NASIONAL, BALINEWS.ID – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan bahwa pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh akan tetap menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Saat ini, proses negosiasi utang tersebut masih berada pada tahap finalisasi yang dilakukan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama pihak China.
“Kemarin laporan terakhir, rapat di Danantara, jadi masih ada finalisasi sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara,” ungkap Prasetyo dikutip dari Detik Finance, Selasa (10/2/2026).
Ia pun menegaskan komitmen pemerintah terkait skema pembayaran utang proyek tersebut.
“Iya (utang Whoosh tetap dibayar dengan APBN),” tegasnya.
Pernyataan Prasetyo itu sejalan dengan sikap Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya menilai tidak ada persoalan dalam pembayaran kewajiban utang kereta cepat pertama di Asia Tenggara tersebut. Presiden menyebut, nilai pembayaran yang harus ditanggung setiap tahun sebesar Rp 1,2 triliun dan dinilai masih dalam batas kemampuan fiskal negara.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa pemerintah memiliki kapasitas keuangan yang cukup untuk memenuhi kewajiban tersebut. Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan anggaran negara yang bersih dan bebas dari praktik korupsi agar ruang fiskal tetap terjaga.
Selain aspek finansial, Prabowo memandang kehadiran Whoosh sebagai langkah strategis dalam penguasaan teknologi perkeretaapian modern. Kerja sama dengan China dalam proyek ini dinilai memberi nilai tambah, bukan hanya dari sisi transportasi, tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas nasional di sektor infrastruktur.
Dengan proses negosiasi yang memasuki tahap akhir dan komitmen pemerintah yang telah ditegaskan, pembayaran utang KCJB dipastikan tetap berjalan sesuai rencana melalui dukungan APBN, sembari tetap memperhitungkan manfaat ekonomi dan strategis jangka panjang bagi Indonesia. (*)

