Slot Header 970×90

Ari Dwipayana: Pemuda Bali Harus Bersuara dan Berdaya untuk Menentukan Arah Perubahan Bali.

Oleh Kande Putra · Redaksi

29 Oktober 2026 pukul 17.54 WITA · 2 menit baca

Konferensi Pemuda Bali 2026 (Peguneman Yowana Bali)
Konferensi Pemuda Bali 2026 (Peguneman Yowana Bali)

DENPASAR, BALINEWS - Dalam era digital dan AI sekarang ini dan untuk menentukan arah perubahan Bali, Generasi muda Bali penting memperkuat suara (voice) dan daya (power) untuk merespons berbagai krisis, hal tersebut disampaikan oleh AAGN Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud dan Akademisi Universitas Gadjah Mada, dalam pidato kunci (keynote speech) pada Konferensi Pemuda Bali 2026 (Peguneman Yowana Bali) yang diselenggarakan BASAibu Wiki Bali di Aula Angsoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, 29 Oktober 2026.

Ari mengapresiasi penyelenggaraan konferensi yang telah memasuki tahun ketiga dengan tema *Eling: Relung Kesadaran Pemuda atas Krisis Lingkungan, Kriminalitas, dan Ketimpangan Ekonomi.”

Menurut Ari, gerakan BASAibu Wiki Bali menarik karena mempertemukan tiga isu strategis sekaligus, yakni pemuda, bahasa ibu, dan teknologi digital. Ketiganya memiliki relevansi penting dalam membangun kesadaran dan gerakan sosial generasi muda.

Ari mencontohkan kemunculan berbagai gerakan protes anak muda di sejumlah negara, seperti Nepal, Prancis, dan Italia. Gerakan tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan gagasan, membangun solidaritas, kemudian bergerak secara luring dengan mengusung beragam isu.

"Sasaran kritik gerakan Gen-Z umumnya adalah negara dan rezim pemerintahan yang dianggap tidak mendengarkan aspirasi mereka. Bahkan simbol perlawanannya menggunakan bahasa generasi muda, mulai dari One Piece hingga Three Fingers," ujar Ari.

Dalam konteks Bali, penggunaan bahasa Bali oleh BASAibu Wiki bukan sekadar upaya konservasi bahasa ibu, melainkan juga instrumen membangun kesadaran identitas, solidaritas, dan kepedulian terhadap masa depan Bali.

Ari mengingatkan bahwa Bali sedang mengalami perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang sangat cepat akibat ekspansi ekonomi pariwisata, revolusi teknologi, serta mobilitas modal dan manusia secara masif. Perubahan tersebut membawa peluang, tetapi juga menghadirkan krisis lingkungan, persoalan keamanan, dan ketimpangan ekonomi.

Menghadapi situasi tersebut, Ari menekankan pentingnya kepemimpinan yang memiliki arah dan strategi kebudayaan yang jelas, kemudian diterjemahkan ke dalam tata kelola pemerintahan.

"Ketika pemerintah gagap merespons perubahan, yang terjadi adalah situasi autopilot. Perubahan dibiarkan berlangsung tanpa kendali dan semuanya diserahkan kepada mekanisme pasar. Ini sangat berbahaya bagi masa depan Bali," tegasnya.

Namun, menurut Ari, menggantungkan seluruh harapan kepada negara juga bisa menjadi fatamorgana. Karena itu, diperlukan penguatan suara dan kontrol publik dari krama Bali, terutama generasi muda.

Suara anak muda tidak cukup hanya didengar. Anak muda Bali harus memiliki daya atau power untuk mendesakkan agenda perubahan kepada negara. Tanpa daya, suara hanya akan menjadi keluhan yang mudah diabaikan,"ungkapnya.

Ari menegaskan bahwa masa depan Bali tidak boleh hanya ditentukan oleh kekuatan pasar, pemilik modal, atau elite pemerintahan. Generasi muda harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah transformasi Bali.

"Pemuda Bali tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, apalagi korban perubahan. Mereka harus menjadi kekuatan yang mengarahkan perubahan. Dari eling atau kesadaran, menuju voice atau keberanian bersuara, dan akhirnya menjadi power atau kekuatan untuk mengubah keadaan," pungkasnya.*

Kande Putra

Kande Putra

Pemimpin redaksi BaliNews.id. Menulis isu kebijakan publik dan pariwisata Bali.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.