DENPASAR, BALINEWS.ID — Dinamika pariwisata Bali yang mengalami pasang surut pada bulan Desember kembali menjadi sorotan. Kondisi ini dinilai sebagai persoalan tahunan yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari musim kunjungan wisatawan hingga persoalan keamanan dan infrastruktur.
Ketua Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, Wayan Kantha Adnyana, S.H., mengatakan bahwa fluktuasi pariwisata merupakan hal yang sudah terjadi sejak lama. Menurutnya, penurunan kunjungan wisatawan pada awal Desember hampir selalu berulang setiap tahun.
“Pariwisata Bali memang sejak dulu mengalami pasang surut. Awal Desember biasanya relatif lebih sepi dibandingkan bulan lainnya. Ini bukan fenomena baru,” ujarnya.
Selain faktor musiman, Kantha Adnyana menyoroti aspek keamanan yang turut memengaruhi tingkat kunjungan wisatawan. Belakangan, sejumlah peristiwa seperti keributan dan pencurian, baik yang melibatkan pendatang maupun warga lokal, dinilai dapat menurunkan rasa aman dan kenyamanan wisatawan.
Ia juga menyinggung persoalan kemacetan lalu lintas yang semakin kompleks dan belum mendapatkan solusi yang benar-benar efektif. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat, tetapi juga pada pengalaman wisatawan selama berada di Bali.
“Masalah kemacetan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah serius. Jika tidak ditangani dengan baik, tentu akan berpengaruh terhadap citra pariwisata Bali,” katanya.
Sementara itu, pemerhati sosial Dewa Usadha menilai ketidakpastian kondisi pariwisata Bali belakangan ini dipicu oleh berbagai indikator yang nyata terjadi di lapangan. Ia menyebutkan sejumlah persoalan seperti banjir di pusat kota, permasalahan sampah, kemacetan, meningkatnya kriminalitas, hingga aksi tawuran yang belakangan sering terjadi.
“Fakta-fakta ini tidak bisa disangkal. Semua itu memang terjadi dan berdampak pada persepsi publik,” ujarnya.
Menurut Dewa Usadha, citra Bali juga turut dipengaruhi oleh maraknya unggahan dan keluhan di media sosial, baik berupa curahan pendapat maupun pemberitaan yang tidak selalu berimbang. Hal tersebut secara tidak langsung membentuk persepsi masyarakat, termasuk di tingkat internasional.
Ia mengakui, sebagian masyarakat Bali berupaya meluruskan informasi yang dinilai tidak proporsional, namun sering kali kewalahan menghadapi arus informasi yang begitu masif.
Meski demikian, Dewa Usadha menegaskan bahwa masyarakat Bali memiliki keyakinan dan kearifan lokal yang kuat dalam menyikapi kondisi tersebut. Ia menyebut filosofi “isin gumi ade kene ade keto” sebagai bentuk sikap bijak dalam menerima dinamika yang terjadi.
“Kondisi pariwisata Bali bersifat situasional. Naik turunnya kunjungan wisatawan tidak serta-merta memengaruhi rasa percaya diri masyarakat Bali,” tegasnya.
Berbagai pandangan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk menghadirkan kebijakan dan solusi yang komprehensif, berkelanjutan, serta berpihak pada kepentingan masyarakat dan keberlanjutan pariwisata Bali. (*)

