Slot Header 970×90

Rupiah Melemah ke Rp18.087 per Dolar AS, ASITA Bali Soroti Dampaknya terhadap Pariwisata

Oleh Fery Fadli · null

30 September 2026 pukul 20.30 WITA · 3 menit baca

Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P.
Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P.

DENPASAR, BALINEWS —Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (30/9/2026), rupiah berada di level Rp18.087,99 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya imbal hasil obligasi AS, kekhawatiran terhadap inflasi global, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang akhir triwulan III-2026.

Pergerakan nilai tukar tersebut turut menjadi perhatian sektor pariwisata Bali yang memiliki aktivitas ekonomi cukup tinggi dengan wisatawan mancanegara dan transaksi valuta asing.

Gambar berita

Bagi wisatawan asing yang membawa atau menggunakan dolar AS, pelemahan rupiah membuat nilai dolar yang ditukarkan ke rupiah menjadi lebih besar. Kondisi ini juga berdampak terhadap pelaku usaha pariwisata yang menjual produk atau paket wisata dalam mata uang asing.

Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., mengatakan penguatan dolar AS perlu dilihat dari dua sisi, yakni dampak positif dan negatif bagi industri pariwisata.

"Dari sisi positifnya, kenaikan US dolar per 30 September 2026 yang menembus sekitar Rp18.087,99 per dolar AS per 1 USD, dengan harga jual mencapai Rp17.908,01 berdasarkan Kurs Transaksi Bank Indonesia, tentu memberikan keuntungan bagi produk-produk wisata yang dijual di luar negeri dengan menggunakan US dolar karena ratenya lebih tinggi," ujar Winastra.

Menurutnya, ketika produk pariwisata Indonesia ditawarkan dalam denominasi rupiah kepada wisatawan asing, pelemahan rupiah juga membuat harga produk tersebut terlihat lebih murah jika dikonversikan ke dolar AS.

"Ketika kita menjual dalam bentuk rupiah, produk kita terlihat lebih murah dari sebelumnya. Tetapi dalam konteks ini bukan berarti produk kita murahan," katanya.

Namun, Winastra mengingatkan bahwa kenaikan nilai dolar AS tidak otomatis meningkatkan keuntungan pelaku usaha pariwisata. Pasalnya, pelemahan rupiah juga dapat diikuti kenaikan biaya operasional dan harga bahan baku yang digunakan dalam penyediaan produk wisata.

"Kenaikan US dolar ini tidak berbanding lurus dengan keuntungan yang didapat. Kenaikan US dolar bisa juga memberikan dampak kenaikan dari sisi cost operasional maupun cost bahan baku dalam produk itu sendiri," jelasnya.

Dengan demikian, menurut Winastra, keuntungan yang diperoleh dari kenaikan nilai tukar dapat tergerus oleh meningkatnya biaya produksi dan operasional.

"Kalau dihitung, bisa saja sama dengan naiknya US dolar. Cost production dan cost operasional juga naik, akhirnya sama atau seimbang," ujarnya.

Karena itu, ASITA Bali berharap terdapat stabilitas nilai tukar sehingga pelaku usaha pariwisata dapat menjalankan bisnis dengan lebih nyaman dan memiliki kepastian dalam menyusun harga serta biaya operasional.

"Kita berharap justru adanya sebuah kestabilan currency sehingga pelaku dunia usaha pariwisata dapat merasa nyaman," kata Winastra.

Selain stabilitas nilai tukar, ASITA Bali juga berharap terdapat kebijakan yang mendukung promosi produk pariwisata Indonesia di pasar internasional.

Menurut Winastra, pelaku usaha pariwisata perlu mendapatkan ruang untuk mempromosikan produknya di luar negeri menggunakan mata uang asing, seperti dolar AS maupun Euro, sementara transaksi akhirnya tetap dapat diselesaikan dalam rupiah.

"Kita berharap ada sebuah kebijakan yang diberikan kepada pelaku pariwisata bahwa kita dapat melakukan promosi produk kami di luar negeri dengan mata uang negara lain seperti US dolar, EUR dan lain sebagainya, tetapi transaksinya tetap nanti masuk dalam bentuk rupiah," ujarnya.

Ia menilai skema tersebut dapat memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus mengurangi keraguan dalam melakukan promosi produk pariwisata Indonesia di pasar internasional.

Fery Fadli

Fery Fadli

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.