BALINEWS - Coba kita jujur sebentar. Setiap tahun kita dengar Bali makin ramai turis, hotel makin banyak, vila makin padat. Tapi kita yang tinggal di sini, benar nggak sih ikut merasakan hasilnya?
Pertanyaan itu yang diangkat Prof. Komang Bendesa dari Universitas Udayana. Menurutnya, selama ini kita terlalu sering menilai keberhasilan pariwisata dari angka, jumlah wisatawan, lama mereka menginap, devisa yang masuk. Padahal ada ukuran lain yang lebih jujur untuk kita pakai.
"Quality tourism itu adalah tourism yang bisa meningkatkan kualitas masyarakat Bali, itu dia kualitas. Jadi kalau kualitas masyarakat Bali tidak meningkat, pariwisata itu belum berkualitas," katanya.
Logikanya gampang kita pahami. Pariwisata itu sumber pendapatan terbesar kita di Bali. Kalau sektor utama yang menghidupi daerah kita tumbuh terus, harusnya hidup kita juga ikut membaik seiring pertumbuhan itu.
"Karena sebagian besar income kita memang datangnya dari pariwisata. Nah, kalau pariwisata itu income-nya paling besar sumbangannya, harusnya kan kualitas manusia Bali meningkat," ujarnya.
Nah, di sini letak masalahnya. Kenyataan yang kita lihat sehari-hari belum tentu seperti itu. Bangunan baru terus muncul, tapi belum tentu kita yang asli Bali ikut naik kelas hidupnya.
"Tapi toh sama saja seperti ini, belum ada kualitas pariwisata," katanya.
Buat kita yang kerja di sekitar sektor pariwisata, jadi sopir, jualan di dekat objek wisata, atau kerja di vila, omongan ini bukan sekadar teori kampus. Ini soal apakah keramaian yang kita lihat tiap hari benar-benar berubah jadi penghasilan yang cukup, atau cuma jadi angka bagus di laporan tahunan yang kita sendiri nggak pernah baca.
Prof. Komang sendiri bilang, ukurannya ini bukan satu-satunya cara menilai pariwisata kita. Tapi setidaknya, ini bisa jadi bahan kita mempertanyakan ulang, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan dari keramaian Bali selama ini.
"Jadi itu ukuran saya, hanya satu argumen saya," katanya.


