BALINEWS.ID – Sekitar sepuluh aktivis menggelar aksi damai di depan Plataran Ubud pada Senin lalu, mendesak salah satu grup hospitality ternama di Bali itu untuk berkomitmen menggunakan telur bebas kandang baterai atau cage-free.
Dalam aksi tersebut, sejumlah motor berkeliling di sekitar area hotel sambil membawa spanduk berisi pesan penolakan terhadap penggunaan telur dari ayam yang dipelihara dengan sistem kandang baterai. Aktivis juga membagikan selebaran kepada pengunjung yang lewat, berisi penjelasan soal isu kesejahteraan hewan dalam industri produksi telur.
Aksi ini merupakan bagian dari kampanye yang sudah berlangsung selama sebulan terakhir, di mana konvoi motor berkeliling ke berbagai hotel dan bisnis di Bali untuk menyuarakan isu yang sama.
Plataran menjadi sasaran utama kampanye ini karena dikenal luas dengan citra “Indonesian hospitality with purpose”, yang menekankan keberlanjutan, konservasi alam, dan tanggung jawab lingkungan dalam operasional bisnisnya.

Campaign Lead Act for Farmed Animals (AFFA), Elfha Shavira, mengatakan pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Plataran sejak 2024, termasuk pertemuan langsung dengan pihak manajemen di kantor pusat serta upaya advokasi di Jakarta.
“Belum ada kemajuan terkait kebijakan cage-free egg mereka sampai saat ini,” kata Shavira.
Sistem kandang baterai yang masih mendominasi industri telur di Indonesia mengurung ayam petelur dalam kandang seukuran selembar kertas A4 selama sekitar 63 minggu masa produksi. Kondisi ini membatasi ayam untuk melakukan perilaku alami seperti mengepakkan sayap, bersarang, maupun bersosialisasi.
Selain isu kesejahteraan hewan, riset Universitas Gadjah Mada menemukan bakteri Salmonella yang resisten terhadap antibiotik pada telur dari sistem kandang skala kecil yang dijual di supermarket. Laporan European Food Safety Authority (EFSA) tahun 2019 turut mencatat tingkat prevalensi Salmonella yang lebih tinggi pada sistem kandang dibandingkan sistem cage-free.
Menurut Shavira, sudah ada 110 perusahaan di Indonesia yang berkomitmen beralih ke sistem cage-free. Ia menilai perusahaan sekelas Plataran yang beroperasi di Indonesia dan Jepang seharusnya turut mengambil langkah serupa.
“Plataran mempromosikan citra ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang seharusnya juga mencakup kesejahteraan hewan dan kesehatan publik,” ujarnya.
Hingga aksi tersebut berakhir, belum ada komitmen cage-free yang diumumkan secara resmi oleh Plataran. AFFA menyatakan akan terus mendorong pelaku bisnis hospitality lain di Bali untuk menangani isu serupa.
