Slot Header 970×90

Kemenkes: Jangan Panic Buying Oseltamivir, Obat Hanya untuk Influenza Berat

Oleh Fery Fadli · null

29 September 2026 pukul 17.30 WITA · 4 menit baca

Kemenkes: Jangan Panic Buying Oseltamivir, Obat Hanya untuk Influenza Berat

JAKARTA, BALINEWS — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat tidak melakukan panic buying atau membeli Oseltamivir secara berlebihan di tengah meningkatnya kasus influenza sejak September 2026. Pemerintah menegaskan obat antivirus tersebut bukan untuk dikonsumsi sebagai langkah pencegahan, melainkan diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama bagi pasien influenza berat dan kelompok berisiko tinggi.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia mengatakan mayoritas kasus influenza dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak membutuhkan obat antivirus.

“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Obat ini hanya boleh diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama untuk pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit,” ujar Lucia dalam konferensi pers perkembangan situasi dan penanganan influenza di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Kenaikan kasus influenza sejak September disebut merupakan pola musiman tahunan yang juga terjadi di sejumlah negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia, virus yang saat ini paling banyak ditemukan adalah influenza A(H1N1)pdm09.

Kemenkes juga meluruskan istilah “super flu” yang beredar di masyarakat. Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Andi Saguni mengatakan istilah tersebut tidak dikenal dalam nomenklatur resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Kemenkes.

Menurut Andi, istilah “super flu” yang digunakan masyarakat merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K. Namun, kasus varian tersebut di Indonesia justru mengalami penurunan tajam.

“Berdasarkan pemantauan kami, kasusnya di Indonesia menurun drastis,” kata Andi.

Data surveilans ILI-SARI (Surveillance Influenza-Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection) hingga pekan ke-38 2026 menunjukkan terdapat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan. Angka tersebut menghasilkan positivity rate sekitar 17 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 24 persen.

Sementara itu, influenza A(H3N2) subclade K tercatat hanya 22 kasus sepanjang 2026. Jumlah tersebut turun signifikan dibandingkan 166 kasus pada 2025. Kemenkes juga mencatat tidak ada penambahan kasus subclade K sejak April lalu.

Pemantauan dilakukan melalui 35 rumah sakit, 39 puskesmas, 13 balai laboratorium kesehatan masyarakat, dan 14 balai karantina kesehatan di seluruh Indonesia.

Oseltamivir Diprioritaskan untuk Pasien yang Membutuhkan

Untuk mengantisipasi kebutuhan medis, Kemenkes telah mendistribusikan Oseltamivir ke 196 rumah sakit dan masih mengupayakan tambahan pasokan.

Pengadaan dilakukan melalui dua jalur, yakni memaksimalkan produksi dalam negeri dan menggunakan jalur importasi khusus untuk mengatasi keterlambatan dari produsen lokal.

Lucia mengatakan pemerintah menggunakan data surveilans untuk menghitung kebutuhan obat, bukan berdasarkan kepanikan masyarakat.

“Kami menggunakan data surveilans sebagai dasar perencanaan kebutuhan obat, bukan berdasarkan kepanikan. Setiap tablet akan diarahkan kepada pasien yang paling membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan,” ujarnya.

Dari sisi medis, Dokter Konsultan Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas Pompini Agustina Sitompul menjelaskan bahwa influenza pada umumnya merupakan self-limiting disease, yakni penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan istirahat cukup dan pemenuhan kebutuhan cairan.

Antivirus, kata Pompini, terutama diindikasikan untuk pasien dengan kondisi berat yang membutuhkan bantuan oksigen. Obat tersebut juga dapat diberikan kepada kelompok rentan berdasarkan penilaian medis, antara lain anak di bawah lima tahun, lansia berusia di atas 65 tahun, ibu hamil, penderita penyakit penyerta atau komorbid, serta pasien dengan sistem imun lemah (immunocompromised).

Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana menambahkan, bukti ilmiah juga menunjukkan manfaat Oseltamivir pada pasien influenza tanpa komplikasi relatif terbatas.

Dewi memaparkan hasil meta-analisis terhadap sekitar 2.500 anak rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi. Studi tersebut menemukan pemberian Oseltamivir hanya memperpendek durasi sakit rata-rata sekitar 18 jam atau kurang dari satu hari dibandingkan plasebo.

Manfaat tersebut secara signifikan terutama terlihat jika obat diberikan kurang dari 24 jam sejak munculnya gejala pada anak berusia di bawah enam tahun tanpa riwayat asma.

“Secara klinis, belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat bermakna dalam memperpendek lama sakit pada anak dengan influenza tanpa komplikasi,” kata Dewi.

Penelitian yang dipaparkan Dewi juga menunjukkan risiko muntah pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir 1,6 kali lebih tinggi. Penggunaan antivirus tanpa indikasi medis juga berisiko meningkatkan resistensi virus terhadap obat.

Kemenkes sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik untuk influenza, kecuali terdapat bukti infeksi sekunder yang disebabkan bakteri.

Kemenkes Minta Masyarakat Kenali Tanda Bahaya

Lucia mengatakan masyarakat tidak perlu merespons kenaikan kasus influenza dengan membeli obat secara berlebihan. Menurut dia, langkah yang lebih penting adalah mengenali gejala dan tanda bahaya serta mencari pertolongan medis pada waktu yang tepat.

“Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat,” ujar Lucia.

Kemenkes menganjurkan masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat berada di keramaian atau ketika sedang sakit, menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza setiap tahun.

Kemenkes juga telah menerbitkan surat edaran mengenai kewaspadaan influenza kepada dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.