DENPASAR, BALINEWS.ID — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar memperingati hari jadi ke-32 dengan menggelar “Piknik Waras: Merawat Akal Lewat Diskusi, Menjaga Fisik dengan Berlari” di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang dikemas dalam suasana piknik tersebut menjadi ruang diskusi lintas generasi untuk membahas persoalan lingkungan dan masa depan Bali. Acara juga menghadirkan lapak baca serta diskusi bertajuk “Refleksi Tri Hita Bencana di Tengah Kondisi Bali Sekarang dan Mendatang.”
Diskusi dipandu Koordinator Divisi Pendidikan AJI Denpasar Ni Komang Yuko Utami. Menurut Yuko, konsep ruang terbuka dipilih agar percakapan kritis dapat berlangsung lebih cair tanpa kehilangan substansi.
“Pendekatan refleksi dengan konsep piknik di ruang terbuka hijau publik ini menjadi cara menjalin interaksi yang lebih cair tapi tetap serius,” kata Yuko.
Ia mengatakan, ruang publik dapat menjadi tempat membangun percakapan kritis mengenai berbagai persoalan Bali, termasuk kondisi ruang hidup yang semakin menghadapi tekanan ekologis.
Pemantik diskusi adalah buku Tri Hita Bencana: Ekonomi Politik Keserakahan Manusia Bali Kontemporer karya antropolog dan akademisi I Ngurah Suryawan. Buku tersebut mengangkat berbagai persoalan lingkungan Bali, termasuk ancaman ekologis serta persoalan sosial dan budaya yang menyertainya.
Suryawan yang hadir sebagai pembicara menilai kerusakan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan oligarki, tetapi juga dipengaruhi kelompok yang disebutnya sebagai kelas komprador.
“Dari dulu ada kelas komprador. Menjilat dan menekan ke bawah,” ujar Suryawan.
Menurut dia, buku setebal sekitar 150 halaman tersebut lahir dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan Bali. Kritik mengenai minimnya aspek metodologis dalam buku itu, kata Suryawan, tidak mengubah tujuan awal karya tersebut.
“Buku ini adalah sebuah pemantik gerakan sosial,” katanya.
Dalam paparannya, Suryawan juga menyinggung sejarah penguasaan ruang di Bali, rentetan peristiwa 1965, intervensi kapital, hingga persoalan relasi gender dalam pelaksanaan ritus adat.
Ia menyoroti kecenderungan perempuan yang kurang terlihat dalam berbagai ritual adat, meski memiliki peran besar dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara.
“Selalu yang ditampilkan adalah soal dana upakara, ditambah fenomena bansos, namun lupa akan andil tubuh perempuan,” ujarnya.
Diskusi kemudian berkembang menjadi dialog interaktif. Peserta menyoroti sejumlah persoalan, antara lain minimnya transparansi anggaran pemerintah dan melemahnya gerakan masyarakat sipil, termasuk dari lingkungan kampus.
Kegiatan tersebut diikuti berbagai elemen, mulai dari organisasi pers, pers mahasiswa, akademisi hingga masyarakat umum. Sejumlah organisasi pers yang hadir antara lain PWI Bali, PFI Denpasar, IWO Bali, dan IJTI Bali.
Ketua AJI Denpasar Ni Kadek Novi Febriani mengatakan peringatan HUT ke-32 AJI yang jatuh pada 7 Agustus 2026 mengusung tema nasional “Bertahan, Bersuara, Berkarya.”
Menurut Febriani, isu ekologi memiliki keterkaitan erat dengan kebebasan pers. Jurnalis memiliki tanggung jawab memenuhi hak publik atas informasi dengan menyampaikan fakta sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Namun, ia menilai kerja jurnalistik masih menghadapi berbagai tekanan, baik politik, ekonomi maupun hukum. Suara kritis, kata dia, juga kerap mendapatkan pelabelan negatif.
“Sama halnya dengan kondisi ekologi di Bali yang semakin mengkhawatirkan. Alam sering kali dianggap sekadar sebagai aset yang bisa diperas, bukan sebagai ruang yang harus dijaga,” kata Febriani.
Ia menegaskan jurnalis yang meliput persoalan ekologis memiliki posisi penting dalam memastikan publik memperoleh informasi yang jernih.
“Penting peran jurnalis yang meliput isu ekologi untuk menjadi penjernih dan berpihak pada kemanusiaan. Tidak bisa netral,” tegasnya.
Febriani menambahkan, harapan untuk mencegah kerusakan lingkungan masih terbuka apabila jurnalis, aktivis, akademisi dan masyarakat sipil terus membangun sikap kritis.
Menjelang akhir diskusi, peserta diajak menuliskan kegelisahan mereka terkait kondisi Bali di atas selembar kertas. Kertas-kertas tersebut kemudian diputar sebanyak tujuh kali dalam formasi melingkar.
Dari tulisan peserta, muncul sejumlah kegelisahan yang dinilai memiliki benang merah, termasuk pembangunan yang dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat serta minimnya fasilitas transportasi umum di Bali.
Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan olahraga lari. Peserta menempuh rute dari Lapangan Niti Mandala Renon menuju Sekretariat AJI Denpasar di Jalan Sedap Malam sepanjang 3,2 kilometer.
Jarak tersebut sengaja dipilih sebagai simbol usia AJI yang kini memasuki tahun ke-32.
