BALINEWS.ID – Teba merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan ruang tradisional Bali. Dalam konsep permukiman Bali, teba merujuk pada area kosong di bagian belakang pekarangan rumah yang secara turun-temurun dimanfaatkan sebagai tempat pengolahan sampah organik, kandang ternak, serta ruang hijau alami. Seiring perkembangan zaman dan perubahan pola hunian, fungsi teba mengalami transformasi menjadi konsep yang lebih adaptif, yang kini dikenal sebagai teba modern.
Teba modern merupakan pengembangan dari konsep teba tradisional yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini, terutama di kawasan perkotaan dengan keterbatasan lahan. Jika dahulu teba identik dengan area terbuka yang luas dan cenderung tidak tertata, teba modern dirancang lebih efisien, bersih, dan fungsional, tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang melekat di dalamnya.
Salah satu fungsi utama teba modern adalah sebagai sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan diolah melalui metode komposting, lubang biopori, atau bank sampah organik skala kecil. Dengan cara ini, teba modern membantu mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir sekaligus mendorong praktik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Selain itu, teba modern juga berperan sebagai ruang resapan air dan area hijau. Kehadiran vegetasi dan sistem resapan memungkinkan air hujan terserap ke dalam tanah secara optimal, sehingga dapat mengurangi risiko genangan dan menjaga ketersediaan air tanah. Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, fungsi ini menjadi semakin relevan dan strategis.
Dari sisi sosial dan budaya, teba modern mencerminkan upaya pelestarian nilai-nilai tradisional Bali di tengah arus modernisasi. Konsep ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak bersifat statis, melainkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Teba modern menjadi ruang edukasi lingkungan bagi keluarga dan generasi muda, sekaligus simbol harmonisasi antara manusia dan alam sebagaimana tercermin dalam filosofi Tri Hita Karana.
Dengan demikian, teba modern tidak hanya sekadar ruang fisik di belakang rumah, tetapi juga representasi pendekatan berkelanjutan dalam penataan lingkungan permukiman. Melalui penerapan teba modern, masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan budaya lokal Bali di era modern. (*)

