JAKARTA, BALINEWS — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Indonesia melonjak menjadi 559 titik hingga Minggu (27/9) pukul 21.10 WIB. Angka tersebut meningkat 228 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 331 titik.
Data pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan peningkatan paling tajam terjadi di Kalimantan Tengah. Jumlah hotspot high confidence di provinsi tersebut naik dari 30 titik menjadi 134 titik.
Selain Kalimantan Tengah, peningkatan juga terjadi di Kalimantan Barat dan Jambi. Sementara Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan mencatat penurunan, sedangkan Riau tetap nihil hotspot high confidence.
Rinciannya, Kalimantan Tengah mencatat 134 titik, naik dari 30 titik. Sumatera Selatan 29 titik, turun dari 38 titik. Kalimantan Selatan 25 titik, turun dari 40 titik. Kalimantan Barat 11 titik, naik dari 2 titik. Jambi 5 titik, naik dari 1 titik. Adapun Riau nihil hotspot high confidence, sama seperti pemantauan sebelumnya.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas tersebut mencatat 204 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, meningkat dari 111 titik sehari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan menyatakan peningkatan titik panas langsung ditindaklanjuti melalui verifikasi lapangan dan penguatan operasi, terutama di Kalimantan Tengah. Patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan dilakukan untuk mencegah api meluas dan kembali muncul.
Kementerian Kehutanan menjelaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, jumlah titik panas tidak dapat disamakan secara langsung dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
61 Armada Udara Disiagakan
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla secara nasional. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sementara 44 unit lainnya dikerahkan untuk operasi water bombing.
Dari jumlah tersebut, 55 unit mendukung operasi di enam provinsi prioritas. Enam unit water bombing lainnya ditempatkan untuk membantu wilayah terdampak lainnya.
Operasi udara dilakukan bersamaan dengan operasi darat Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta pihak terkait lainnya.
OMC juga tetap dilakukan untuk membantu pembasahan wilayah rawan. BMKG mencatat pelaksanaan OMC untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah pada 22-27 September 2026 dan di Kalimantan Selatan pada 22-26 September 2026.
Sejumlah Wilayah Kalimantan Masuk Kategori Tidak Sehat
Pemantauan kualitas udara berbasis PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Kondisi udara dan jarak pandang dapat berubah mengikuti konsentrasi partikulat, asap, angin, dan kondisi cuaca. Prakiraan BMKG untuk Pontianak pada periode 27-28 September menunjukkan potensi udara kabur dan hujan ringan dengan jarak pandang sekitar dua kilometer.
BMKG pada Minggu (27/9) juga mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Hujan dapat membantu proses pembasahan lahan. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena bara pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran.
Warga Diminta Waspadai Asap dan Satwa Terdampak
Kementerian Kehutanan mengingatkan dampak karhutla tidak hanya mengancam masyarakat, tetapi juga habitat dan keselamatan satwa liar.
Masyarakat yang menemukan satwa liar keluar dari habitatnya atau berada di sekitar wilayah terdampak kebakaran diminta tidak menangkap maupun melakukan evakuasi secara mandiri. Warga diminta menjaga jarak, mencatat lokasi dan kondisi satwa jika memungkinkan, kemudian melaporkannya kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan penggunaan masker dianjurkan saat harus beraktivitas di luar.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus.
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Setiap temuan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran diminta segera dilaporkan agar dapat ditangani sedini mungkin.

