Slot Header 970×90

BBM Langka Empat Hari, Tur Wisata Batal, Kunjungan Jatiluwih Anjlok 30 Persen

Oleh Fery Fadli · null

15 Oktober 2026 pukul 23.34 WITA · 3 menit baca

Foto : Kiri, I Ketut Purna, Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Kanan, Ketua ASITA Bali I Putu Winastra, S.AB., M.A.P.
Foto : Kiri, I Ketut Purna, Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Kanan, Ketua ASITA Bali I Putu Winastra, S.AB., M.A.P.

BADUNG, BALINEWS – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali yang memasuki hari keempat mulai mengganggu operasional usaha pariwisata. Sejumlah agen perjalanan terpaksa membatalkan tur dan kesulitan menjemput wisatawan akibat kendaraan kehabisan bahan bakar. Sementara itu, kunjungan wisatawan ke Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, dilaporkan turun lebih dari 30 persen.

Ketua ASITA Bali I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., mengatakan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) berdampak signifikan terhadap aktivitas anggota ASITA dalam melayani wisatawan. Hal itu disampaikannya di Badung, Kamis (15/10/2026).

“Awalnya saya cukup optimistis, karena tidak melihat kelangkaan BBM ini sampai memasuki hari keempat. Ternyata, lamanya teman-teman mengantre BBM akhirnya memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kegiatan di lapangan untuk menangani aktivitas tamu-tamu mereka,” ujar Winastra.

Menurutnya, kesulitan memperoleh BBM, terutama Pertalite, memaksa sejumlah pelaku usaha mengubah rencana perjalanan dan menyesuaikan moda transportasi untuk melayani wisatawan. Kendaraan kecil yang banyak digunakan dalam operasional tur menjadi salah satu yang paling terdampak, sedangkan kendaraan besar relatif terbantu oleh ketersediaan solar.

Winastra mengungkapkan, sejumlah anggota ASITA bahkan melaporkan pembatalan tur setelah kendaraan yang membawa wisatawan terjebak kemacetan parah. Pengemudi terpaksa memutar balik sehingga perjalanan yang telah direncanakan tidak dapat dilanjutkan.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian mitra pariwisata di luar negeri. Pelaku usaha, kata Winastra, berupaya memastikan persoalan BBM tidak menimbulkan persepsi bahwa Bali berada dalam situasi kacau.

“Kami harus tetap meyakinkan bahwa Bali ini masih tetap aman untuk dikunjungi,” katanya.

Meski demikian, Winastra meminta Pertamina dan pemerintah pusat segera mengambil langkah mitigasi serta menyampaikan informasi secara transparan mengenai kondisi pasokan dan distribusi BBM.

Ia menilai informasi mengenai ketersediaan stok perlu sejalan dengan kondisi pelayanan di lapangan, mengingat antrean panjang masih terjadi di sejumlah SPBU.

“Jangan sampai stok aman, tetapi faktanya di lapangan masih tetap terjadi antrean yang sangat panjang. Jangan sampai menimbulkan keresahan dari masyarakat,” ujarnya.

Dampak kelangkaan BBM terhadap sektor pariwisata juga dirasakan praktisi pariwisata senior I Ketut Purna, yang akrab disapa John Purna. Selain menjalankan usaha agen perjalanan wisata, Purna menjabat Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Kabupaten Tabanan.

Purna mengatakan kelangkaan BBM menghambat operasional usaha perjalanan wisata yang dikelolanya. Sejumlah karyawan tidak dapat masuk kerja, sementara penjemputan wisatawan terkendala karena sopir kesulitan mendapatkan bahan bakar.

“Sebagai pengusaha travel agent, saya merasa benar-benar dirugikan. Karyawan saya sudah beberapa tidak bisa masuk kerja karena kelangkaan BBM. Tamu-tamu yang sudah kita janjikan untuk dijemput juga tidak bisa kita jemput karena sopir tidak punya BBM untuk jalan,” kata Purna.

Ia juga melaporkan kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih turun lebih dari 30 persen pada Rabu (14/10/2026). Menurutnya, penurunan tersebut terutama dipicu kesulitan pengemudi membawa wisatawan ke destinasi akibat terbatasnya akses terhadap BBM.

Purna memperkirakan penurunan kunjungan pada Kamis (15/10/2026) berpotensi lebih besar. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan berdasarkan pengamatannya terhadap kondisi di lapangan.

Selain menghambat perjalanan wisata, antrean SPBU turut memengaruhi mobilitas di sejumlah ruas jalan. Purna mengaku harus mencari jalur alternatif saat melakukan perjalanan dari Renon menuju Jimbaran untuk menghindari antrean di SPBU.

Jalur yang biasanya ditempuh melalui jalan utama terpaksa dialihkan ke jalan-jalan kecil di kawasan Sesetan.

Ia mendesak instansi berwenang segera memulihkan distribusi BBM agar dampaknya terhadap kegiatan ekonomi dan pariwisata tidak semakin meluas.

“Harapannya, pihak-pihak yang punya otoritas dalam hal ini segera memulihkan kondisi Bali. Bali ini internasionalnya Indonesia,” tegasnya.

Para pelaku pariwisata berharap pemerintah dan Pertamina segera mengatasi persoalan distribusi BBM agar operasional transportasi wisata kembali normal, pelayanan kepada wisatawan tidak terganggu, dan kunjungan ke berbagai destinasi di Bali dapat pulih.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.