GIANYAR, BALINEWS.ID – Dampak situasi geopolitik global mulai dirasakan pelaku industri pariwisata di Bali. Penurunan tingkat hunian hotel dan vila terjadi akibat pembatalan perjalanan wisatawan mancanegara, seiring terganggunya akses penerbangan dan kenaikan biaya operasional.
Salah satu yang terdampak adalah Swan Paradise yang berlokasi di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh. Manajemen mencatat penurunan tingkat hunian hingga sekitar 40 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Sales Manager Swan Paradise, Ni Kadek Karina, mengungkapkan bahwa kondisi global memicu pembatalan reservasi dari wisatawan asing.
“Kondisi geopolitik berpengaruh langsung, banyak booking dibatalkan karena penerbangan terganggu. Kenaikan harga BBM juga ikut berdampak,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, manajemen hotel mulai mengalihkan strategi dengan menyasar pasar domestik serta mengoptimalkan potensi penyelenggaraan acara, khususnya pernikahan.
Konsep yang ditawarkan menggabungkan fasilitas dalam ruangan melalui ballroom serta area luar ruang dengan suasana alam terbuka. Sejumlah pasangan dari luar negeri, seperti India dan Kamboja, tercatat telah memesan paket pernikahan di lokasi tersebut.
Menurut Karina, konsep resort yang berada di kawasan pedesaan dengan panorama tebing menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi tamu yang menginginkan suasana privat.
“Konsep kami lebih ke lokasi yang tenang dan eksklusif. Jadi acara bisa berlangsung lebih leluasa tanpa mengganggu lingkungan sekitar,” jelasnya.
Hingga saat ini, permintaan penyelenggaraan pernikahan telah mencapai lima pasangan. Tiga di antaranya telah melakukan pembayaran, sementara dua lainnya masih dalam tahap konfirmasi.
Dengan strategi tersebut, pelaku usaha berharap dapat menjaga tingkat okupansi di tengah tekanan global, sekaligus memperkuat diversifikasi pasar pariwisata di Bali. (*)
