Slot Header 970×90

Pojok Narasi

BUDA URIP: MENGHIDUPKAN KEBIJAKSANAAN, MEMBUMIKAN PENGETAHUAN

Pojok Narasi Penulis: AAGN Ari Dwipayana

28 Oktober 2026 pukul 09.15 WITA · 5 menit baca

AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud
AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud

Oleh : AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud

Hari ini, Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Buda Pon Wuku Watugunung, yang dalam tradisi Hindu Bali dikenal sebagai Buda Urip. Rerainan jagat ini merupakan bagian dari rangkaian hari suci menjelang turunnya ilmu pengetahuan pada Hari Saraswati, Saniscara Umanis Wuku Watugunung.

Buda Urip bukan sekadar penanda waktu dalam kalender ritual Bali. Di dalamnya terkandung pesan filosofis yang mendalam tentang perjalanan manusia dalam memperoleh pengetahuan, menumbuhkan kebijaksanaan, dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.

Rangkaian itu dimulai dari Redite Kliwon Watugunung atau Watugunung Runtuh, dilanjutkan dengan Soma Pon Watugunung atau Sandang Wangke, kemudian Buda Pon Watugunung atau Buda Urip, hingga mencapai puncaknya pada Hari Saraswati.

Setiap tahapan mengandung pesan simbolik tentang transformasi diri manusia. Ketika pada Watugunung Runtuh manusia diajak meruntuhkan kesombongan dan keangkuhan egonya, maka pada Buda Urip manusia diajak menghidupkan kembali kesadaran Budhi, yakni kebijaksanaan yang membimbing pengetahuan dan tindakan.

Meruntuhkan Ego, Menghidupkan Budhi

Dalam kisah mitologi Watugunung, keruntuhan Prabu Watugunung dapat dimaknai sebagai simbol runtuhnya kesombongan manusia. Watugunung memiliki kekuasaan dan kemampuan luar biasa, tetapi kehilangan kendali atas hasrat dan egonya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kemampuan, kekuasaan, bahkan pengetahuan sekalipun dapat menjadi sumber kehancuran apabila tidak disertai kebijaksanaan.

Karena itu, setelah ego diruntuhkan, manusia tidak boleh berhenti pada kekosongan. Ada sesuatu yang harus dihidupkan, yakni kesadaran Budhi.

Inilah makna penting Buda Urip. Manusia tidak cukup hanya meruntuhkan kesombongannya. Ia harus membangun kesadaran baru yang memungkinkan dirinya menggunakan pengetahuan secara bijaksana.

Tanpa Budhi, keruntuhan Watugunung hanya akan menjadi peristiwa sementara. Ego yang telah diruntuhkan dapat tumbuh kembali, bahkan dalam bentuk yang lebih halus, yakni kesombongan intelektual, kesombongan spiritual, dan perasaan paling benar karena merasa memiliki pengetahuan.

Tri Antahkarana: Manah, Budhi, dan Ahamkara

Dalam filsafat Hindu, dikenal konsep Tri Antahkarana, yakni tiga unsur instrumen batin yang terdiri atas Manah, Budhi, dan Ahamkara. Ketiganya merupakan bagian penting dari perangkat batin manusia yang berkaitan dengan Sukshma Sarira atau Lingga Sarira.

Manah, merupakan unsur pikiran yang menerima, mengolah, dan mempertimbangkan berbagai informasi. Melalui Manah, manusia mengembangkan kemampuan berpikir, mempertanyakan, membandingkan, dan melakukan penalaran.

Budhi, merupakan kemampuan intelektual yang lebih tinggi, yakni daya membedakan, mempertimbangkan secara jernih, dan menentukan keputusan. Di sinilah Wiweka, kemampuan membedakan yang benar dan salah, yang baik dan buruk, serta yang patut dan tidak patut, memperoleh peran penting.

Sementara itu, Ahamkara merupakan kesadaran keakuan atau rasa diri sebagai subjek yang mengalami dan bertindak. Ahamkara memberikan rasa kepemilikan terhadap pengalaman dan tindakan, tetapi juga dapat berkembang menjadi egoisme apabila tidak dibimbing oleh Budhi.

Ketiga unsur ini tidak harus dipertentangkan. Semuanya memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam kehidupan manusia.

Manah memungkinkan manusia berpikir dan mengembangkan pengetahuan. Budhi memberikan kejernihan dan kebijaksanaan dalam menentukan pilihan. Sementara Ahamkara, apabila dituntun oleh Budhi, dapat menjadi kesadaran diri yang bertanggung jawab dalam mewujudkan keputusan melalui tindakan.

Persoalan muncul ketika ketiganya tidak bekerja secara selaras. Ketika pikiran berkembang tanpa kebijaksanaan, manusia dapat menjadi cerdas tetapi kehilangan arah moral. Ketika Ahamkara mendominasi, pengetahuan justru dijadikan alat untuk membesarkan keakuan.

Pengetahuan Tanpa Kebijaksanaan Melahirkan Watugunung Baru

Di sinilah relevansi Buda Urip bagi kehidupan kita sekarang. Kita hidup dalam zaman ketika pengetahuan berkembang sangat cepat. Informasi tersedia hampir tanpa batas. Teknologi memungkinkan manusia mengetahui banyak hal dalam waktu singkat.

Namun, bertambahnya pengetahuan tidak dengan sendirinya membuat manusia semakin bijaksana. Orang yang memiliki pendidikan tinggi belum tentu mampu menghargai perbedaan pendapat. Orang yang menguasai banyak pengetahuan agama belum tentu memiliki kerendahan hati. Bahkan, orang yang merasa paling memahami kebenaran dapat terjebak dalam sikap menyalahkan dan merendahkan orang lain.

Inilah paradoks pengetahuan. Sesuatu yang seharusnya membebaskan manusia dari kebodohan justru dapat melahirkan bentuk baru dari kesombongan.

Pengetahuan tanpa kebijaksanaan berpotensi melahirkan Watugunung-Watugunung baru.Watugunung tidak lagi hadir sebagai tokoh mitologi, tetapi menjelma dalam diri manusia yang merasa paling pintar, paling suci, paling berkuasa, dan paling benar.

Karena itu, Manah harus selalu disandingkan dengan Budhi. Kemampuan berpikir harus dibimbing oleh kebijaksanaan. Pengetahuan harus disertai kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri dan kesediaan belajar dari orang lain.

Semakin luas pengetahuan seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.

Dari Sastra ke Sastra Paraga

Namun, Buda Urip tidak cukup dimaknai hanya sebagai upaya menghidupkan kebijaksanaan dalam pikiran. Pengetahuan dan kebijaksanaan harus menemukan wujudnya dalam tindakan nyata.

Dalam tradisi Bali, kita mengenal ungkapan Sastra Paraga, yang dapat dimaknai sebagai pengetahuan atau ajaran yang telah menyatu dengan diri dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan.

Sastra tidak berhenti sebagai sesuatu yang dibaca, dihafalkan, atau diperdebatkan. Sastra harus menjadi laku hidup.

Di sinilah Ahamkara perlu ditempatkan secara tepat. Kesadaran tentang diri sebagai pelaku tindakan harus dibimbing oleh Budhi agar tidak berubah menjadi pemujaan terhadap diri sendiri.

Orang yang memahami ajaran tentang kasih sayang harus mampu menunjukkan kasih sayang kepada sesama. Orang yang memahami ajaran tentang kejujuran harus berani berlaku jujur. Orang yang memahami Dharma harus berusaha menjalankan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, terdapat tiga tahapan penting dalam proses pembelajaran manusia: Manah mengolah pengetahuan, Budhi membimbingnya dengan kebijaksanaan, dan kesadaran diri yang bertanggung jawab mewujudkannya dalam tindakan.

Pengetahuan yang tidak diwujudkan dalam tindakan hanya akan menjadi kumpulan kata-kata. Sebaliknya, tindakan tanpa pengetahuan dan kebijaksanaan dapat kehilangan arah dan bahkan menimbulkan kerusakan.

Buda Urip sebagai Jalan Menuju Saraswati

Rangkaian rerainan jagat menjelang Saraswati sesungguhnya dapat dibaca sebagai perjalanan spiritual dan intelektual manusia.

Watugunung Runtuh mengajarkan keberanian meruntuhkan ego. Sandang Wangke mengingatkan perlunya meninggalkan sifat-sifat lama yang membelenggu diri. Buda Urip mengajarkan pentingnya menghidupkan kebijaksanaan. Sementara Hari Saraswati menjadi momentum memuliakan ilmu pengetahuan sebagai anugerah suci.

Urutan ini mengandung pesan yang sangat penting: sebelum menerima pengetahuan, manusia harus terlebih dahulu mempersiapkan dirinya. Ia harus meruntuhkan kesombongan, membersihkan diri dari belenggu keakuan, dan menghidupkan kebijaksanaan.

Sebab, pengetahuan yang masuk ke dalam diri yang dikuasai ego hanya akan memperbesar kesombongan. Sebaliknya, pengetahuan yang diterima dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan akan menjadi sumber pencerahan.

Karena itu, Buda Urip mengingatkan kita bahwa tujuan belajar bukan sekadar menjadi orang yang tahu banyak, melainkan menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu menghadirkan kebaikan melalui tindakannya.

Pada akhirnya, Saraswati tidak cukup hanya dipuja sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Saraswati harus dihidupkan dalam cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak.

Buda Urip adalah momentum untuk memastikan bahwa setelah Watugunung dalam diri kita diruntuhkan, yang tumbuh bukanlah Watugunung baru, melainkan Budhi yang menerangi kehidupan.

Sebab, pengetahuan membuat manusia mengetahui banyak hal, tetapi kebijaksanaan membuat manusia mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dengan pengetahuannya.

Dan pengetahuan baru menemukan makna tertingginya ketika kebijaksanaan menjelma menjadi tindakan nyata bagi kebaikan sesama dan kehidupan.*

AAGN Ari Dwipayana
AAGN Ari DwipayanaPenulis Narasi

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.