Slot Header 970×90

IWO Bali Buka Ruang Diskusi Publik, Nyoman Suyasa Kupas Progres Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi

Oleh Fery Fadli · null

31 Oktober 2026 pukul 00.47 WITA · 3 menit baca

Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, Nyoman Suyasa, ST.
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, Nyoman Suyasa, ST.

DENPASAR, BALINEWS – Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Bali terus memperkuat peran pers sebagai jembatan informasi dan kontrol sosial melalui kegiatan diskusi bulanan bertajuk #ngopisantuy. Kali ini, IWO Bali menghadirkan Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, Nyoman Suyasa, ST., untuk membahas perkembangan pariwisata dan infrastruktur di Bali.

Kegiatan yang berlangsung di sebuah warung kopi sederhana di Denpasar, Jumat (30/10/2026), tersebut dihadiri Ketua IWO Provinsi Bali, Tri Widiyanti, Ketua PD IWO Kota Denpasar beserta jajaran, Ketua PD IWO Kabupaten Badung beserta jajaran, serta pengurus dan anggota IWO Bali.

Diskusi dikemas dalam suasana santai namun tetap serius. Sejumlah persoalan aktual yang menjadi perhatian masyarakat Bali menjadi topik pembahasan, mulai dari perkembangan pariwisata, kemacetan, pembangunan infrastruktur, hingga progres rencana pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi.

Ketua IWO Provinsi Bali, Tri Widiyanti, mengatakan program #ngopisantuy dirancang sebagai agenda rutin setiap bulan dengan menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh di Bali sebagai narasumber.

Melalui kegiatan ini, IWO Bali ingin membangun ruang komunikasi yang terbuka antara insan pers dan para pemangku kebijakan. Wartawan juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan kritis yang mewakili aspirasi masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, Nyoman Suyasa yang juga merupakan Ketua Komisi III DPRD Bali dari Fraksi Partai Gerindra menjelaskan bahwa perkembangan pariwisata harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur serta pengendalian tata ruang.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi. Menanggapi pertanyaan wartawan mengenai progres proyek tersebut, Suyasa menyampaikan bahwa berdasarkan informasi terakhir yang diketahuinya, proses pembangunan masih berjalan dalam tahap perencanaan dan penyiapan lahan.

Ia menjelaskan, persoalan pembebasan lahan menjadi salah satu tantangan utama dalam pembangunan jalan tol karena melibatkan banyak pemilik tanah sehingga membutuhkan proses negosiasi yang tidak sederhana.

"Konsekuensi dari pembukaan jalan baru itu adalah ketersediaan lahan. Karena lahan itu harus dibeli dan dimiliki banyak penduduk, proses negosiasi tentunya mengalami hambatan," ungkap Suyasa.

Ia juga menjelaskan bahwa terdapat perubahan skema trase dalam rencana pembangunan jalan tol tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, rencana pembangunan yang sebelumnya mencakup jalur Gilimanuk hingga menuju Pekutatan (Jembrana) mengalami perubahan, sehingga pembangunan kini difokuskan pada skema yang berbeda.

Sementara itu, ruas Gilimanuk–Pekutatan disebut membutuhkan penanganan melalui perbaikan dan pelebaran jalan. Adapun pembangunan jalan tol direncanakan pada ruas lanjutan menuju kawasan Soka hingga Mengwi.

Menurut Suyasa, pembangunan infrastruktur tersebut sangat penting untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, khususnya pada jalur Gilimanuk–Mengwi yang selama ini menjadi salah satu jalur dengan tingkat kepadatan tinggi.

Ia menyebutkan, perjalanan pada jalur tersebut dalam kondisi tertentu dapat menghabiskan waktu hingga empat jam atau lebih. Kehadiran jalan tol diharapkan mampu mengurangi kemacetan, meningkatkan keselamatan, serta memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun wisatawan.

Pembahasan juga menyinggung pentingnya pengembangan transportasi umum di kawasan pariwisata, termasuk penyediaan fasilitas pendukung seperti area parkir agar masyarakat dan wisatawan dapat beralih menggunakan angkutan umum.

Sebagai Ketua Komisi III DPRD Bali yang membidangi pembangunan, termasuk pekerjaan umum, tata kota, perhubungan, lingkungan hidup, perumahan rakyat, serta sejumlah sektor strategis lainnya, Suyasa menilai pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara terencana dan memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Melalui diskusi #ngopisantuy, IWO Bali berharap berbagai persoalan pembangunan di Pulau Dewata dapat dibahas secara terbuka, sekaligus mendorong lahirnya solusi yang dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah dan pemangku kepentingan.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen IWO Bali untuk menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengawal kebijakan publik melalui pertanyaan, kritik, dan aspirasi masyarakat.

Dengan konsep sederhana ditemani secangkir kopi Bali, #ngopisantuy diharapkan menjadi ruang diskusi yang konsisten, kritis, dan produktif bagi insan pers serta para tokoh dan pemangku kebijakan di Bali.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.