DENPASAR, BALINEWS — Di balik semangkuk coto Makassar, terselip doa untuk kesembuhan, kerinduan pada kampung halaman, dan pesan bahwa hubungan pers dengan kepolisian dapat tumbuh melalui ketulusan serta kebersamaan.
Hubungan baik antara insan pers dan kepolisian tidak selalu harus dibangun melalui rapat resmi, konferensi pers, atau agenda kelembagaan. Terkadang, perhatian sederhana yang lahir dari ketulusan justru mampu menghadirkan kehangatan yang lebih bermakna.
Suasana itulah yang terasa di ruang press room Ghoshal Polda Bali, Kamis (22/10/2026), ketika jajaran Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali berkumpul bersama Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali, Kombes Pol. Ariasandy, S.I.K., dalam suasana makan siang yang akrab dan penuh kekeluargaan.
Bukan sekadar menikmati hidangan bersama, pertemuan tersebut membawa pesan sederhana tentang kepedulian. IWO Bali berinisiatif menggelar makan siang dengan menyajikan coto Makassar, kuliner khas Sulawesi Selatan yang lekat dengan kenangan kampung halaman sang pejabat.
Bagi Ariasandy, yang memiliki akar keluarga dan daerah di Sulawesi Selatan, hidangan tersebut bukan hanya soal cita rasa. Ada kerinduan pada tanah kelahiran yang seolah terobati melalui makanan yang mengingatkan seseorang pada asal-usulnya.
Ketua IWO Bali, Tri Widiyanti, yang akrab disapa Widy, mengatakan, “Ini bentuk spontanitas rekan-rekan IWO. Kebetulan momennya pas Pak Kabid sedang sakit. Jadi, kami mendoakan semoga beliau lekas pulih melalui makan bersama dengan hidangan khas kampung halamannya, Makassar,” ungkap Widy.
Bagi Widy dan rekan-rekannya, di tengah kesibukan tugas dan tanggung jawab masing-masing, makan siang bersama menjadi ruang untuk berbincang lebih santai. Suasana yang cair membuka kesempatan bagi para peserta untuk saling mengenal di luar rutinitas formal.
Dalam pertemuan itu, coto Makassar menjadi penghubung sederhana antara kenangan pribadi dan persahabatan di tanah perantauan.
Ariasandy, yang didampingi AKBP Rina Isriana Dewi, S.I.K., selaku Kasubbid Penerangan Masyarakat (Penmas) Bidhumas Polda Bali, menyambut baik suasana kebersamaan tersebut.
Menurutnya, “kedekatan antara jajaran Humas Polda Bali dan rekan-rekan media tidak harus selalu dibangun melalui kegiatan formal. Pertemuan informal, termasuk makan siang bersama, juga dapat menjadi sarana untuk mempererat komunikasi dan memperkuat sinergi. Ujarnya.
Ia juga mengapresiasi sajian makanan khas daerah asalnya yang menghadirkan nuansa akrab dan membangkitkan kerinduan terhadap masakan kampung halaman.
Kedekatan semacam ini tetap perlu berjalan seiring dengan independensi jurnalistik. Hubungan yang baik bukan berarti menghilangkan sikap kritis, melainkan membuka ruang komunikasi yang sehat, transparan, dan saling menghormati dalam menjalankan tugas masing-masing.
Pers tetap memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik, sementara kepolisian berkepentingan membangun komunikasi yang terbuka dengan masyarakat melalui media.
Dalam kegiatan tersebut, Tri Widiyanti hadir didampingi Sekretaris IWO Bali, Widya, serta jajaran pengurus dan anggota IWO Provinsi Bali. Turut hadir Sekretaris Pengurus Daerah (PD) IWO Kota Denpasar, Ir. Ngakan Made Putra Parmadi, S.T., M.T., yang akrab disapa Kande, serta Ketua PD IWO Kabupaten Badung, Rovinus Bou, Beserta bung Giostanovlatto, Pendiri Hey Bali & Kepala Biro Lambe Turah Bali.
Widy berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus dipelihara melalui komunikasi dan kolaborasi yang positif. Menurutnya, sinergi antara IWO Bali dan Polda Bali perlu dibangun secara berkelanjutan dengan tetap menghormati peran, fungsi, dan tanggung jawab masing-masing.
Harapan tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipercaya. Komunikasi yang terbuka antara media dan kepolisian dapat membantu memperlancar penyampaian informasi kepada publik, sepanjang tetap memberi ruang bagi verifikasi, pertanyaan kritis, dan independensi redaksi.
Kegiatan tersebut mengingatkan bahwa membangun hubungan tidak selalu membutuhkan acara besar atau seremoni panjang. Terkadang, semangkuk makanan khas daerah, waktu yang diluangkan, dan perhatian yang diberikan dengan tulus sudah cukup untuk menciptakan kedekatan.
Pada akhirnya, sinergi antara pers dan kepolisian bukan hanya tentang seberapa sering kedua pihak bertemu dalam agenda resmi. Lebih dari itu, sinergi perlu tumbuh dari komunikasi yang sehat, rasa saling menghormati, dan kesadaran bahwa keduanya memiliki tanggung jawab berbeda yang sama-sama bersentuhan dengan kepentingan publik.
Dari makan siang sederhana bersama coto Makassar di Bali, tersampaikan sebuah pesan kemanusiaan, jabatan boleh berbeda, tugas boleh berlainan, tetapi kepedulian tetap menjadi bahasa yang dapat dipahami siapa saja.

