Kasus Beras Oplosan: Mentan Ungkap 85% Tak Sesuai Standar

Share:

Ilustrasi (sumber: Pixabay)

NASIONAL, Balinews.id – Praktek kecurangan dalam distribusi beras nasional kini tengah jadi sorotan. Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI pada Rabu (16/7/25), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman diminta menjelaskan secara rinci berbagai kejanggalan yang ditemukan dalam rantai distribusi beras nasional.

Menurut Amran, sejak Mei 2025, terjadi ketidaksesuaian antara harga di tingkat produsen dan harga di pasaran. Petani dan penggilingan mengalami penurunan harga, namun harga beras di tingkat konsumen justru naik. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar.

BACA JUGA :  Orang Bali Harus Jadi Tuan di Rumahnya Sendiri

Lebih mencengangkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi beras justru naik sebesar 14 persen atau sekitar tiga juta ton dibanding kebutuhan nasional. Namun, lonjakan produksi itu tidak berbanding lurus dengan penurunan harga di pasar.

Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan terhadap 268 merek beras dari 10 provinsi penghasil utama, yang diuji di 13 laboratorium. Hasilnya mengungkap praktik curang yang cukup serius dalam peredaran beras di pasar.

Amran menyampaikan bahwa 85 persen beras yang beredar tidak memenuhi standar kualitas. Beras curah dikemas ulang dan dijual sebagai beras dengan kualitas lebih tinggi. Bahkan, banyak kasus di mana beras medium diklaim sebagai beras premium, dan sebagian beras dioplos dengan kualitas yang lebih rendah.

BACA JUGA :  Mengapa Kebanyakan Chef Menggunakan Seragam Putih?

“Kemudian ini 85% yang tidak sesuai standar. Ada yang dioplos, ada yang tidak dioplos, langsung ganti kemasan. Jadi ini semua beras curah tetapi dijual harga premium. Beras curah tetapi dijual harga medium,” ujarnya.

Kementerian Pertanian bersama Satgas Pangan sebelumnya juga telah menemukan kasus-kasus pengoplosan beras premium yang ternyata berisi beras biasa atau menengah.

Mentan Amran menegaskan bahwa praktik manipulatif ini merugikan semua pihak, terutama konsumen dan petani, serta merusak citra sistem tata niaga beras di Indonesia. Ia menganggap saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perbaikan menyeluruh terhadap sistem distribusi beras nasional. (*)

BACA JUGA :  35 Ribu Korban PHK Klaim BPJS Ketenagakerjaan, Nilainya Capai Rp 161 M!

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Lainnya

NASIONAL, BALINEWS.ID - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) memutuskan untuk menon-aktifkan Eko Hendro Purnomo atau...
NASIONAL, BALINEWS.ID - Partai NasDem resmi menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari keanggotaan DPR RI Fraksi NasDem,...
NASIONAL, BALINEWS.ID - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) akhirnya memecat Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari anggota DPR RI...
DENPASAR, BALINEWS.ID – Aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di depan Gedung DPRD Bali, Renon, Denpasar, Sabtu (30/8)...

Breaking News

Berita Terbaru
MDA
SMA
AS
LSD
GWK
BBM
P3K
BSU
DLH
OTA
CSR
BK
HIV
ABK
Teh
LPG
SIM
PNS
NTT
STT
PBB
PON
Bir
PMI
DIY
SBY
BCL
Art
SMP
PAW
IKN
PHK
NIK
USG
Pil
ATM
atv
DPR
AHY
kos
PSN
IU
PKB
ASN
KPK
BNN
PAD
TKP
KAI
SEO
BSN
Tas
lpd
5km
Run
Sar
UKT
tni
bkk
PLN
api
KTP
KEK
MoU
Kue
WNA
PMK
BPS