Slot Header 970×90

Kembali Pimpin ASITA Bali, Ketua DPD Dorong Pariwisata Regeneratif dan Berkelanjutan

Oleh Fery Fadli · null

16 Oktober 2026 pukul 13.46 WITA · 3 menit baca

Kembali Pimpin ASITA Bali, Ketua DPD Dorong Pariwisata Regeneratif dan Berkelanjutan

JIMBARAN, BALINEWS — Musyawarah Daerah (MUSDA) XV ASITA Bali 2026 menjadi momentum bagi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali untuk memperkuat peran industri perjalanan wisata dalam mendorong pariwisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Mengusung tema “Repositioning the Future of Tourism”, MUSDA XV ASITA Bali digelar di Hotel InterContinental Jimbaran, Bali, Jumat (16/10/2026). Dalam forum tersebut, Ketua DPD ASITA Bali menyampaikan pentingnya transformasi organisasi, dari sekadar pelaku bisnis perjalanan menjadi salah satu penggerak pariwisata yang bertanggung jawab melalui konsep regenerative tourism.

Konsep tersebut menekankan pariwisata yang tidak hanya mengurangi dampak negatif terhadap destinasi, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, kebudayaan, dan kesejahteraan masyarakat.

Ketua DPD ASITA Bali menegaskan, industri pariwisata perlu mengevaluasi manfaat kunjungan wisatawan, termasuk dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

“ASITA bukan hanya dapat menjadi distributor wisatawan, tetapi juga dapat menjadi pengarah perjalanan menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, lebih bermakna, dan lebih memberikan manfaat bagi destinasi,” ujarnya dalam sambutan MUSDA XV ASITA Bali.

Menurutnya, ASITA memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan perjalanan wisatawan, mulai dari pemilihan destinasi, aktivitas wisata, hingga produk dan pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Melalui jaringan biro perjalanan wisata, ASITA dapat mendorong wisatawan mengunjungi desa wisata, membeli produk lokal, menghargai budaya setempat, menjaga lingkungan, serta memperpanjang masa tinggal sehingga manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, masyarakat, akademisi, media, dan komunitas untuk menjawab berbagai tantangan pariwisata Bali.

“Pariwisata Bali tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Semua pemangku kepentingan harus bergerak dalam arah yang sama,” katanya.

Dalam sambutannya, ia menyebutkan bahwa ASITA Bali selama ini menjalankan berbagai program untuk memperkuat promosi dan jejaring industri pariwisata, termasuk Bali and Beyond Travel Fair (BBTF), BALI Tourism Run, dan SAKIRA.

BBTF disebut mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan pembeli dari 44 negara dan melibatkan lebih dari 1.000 peserta. ASITA Bali juga menjalin kolaborasi dengan sejumlah destinasi, antara lain Monkey Forest Ubud, Jatiluwih, dan Pura Besakih.

Ia mengungkapkan, sekitar 63 persen kunjungan wisatawan secara offline ke Bali turut didorong melalui jaringan dan aktivitas anggota ASITA Bali. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran biro perjalanan dalam mendatangkan wisatawan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kualitas destinasi.

Melalui program ASITA Care, organisasi tersebut juga berupaya memperkuat kepedulian terhadap masyarakat, lingkungan, dan ekosistem pariwisata.

Sementara itu, tema “Repositioning the Future of Tourism” dinilai menjadi dorongan bagi ASITA untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, perubahan pola perjalanan, dinamika pasar, serta meningkatnya tuntutan wisatawan terhadap kualitas pengalaman dan keberlanjutan destinasi.

ASITA Bali diharapkan tidak hanya berorientasi pada transaksi dan jumlah kunjungan, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman wisata yang bermakna serta berkontribusi terhadap pelestarian alam dan budaya Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPD ASITA Bali juga menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya untuk memimpin organisasi tersebut.

Ia menegaskan kesiapannya melanjutkan program yang telah berjalan, membenahi hal-hal yang masih perlu diperbaiki, memperkuat persatuan anggota, serta meningkatkan kontribusi ASITA bagi industri pariwisata Bali.

Menurutnya, kepemimpinan dalam organisasi bukan semata-mata mengenai jabatan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan anggota dan memastikan organisasi tetap relevan menghadapi tantangan masa depan.

“Jabatan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian tidak pernah memiliki batas,” ujarnya.

Ia berharap ASITA Bali dapat terus memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, kementerian, asosiasi, dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

Dengan demikian, pariwisata Bali diharapkan tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah kunjungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, dan mempertahankan nilai-nilai budaya.

MUSDA XV ASITA Bali 2026 diharapkan menghasilkan gagasan dan kepemimpinan yang mampu memperkuat organisasi sekaligus mendorong masa depan pariwisata Bali yang lebih berkelanjutan, berbudaya, dan bermartabat.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.