KLUNGKUNG, BALINEWS – Rangkaian karya di Pura Penataran Agung Sri Srengga, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, memasuki prosesi penting pada Rabu (28/10/2026). Tidak lain adalah upacara Yadnya Megat Sot yang berkaitan dengan pelaksanaan Caru Nawa Gempang digelar di Catus Pata Nyalian sebagai bagian dari rangkaian penyineban karya.
Prosesi ini memiliki makna spiritual mendalam bagi pratisentana atau keturunan, yakni sebagai permohonan penyucian untuk mengakhiri berbagai bentuk sosot, kutukan, sumpah, maupun kesalahan masa lampau yang diyakini masih berkaitan dengan kehidupan leluhur dan keturunannya.
Jero Mangku Kawitan Maha Gotra Tirta Harum I Dewa Nyoman Mangku Setiawan menjelaskan, sebelum prosesi di Catus Pata Nyalian dilaksanakan, Ida Sesuhunan terlebih dahulu telah katurang piodalan pada Purnama Kelima, Minggu (25/10/2026). “Kemudian hari ini (Rabu, Red) dilanjutkan dengan menghaturkan bakti penganyar untuk pembersihan, sebelum seluruh rangkaian utama dimulai,” ujarnya.
Sebelum prosesi yang dipuput oleh Tri Sadaka (Ida Pedanda Siwa, Ida Pedanda Buda, dan Ida Bujangga) berlangsung, seluruh Ida Sesuhunan yang berkaitan dengan Pura Penataran Agung Sri Srengga dari Tamanbali, Nyalian, dan Bangli, beserta putran-putran (anak-anak) Ida Sesuhunan, tedun dan berkumpul menuju Catus Pata Nyalian.
Setelah seluruh Ida Sesuhunan melinggih, rangkaian dilanjutkan dengan muspa, ngewacen bisama, ngeruak caru, serta ngereka Caru Nawa Gempang. Termasuk menyiratkan tirta pengentas, dilanjutkan dengan ngeringkes sebelum sarana upacara dihanyutkan ke segara.
Ditambahkannya jika, salah satu bagian prosesi adalah bersembahyang kwangen yang dilengkapi uang kepeng atau pis bolong sebanyak 11 buah. Kwangen tersebut akan digunakan untuk Nganyut Caru ke segara. Selanjutnya, kwangen yang berisi pis bolong 2 keping dihaturkan dan dikumpulkan pada Penyejeg (seperti Bagia Pula Kerti).
“Setelah prosesi tersebut selesai, sarana yang telah ditentukan kemudian dipendem di jaba pura,” imbuhnya.
Rangkaian berikutnya dilanjutkan dengan penyineban. Setelah seluruh prosesi puput, Ida Sesuhunan bersama-sama budal (pulang) ke pura atau merajan masing-masing.
Menurutnya inti pelaksanaan Yadnya Megat Sot dan Caru Nawa Gempang adalah memohon agar segala bentuk dosa, kesalahan, saling mencaci, kutukan, maupun persoalan masa lampau dapat diselesaikan secara niskala, sehingga tidak menjadi beban bagi kehidupan generasi sekarang dan keturunan mendatang.
“Harapan kita, segala kesalahan dan persoalan masa lalu dapat diselesaikan. Kita tidak boleh terus mengingat hal-hal buruk yang pernah terjadi, termasuk kutukan atau sosot yang berkaitan dengan leluhur terdahulu. Ke depan, kita harus berpikir positif, menjalankan kehidupan sesuai dengan swakarma dan swadarma, serta tidak lagi terjerumus pada hal-hal seperti itu,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pelaksanaan yadnya tersebut bukan untuk terus terikat pada cerita buruk masa lampau, melainkan menjadi momentum spiritual untuk memperbaiki diri, menjaga keharmonisan, dan menata kehidupan yang lebih baik.
“Dulu mungkin ada kutukan atau hal-hal lain yang terjadi. Namun, kita tidak boleh terus berpikir ke arah itu. Jadikan pelaksanaan yadnya ini sebagai jalan untuk menata pikiran yang positif dan menjalani kehidupan ke depan dengan lebih baik,” tambahnya.
Sebelumnya, rangkaian karya di Pura Penataran Agung Sri Srengga telah dimulai pada Jumat (16/10/2026). Berdasarkan dudonan karya, puncak upacara dilaksanakan pada Minggu (25/10/2026), bertepatan dengan Redite Kliwon Watugunung atau Purnama Kelima, kemudian dilanjutkan dengan prosesi nganyarin pada Senin (26/10/2026) dan Selasa (27/10/2026).
Sebelumnya, Ketua Panitia, Dewa Gede Taman, menjelaskan bahwa Yadnya Megat Sot dimaknai sebagai upaya memutus berbagai bentuk sosot, sumpah, kutukan, maupun pemastu atau ucapan yang diyakini mengandung kekuatan kutukan dari peristiwa masa lampau.
Pelaksanaan tersebut berkaitan dengan Caru Nawa Gempang yang secara spiritual dimaknai sebagai upaya penyucian Bhuwana Agung atau alam semesta dan Bhuwana Alit atau diri manusia. Melalui rangkaian yadnya ini, umat memohon keseimbangan, perlindungan dari berbagai marabahaya, serta kerahayuan bagi keluarga dan seluruh keturunan.
Lebih dari sekadar rangkaian ritual, pelaksanaan Yadnya Megat Sot dan Caru Nawa Gempang menjadi pengingat bagi generasi sekarang agar tidak mewarisi pertentangan masa lalu sebagai beban kehidupan. Sebaliknya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan mendorong setiap orang untuk memperbaiki perilaku, menjaga hubungan antarsesama, dan menjalankan kewajiban sesuai dengan dharma.
Dengan berakhirnya rangkaian karya melalui prosesi panyineban, umat berharap seluruh keluarga dan keturunan senantiasa memperoleh kerahayuan, kedamaian, keselamatan, serta tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menjalani kehidupan ke depan. (*)

