WASHINGTON, BALINEWS — Larangan ekspor diesel yang diusulkan oleh pemerintah Amerika Serikat dapat menyebabkan kenaikan harga bahan bakar secara global.
Para ahli energi memperingatkan bahwa langkah ini akan berdampak luas pada pasar energi yang sudah bergejolak.
Harga diesel di AS telah mencapai rekor tertinggi, dengan rata-rata $6,50 per galon pada Jumat (25/9/2026), naik dari $5,61 sebulan sebelumnya. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, serta perang antara Rusia dan Ukraina, telah mengganggu jalur perdagangan minyak utama.
Menurut laporan Al Jazeera, meskipun AS adalah pengekspor diesel terbesar di dunia, larangan ekspor dapat mendorong harga bahan bakar lebih tinggi, baik di dalam negeri maupun internasional.
Para analis memperingatkan bahwa hal ini dapat mengurangi pasokan global dan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan bahan bakar.
Rachel Ziemba dari Center for a New American Security mengatakan bahwa meskipun kilang AS beroperasi pada kapasitas penuh, kesenjangan global tetap ada.
Pasokan diesel AS juga menyusut, dengan inventaris turun ke level terendah dalam lebih dari empat dekade.
Pemerintah AS belum mengumumkan kebijakan resmi terkait larangan ekspor ini. Namun, para pemimpin di Washington mempertimbangkan untuk mendorong perusahaan AS menghentikan atau memperlambat ekspor diesel untuk menurunkan biaya domestik.
Kenaikan harga bahan bakar global dapat mempengaruhi biaya hidup di Indonesia, yang bergantung pada impor energi.

