosong hingga kemasan, kemudian melaporkannya melalui grup percakapan.

Wu juga mengaku tidak pernah melihat orang datang mengambil barang-barang tersebut selama tinggal di apartemen. Atas pekerjaannya, ia disebut mendapat bayaran RM4.000 atau sekitar Rp10 juta.

Berpotensi Produksi 42.500 Pod

Dari penggeledahan, polisi menemukan bahan baku cair sebanyak 85.000 mililiter.

Dengan asumsi penggunaan 2 mililiter per pod, bahan tersebut secara teoritis berpotensi menghasilkan sekitar 42.500 pod.

Polisi memperkirakan, jika menggunakan asumsi harga jual Rp3 juta per pod, nilai ekonominya dapat mencapai sekitar Rp127,5 miliar.

“Berdasarkan penghitungan sementara tersebut, barang bukti diperkirakan berkaitan dengan potensi beredarnya sekitar 42.400 pods mengandung Etomidate, dengan estimasi penyelamatan sekitar 21.250 jiwa,” ujar Eko.

Bareskrim Polri bersama Bea Cukai masih mengembangkan kasus tersebut untuk membongkar jaringan peredaran Etomidate lintas negara serta mencegah bahan tersebut diproduksi dan diedarkan dalam bentuk vape di Indonesia.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.