BALINEWS - Foto sekelompok remaja berpose membawa senjata tajam (sajam) sempat ramai di media sosial dengan narasi bahwa lokasinya di Renon, Denpasar. Kini Polresta Denpasar angkat bicara.
Dalam siaran pers yang diterima Balinews, Kamis (5/11/2026), Polresta Denpasar menyatakan memperkuat patroli di kawasan Lapangan Renon dan akan mendalami informasi yang beredar, termasuk foto tersebut. Polisi juga menanggapi maraknya keributan dan perkelahian di kawasan itu, dengan mengedepankan pencegahan, pendekatan persuasif, dan penegakan hukum secara terukur.
Patroli oleh Sat Samapta ditingkatkan lewat Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD), terutama pada jam rawan, yakni malam hingga dini hari. Pengawasan difokuskan pada titik yang berpotensi menjadi tempat berkumpul kelompok remaja dan lokasi gesekan. Polisi menegaskan akan menindak sesuai hukum bila ditemukan penganiayaan, perkelahian, atau membawa sajam tanpa hak.
Siaran pers tidak menjelaskan apakah foto dan lokasinya sudah terverifikasi, dan tidak memuat laporan korban maupun penangkapan. Warga diimbau tidak mudah terprovokasi unggahan yang belum terverifikasi dan segera melapor bila mengetahui kelompok yang membawa sajam.

Tanggapan GPS
Sebelumnya, advokat dan politisi Gede Pasek Suardika (GPS) menyampaikan pandangan lewat pesan tertulis kepada Balinews, Rabu (4/11/2026) malam. Ia meminta Gubernur Bali, sebagai penanggung jawab pengelolaan kawasan Lapangan Niti Mandala Renon, membuat sistem dan penataan yang menciptakan rasa aman.
“Polisi harus antisipasi dengan cepat, dan Gubernur Bali sebagai penanggung jawab pengelolaan kawasan lapangan Niti Mandala Renon harus membuat sistem dan penataan yang bisa menciptakan rasa aman di sana,” kata GPS.
GPS juga meminta Kapolda Bali memberi perhatian serius pada kelompok tersebut. Menurut dia, kelompok yang mengatasnamakan daerah rawan memicu persoalan SARA. Ia menegaskan, tindakan segelintir orang tidak boleh merugikan warga pendatang lain yang datang untuk bekerja.
Tanggapan Ikatan Keluarga Sumba Barat Daya
Dihubungi lewat telepon, Ketua Ikatan Keluarga Sumba Barat Daya di Bali, Samuel S. Kalumbang, mengaku belum pernah mendengar kabar tentang kelompok itu dan belum bisa memastikan asalnya.
“Saya sendiri belum bisa memastikan bahwa itu adalah perkumpulan gangster dari Sumba bagian Kodi, karena belum ada pembaruan atau laporan,” ujarnya.
Samuel berharap aparat keamanan bersama tokoh masyarakat memberi edukasi kepada anak-anak yang membawa sajam. Ia meminta komunitasnya dilibatkan dalam penanganan bersama Polda Bali.
Identitas, asal, serta lokasi dan waktu pengambilan foto dalam unggahan yang beredar hingga kini belum diverifikasi.


