JAKARTA, BALINEWS — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan pentingnya melanjutkan warisan kebijakan para pendahulu dalam pengelolaan sektor pertambangan dan energi nasional.
Pesan tersebut disampaikan Yuliot saat memimpin ziarah dan tabur bunga ke makam para mantan Menteri Pertambangan dan Energi di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81.
Yuliot mengatakan para mantan Menteri Pertambangan dan Energi tidak hanya meninggalkan catatan sejarah, tetapi juga berbagai kebijakan dan pekerjaan yang perlu diteruskan oleh generasi saat ini.
“Dari menteri-menteri tersebut, cukup banyak yang meninggalkan warisan dan juga pekerjaan-pekerjaan yang perlu diteruskan,” ujar Yuliot seusai kegiatan ziarah.
Menurut Yuliot, perkembangan sektor pertambangan dan energi Indonesia berlangsung secara bertahap. Pengelolaan sektor tersebut pada awalnya berfokus pada minyak dan gas bumi, kemudian berkembang ke batu bara hingga mineral.
Setiap menteri, kata dia, memiliki kontribusi dalam membangun kebijakan sesuai dengan tantangan yang dihadapi pada masanya.
Salah satu tokoh yang disoroti Yuliot adalah Subroto, yang menjabat Menteri Pertambangan dan Energi pada 1978–1988. Subroto dinilai memiliki peran dalam meletakkan sejumlah dasar kebijakan yang kemudian berkembang di Kementerian ESDM.
Yuliot menyebut tiga warisan utama dari Subroto, yakni pembinaan organisasi kementerian, penguasaan dan keberpihakan negara terhadap sumber daya alam khususnya minyak dan gas bumi, serta program penghematan energi.
Kiprah Subroto juga berlanjut di tingkat internasional setelah dirinya dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).
Selain Subroto, Yuliot menyinggung kebijakan subsidi energi pada era Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Saat itu, subsidi diterapkan melalui dua skema, yakni subsidi terbuka untuk bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi tertutup untuk LPG.
“Jadi subsidi tepat sasaran itu juga sudah dimulai pada zaman Pak Darwin. Inilah yang kita lihat sebagai keberlanjutan kebijakan-kebijakan dari menteri-menteri sebelumnya,” kata Yuliot.
Memasuki usia ke-81, sektor pertambangan dan energi terus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam.
Fondasi kebijakan yang dibangun para pendahulu menjadi bagian dari perjalanan pengelolaan sektor energi Indonesia, termasuk dalam menghadapi tantangan penyediaan energi melalui pemanfaatan sumber daya, konservasi, dan diversifikasi energi.
Yuliot mengatakan keberlanjutan kebijakan tersebut diperlukan agar pengelolaan energi tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang.

