LOMBOK, BALINEWS.ID – Tangisan seorang perempuan asal Inggris di puncak salah satu destinasi wisata paling indah di Lombok mendadak menjadi perhatian publik. Bukan karena ia mengalami musibah saat mendaki, melainkan karena kecewa melihat tumpukan sampah plastik yang berserakan di kawasan Bukit Pergasingan, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Video berdurasi lebih dari tiga menit yang diunggah melalui akun Instagram @lucy_lari_lari itu viral di media sosial dan memicu diskusi luas mengenai persoalan sampah di destinasi wisata alam Indonesia. Dalam video tersebut, Lucy—warga negara Inggris yang mengaku telah tinggal di Indonesia selama 35 tahun—tak mampu menahan air mata saat menceritakan pengalamannya mendaki Bukit Pergasingan.
“Saya Sudah 35 Tahun Tinggal di Indonesia”
Dalam videonya, Lucy mengaku merasa malu sekaligus sedih melihat kondisi salah satu panorama terbaik di Lombok dipenuhi sampah.
“Selama 35 tahun saya tinggal di Indonesia, saya belum pernah semalu ini. Memang ini bukan negara saya, tetapi karena saya sudah lama tinggal di sini, saya merasa menjadi bagian dari masalah ini juga,” ujarnya.
Menurut Lucy, pemandangan dari puncak Bukit Pergasingan sangat luar biasa. Namun keindahan itu kontras dengan banyaknya sampah plastik yang ditemukan di sepanjang jalur pendakian, aliran sungai, hingga kawasan puncak.
Ia mempertanyakan mengapa masih ada pengunjung yang tega meninggalkan sampah di lokasi wisata yang begitu indah.
“Gunung secantik itu masih saja dikotori. Rasanya hati saya sakit melihatnya. Kita semua ingin memberikan alam yang lebih baik untuk anak cucu kita,” katanya sambil mengusap air mata.
Pengelola Terima Kritik
Menanggapi video yang viral tersebut, Ketua Pengelola Bukit Pergasingan, Royal Sembahulun, mengatakan rekaman yang beredar diambil sebelum dilakukan kegiatan pembersihan kawasan.
Meski demikian, pihak pengelola mengaku tidak keberatan dengan kritik yang disampaikan Lucy.
“Kami menerima kritik itu. Video tersebut memang direkam sebelum kawasan dibersihkan,” ujarnya.
Royal menegaskan bahwa membersihkan sampah setelah sebuah video viral bukanlah solusi jangka panjang.
“Kalau hanya bersih-bersih setelah viral, itu tidak menyelesaikan akar persoalan. Yang dibutuhkan adalah sistem pengelolaan sampah yang kuat, terpadu, dan berkelanjutan,” katanya.
Saat ini pengelola tengah menyusun aturan yang lebih tegas, termasuk kemungkinan penerapan sanksi bagi pengunjung yang membuang sampah sembarangan, agar kawasan wisata tetap terjaga sekaligus terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Persoalan yang Tak Hanya Terjadi di Lombok
Video Lucy sebenarnya menyentuh persoalan yang lebih besar daripada sekadar sampah di satu bukit.
Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya jumlah wisatawan di berbagai destinasi alam Indonesia juga diikuti dengan tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks. Jalur pendakian, pantai, air terjun, hingga kawasan konservasi kerap menghadapi persoalan serupa, terutama limbah plastik sekali pakai yang ditinggalkan pengunjung.
Banyak pemerhati lingkungan menilai kegiatan bersih-bersih massal memang penting, tetapi tidak cukup jika tidak dibarengi edukasi kepada wisatawan, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, serta penegakan aturan yang konsisten.
Bali Menghadapi Tantangan yang Sama
Apa yang terjadi di Bukit Pergasingan juga menjadi pengingat bagi Bali yang setiap tahun menerima jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pulau Dewata dalam beberapa tahun terakhir juga menghadapi tantangan serupa di sejumlah destinasi populer, mulai dari pantai, air terjun, hingga jalur pendakian gunung yang kerap dipenuhi sampah saat musim liburan. Pemerintah daerah bersama komunitas lingkungan memang rutin menggelar aksi bersih-bersih, namun persoalan ini belum sepenuhnya selesai.
Video Lucy menjadi pengingat bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan menjaga alam yang menjadi daya tarik utama. Tanpa kesadaran bersama antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan wisatawan, keindahan alam yang membuat Bali dan Lombok dikenal dunia bisa perlahan kehilangan pesonanya.
