Slot Header 970×90

Turis Makin Banyak, Tapi Kita Warga Bali Untungnya di Mana?

Akademisi Udayana Prof. Komang Bendesa mengajak warga Bali menilai ulang, apakah keramaian pariwisata benar-benar berubah jadi kesejahteraan warga lokal.

Oleh Giostanovlatto Sinantong · Redaksi

27 September 2026 pukul 12.34 WITA · 1 menit baca

Prof. Komang Bendesa dari Universitas Udayana
Prof. Komang Bendesa dari Universitas Udayana — Instagram

BALINEWS - Coba kita jujur sebentar. Setiap tahun kita dengar Bali makin ramai turis, hotel makin banyak, vila makin padat. Tapi kita yang tinggal di sini, benar nggak sih ikut merasakan hasilnya?

Pertanyaan itu yang diangkat Prof. Komang Bendesa dari Universitas Udayana. Menurutnya, selama ini kita terlalu sering menilai keberhasilan pariwisata dari angka, jumlah wisatawan, lama mereka menginap, devisa yang masuk. Padahal ada ukuran lain yang lebih jujur untuk kita pakai.

"Quality tourism itu adalah tourism yang bisa meningkatkan kualitas masyarakat Bali, itu dia kualitas. Jadi kalau kualitas masyarakat Bali tidak meningkat, pariwisata itu belum berkualitas," katanya.

Logikanya gampang kita pahami. Pariwisata itu sumber pendapatan terbesar kita di Bali. Kalau sektor utama yang menghidupi daerah kita tumbuh terus, harusnya hidup kita juga ikut membaik seiring pertumbuhan itu.

"Karena sebagian besar income kita memang datangnya dari pariwisata. Nah, kalau pariwisata itu income-nya paling besar sumbangannya, harusnya kan kualitas manusia Bali meningkat," ujarnya.

Nah, di sini letak masalahnya. Kenyataan yang kita lihat sehari-hari belum tentu seperti itu. Bangunan baru terus muncul, tapi belum tentu kita yang asli Bali ikut naik kelas hidupnya.

"Tapi toh sama saja seperti ini, belum ada kualitas pariwisata," katanya.

Buat kita yang kerja di sekitar sektor pariwisata, jadi sopir, jualan di dekat objek wisata, atau kerja di vila, omongan ini bukan sekadar teori kampus. Ini soal apakah keramaian yang kita lihat tiap hari benar-benar berubah jadi penghasilan yang cukup, atau cuma jadi angka bagus di laporan tahunan yang kita sendiri nggak pernah baca.

Prof. Komang sendiri bilang, ukurannya ini bukan satu-satunya cara menilai pariwisata kita. Tapi setidaknya, ini bisa jadi bahan kita mempertanyakan ulang, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan dari keramaian Bali selama ini.

"Jadi itu ukuran saya, hanya satu argumen saya," katanya.

SLOT IKLAN TENGAH ARTIKEL
Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto adalah pendiri Hey Bali yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.