Slot Header 970×90

BNN Denpasar Waspadai Narkoba Berubah Jadi Liquid, 43 Desa Dibidik Jadi Bersinar

Oleh Fery Fadli · null

30 September 2026 pukul 22.23 WITA · 4 menit baca

Kepala BNN Kota Denpasar Kombes Pol Dr. Leo Dedy Defretes, S.H., S.I.K., M.H.
Kepala BNN Kota Denpasar Kombes Pol Dr. Leo Dedy Defretes, S.H., S.I.K., M.H.

DENPASAR, BALINEWS — Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Denpasar memperkuat pencegahan peredaran narkotika dengan mendorong 43 desa dan kelurahan di Kota Denpasar menjadi kawasan Bersinar (Bersih dari Narkoba).

Langkah tersebut dilakukan di tengah perubahan modus peredaran narkotika yang semakin mengikuti perkembangan teknologi dan tren di kalangan anak muda, termasuk penggunaan rokok elektronik dengan liquid.

Kepala BNN Kota Denpasar Kombes Pol Dr. Leo Dedy Defretes, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan strategi pemberantasan narkotika tidak cukup hanya mengandalkan penindakan terhadap bandar dan pengedar. Pencegahan harus diperkuat dengan membangun daya tangkal masyarakat, terutama generasi muda.

Hal itu disampaikan Leo saat menjadi narasumber dalam diskusi bulanan Ngopi Santuy yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali di kawasan Renon, Denpasar, Rabu (30/9/2026).

Menurut Leo, 43 desa dan kelurahan di Denpasar terus didorong membangun ekosistem pencegahan narkotika dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, sekolah, keluarga dan komunitas.

"Kita terus mendorong desa-desa yang ada di Denpasar menjadi Desa Bersinar. Kita memprioritaskan desa-desa yang masuk kategori berpotensi atau rawan, sehingga perlu melibatkan stakeholder dan masyarakat yang ada di desa tersebut," kata Leo.

Modus Narkoba Berubah, Masuk ke Liquid Vape

Leo mengungkapkan tantangan pemberantasan narkotika saat ini semakin kompleks karena bentuk dan modus peredarannya ikut berubah.

Jika sebelumnya narkotika lebih mudah dikenali dalam bentuk tanaman, serbuk atau kristal, kini sejumlah zat dapat ditemukan dalam bentuk cair atau liquid.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena liquid dapat disamarkan atau dicampurkan ke dalam cartridge rokok elektronik.

"Karena sudah berbentuk liquid, sulit sekali kita melihat perbedaannya. Apakah ini liquid yang memang memiliki legalitas atau narkoba yang diselundupkan masuk ke dalam cartridge rokok elektronik," ujar Leo.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi tantangan baru bagi aparat penegak hukum maupun masyarakat karena modus peredaran narkotika mengikuti tren penggunaan teknologi.

Leo mencontohkan ganja yang sebelumnya dikenal dalam bentuk tanaman, kini dapat diekstrak menjadi bentuk cair. Demikian pula narkotika jenis lain yang menurutnya dapat dicampurkan ke dalam liquid rokok elektronik.

"Ini menjadi sebuah transformasi peredaran gelap narkotika. Modus operandinya maupun bentuk jenisnya sudah berubah," katanya.

Etomidate Jadi Perhatian

Selain perubahan bentuk narkotika, BNN juga mewaspadai munculnya etomidate, yang disebut sebagai salah satu new psychoactive substance (NPS).

Leo mengatakan sejumlah kasus etomidate telah diungkap di Bali. Dalam kasus yang ditangani BNN, harga zat tersebut disebut mencapai sekitar Rp5 juta.

"Etomidate ini adalah jenis narkotika baru atau new psychoactive substance. Peredarannya ada di kalangan tertentu yang memiliki kemampuan finansial. Harga etomidate dalam kasus-kasus yang kita ungkap sekitar Rp5 juta," ujarnya.

Menurut Leo, anak-anak dan remaja berpotensi menjadi korban apabila tidak memiliki pengetahuan dan daya tangkal yang cukup terhadap perkembangan narkotika di era digital.

Ia mengingatkan media sosial dan iklan ilegal dapat menjadi salah satu pintu masuk yang memengaruhi rasa ingin tahu anak muda.

"Jangan sampai mereka karena faktor media sosial dan perkembangan teknologi akhirnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup, kemudian tergiur atau terbujuk rayu oleh iklan-iklan ilegal yang terselubung," katanya.

Sekolah Jadi Benteng Pencegahan

Menghadapi perubahan modus tersebut, BNN Kota Denpasar memperluas program pencegahan ke lingkungan sekolah.

BNN berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mendorong Integrasi Kurikulum Antinarkotika (IKAN) pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Melalui program tersebut, pengetahuan mengenai narkotika disisipkan dalam proses pembelajaran.

"Bagaimana siswa-siswi dalam proses belajar disisipkan tentang pengetahuan narkotika yang ada di beberapa mata pelajaran," jelas Leo.

BNN juga membentuk Sobat Bersinar, yakni pelajar yang didorong menjadi penggiat antinarkotika di lingkungan sekolah dan menyampaikan informasi kepada teman sebaya.

Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan siswa dalam mengenali perkembangan modus peredaran narkotika dan menolak pengaruh negatif di lingkungan maupun ruang digital.

BNN: Perang Narkoba Bukan Hanya Penangkapan

Leo menegaskan pemberantasan narkotika tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum.

Menurutnya, pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat dan komunitas harus membangun ekosistem pencegahan secara bersama-sama.

"Perang melawan narkoba itu untuk kemanusiaan. Bagaimana kita bukan hanya mengejar atau menangkap bandar, pengedar dan pelaku, tetapi juga mencegah generasi ke depan menjadi korban," tegasnya.

Ia menilai anak-anak yang saat ini berada di jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA perlu mendapatkan perhatian karena sangat dekat dengan teknologi informasi dan media sosial.

"Peredaran saat ini sudah bertransformasi, baik modus operandi peredarannya maupun jenis narkotikanya sendiri," ujarnya.

Keluarga Diminta Perkuat Daya Tangkal Anak

Leo juga meminta keluarga tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pencegahan narkotika kepada BNN maupun sekolah.

Orang tua, kata dia, harus menjadi bagian dari sistem deteksi dan pencegahan sejak dini.

"Kita harus memberikan daya tangkal di masing-masing individu," katanya.

Menurut Leo, program Sobat Bersinar dan IKAN merupakan bagian dari upaya BNN mempersempit ruang peredaran gelap narkotika dengan membangun ekosistem pencegahan di pemerintahan, sekolah, masyarakat dan komunitas.

"BNN tidak bisa bekerja sendiri. Ekosistem-ekosistem ini harus kita bangun bersama," pungkasnya.

Diskusi Ngopi Santuy tersebut dihadiri Ketua IWO Provinsi Bali Tri Widiyanti bersama jajaran Pengurus Wilayah IWO Bali. Hadir pula Ketua Pengurus Daerah IWO Kota Denpasar Bambang Supriyono, Sekretaris PD IWO Kota Denpasar Kande Putra, serta Ketua PD IWO Kabupaten Badung Rovinus Bou bersama pengurus dan anggota.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.