BALINEWS.ID, DENPASAR — Apa yang terlihat sebagai gambar perempuan, kalimat jenaka, pantun, jargon, atau tulisan bernada seksual di bak truk ternyata menyimpan persoalan budaya yang jauh lebih serius. Di balik humor yang mengundang senyum, terdapat cara pandang tentang perempuan, maskulinitas, kelas sosial, moralitas hingga relasi kuasa yang terus diproduksi dan dipertukarkan di ruang publik.
Persoalan itulah yang dibedah Ida Ayu Dwita Krisna Ari, dosen Institut Seni Indonesia Bali, melalui disertasinya berjudul “Representasi Perempuan dalam Wacana Lukisan Bak Truk di Bali.”
Dwita mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Ujian Disertasi Program Studi Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana, Kamis, 23 Juli 2026, di Ruang Soekarno, Kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Jalan Pulau Nias, Denpasar.
Penelitian tersebut menawarkan cara pandang berbeda terhadap budaya visual bak truk yang selama ini kerap dianggap sebagai dekorasi kendaraan atau bagian dari humor khas masyarakat jalanan.
Bagi Dwita, bak truk justru merupakan “galeri berjalan”. Gambar dan tulisan yang dibawanya bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya, bertemu dengan masyarakat sebagai penonton, sekaligus membawa pesan-pesan sosial ke ruang publik.
Dari perspektif kajian budaya, bak truk bukan lagi sekadar bidang yang dihiasi gambar. Ia menjadi teks budaya yang dapat dibaca untuk melihat bagaimana masyarakat membentuk, menyebarkan, mempertahankan, bahkan mempertentangkan sebuah makna.
Dari humor menuju relasi kuasa
Salah satu temuan penting penelitian Dwita menunjukkan bahwa representasi perempuan dalam lukisan bak truk tidak cukup dibaca dari tampilan visualnya.
Figur perempuan dengan pose sensual, ungkapan seksual, lelucon, jargon, pantun hingga sindiran dapat menjadi bagian dari konstruksi sosial mengenai gender dan relasi kuasa.
Tema perempuan, keluarga, kehidupan sosial dan maskulinitas digunakan sebagai bahasa komunikasi populer. Namun, di balik bahasa yang tampak ringan tersebut terdapat gagasan mengenai siapa yang memiliki kuasa, bagaimana perempuan dinilai, serta bagaimana laki-laki ditempatkan dalam struktur sosial.
Dalam sejumlah representasi, perempuan tidak hadir sebagai subjek yang memiliki suara dan agensi. Tubuh perempuan justru ditempatkan sebagai objek tatapan, objek hasrat, sasaran humor, objek penilaian moral, bahkan simbol status sosial dan kemampuan ekonomi laki-laki.
Dengan demikian, tubuh perempuan menjadi medan simbolik tempat berbagai persoalan dinegosiasikan, mulai dari moralitas, fantasi seksual, relasi kelas, ekonomi hingga kuasa gender.
Ketika perempuan masuk dalam logika konsumsi
Salah satu contoh yang dianalisis dalam penelitian tersebut adalah penggunaan ungkapan “Cewek Cicilan Laris Manis” yang dipadukan dengan teks bernada seksual.
Menurut pembacaan Dwita, bahasa tersebut tidak berdiri sebagai lelucon semata. Perempuan dibawa ke dalam logika ekonomi dan konsumsi, seolah-olah menjadi objek yang dapat dimiliki.
Pada contoh lainnya, pengalaman hidup dan kekerasan seksual dikemas dalam bahasa humor. Humor memang dapat menjadi cara masyarakat menghadapi tekanan kehidupan, tetapi pada saat yang sama dapat ikut menormalisasi kekerasan ketika pengalaman tersebut terus dipresentasikan sebagai bahan lelucon.
Representasi perempuan juga muncul melalui figur dengan gaya urban, kacamata hitam, busana model sabrina, tato, pose tubuh tertentu dan arah tatapan yang dirancang untuk menciptakan kesan sensual.
Dalam analisis Dwita, konstruksi semacam itu memperlihatkan bagaimana perempuan dapat ditempatkan sebagai objek kenikmatan visual bagi penonton.
Bahasa verbal yang menyertai gambar pun memperkuat konstruksi tersebut. Salah satunya melalui ungkapan “jatuh cinta pake perasaan, mempertahankannya pake penghasilan.”
Ungkapan itu, dalam pembacaan penelitian, mempertautkan cinta dengan kemampuan ekonomi dan posisi laki-laki sebagai pencari penghasilan. Relasi antara laki-laki dan perempuan akhirnya tidak hanya dibicarakan dalam konteks perasaan, tetapi juga dalam kerangka tanggung jawab material.
Narasi yang membandingkan status “perawan” dan “janda” juga menunjukkan bagaimana status sosial dan seksual perempuan dapat dijadikan ukuran daya tarik.
Sementara narasi yang menonjolkan bagian tubuh perempuan memperlihatkan mekanisme male gaze, yakni cara pandang yang menempatkan tubuh perempuan sebagai objek tatapan dari perspektif hasrat laki-laki.
Humor tidak selalu netral
Temuan Dwita juga memperlihatkan posisi humor yang ambivalen.
Di satu sisi, humor pada lukisan bak truk dapat menjadi strategi masyarakat, khususnya kelas pekerja, untuk menghadapi tekanan ekonomi dan kerasnya kehidupan di jalanan.
Namun di sisi lain, humor dapat tetap bekerja dalam logika maskulinitas yang menempatkan laki-laki sebagai pusat wacana.
Karena itu, humor tidak selalu netral.
Lelucon, metafora, nasihat kehidupan dan bahasa yang tampak sederhana dapat menjadi kendaraan bagi ideologi tertentu. Bahkan, sesuatu yang dianggap lucu dan menghibur dapat ikut menormalisasi stereotip, kekerasan simbolik, serta relasi kuasa patriarkal.
Dwita menemukan bahwa representasi perempuan dalam lukisan bak truk tidak sepenuhnya seragam. Ada representasi yang bersifat merendahkan dan mengobjektifikasi perempuan, tetapi terdapat pula bentuk apresiasi.
Persoalannya, apresiasi tersebut masih kerap dibingkai oleh nilai domestisitas, kesabaran, pengorbanan dan fungsi emosional perempuan.
Karena itu, perempuan dalam lukisan bak truk menjadi arena pertarungan makna yang kontradiktif. Perempuan dapat hadir sebagai objek hasrat, objek kekerasan simbolik dan figur domestik, tetapi pada saat yang sama mulai dinegosiasikan sebagai subjek yang memiliki nilai serta agensi.
Bak truk sebagai “galeri berjalan”
Penelitian Dwita juga menempatkan budaya visual bak truk dalam konteks perubahan zaman.
Praktik tersebut telah berkembang sejak dekade 1970-an. Jika sebelumnya lukisan dikerjakan secara manual menggunakan teknik pengecatan, perkembangan teknologi kemudian menghadirkan bentuk reproduksi visual baru, termasuk penggunaan stiker digital.

Perubahan itu menunjukkan bahwa budaya visual bak truk bukan praktik yang statis. Ia terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus perubahan sosial masyarakat.
Justru karena bergerak di ruang publik, pesan-pesan tersebut memiliki daya jangkau yang luas.
Repetisi gambar, bahasa seksual, humor, ungkapan vulgar dan narasi domestik berpotensi membuat stereotip, objektifikasi, moralitas ganda dan kekerasan simbolik tampak sebagai sesuatu yang biasa dalam budaya populer jalanan.
Di titik inilah penelitian tersebut memperluas kajian budaya visual.
Lukisan bak truk dapat dipahami bukan hanya sebagai produk estetika, tetapi sebagai artefak budaya yang ikut membentuk cara masyarakat melihat realitas.
Gambar yang bergerak di jalan raya tidak sekadar menyampaikan pesan. Ia juga dapat memengaruhi cara masyarakat melihat, menilai dan membicarakan kelompok sosial tertentu.
Mempertemukan Kajian Budaya dan Desain Komunikasi Visual
Temuan penelitian Dwita berpotensi dikembangkan sebagai bahan ajar maupun modul dalam pembelajaran Desain Komunikasi Visual, terutama untuk memahami hubungan antara budaya visual, komunikasi dan masyarakat.
Penelitian tersebut juga membuka ruang bagi penelitian lanjutan mengenai budaya visual, representasi perempuan, komunikasi jalanan dan perkembangan lukisan bak truk di tengah perubahan teknologi.

Dengan demikian, sidang terbuka disertasi Dwita bukan sekadar momentum akademik untuk mempertanggungjawabkan penelitian doktoralnya.
Lebih jauh, penelitian itu mengajak masyarakat untuk melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Sebuah truk yang melintas di jalan bukan hanya membawa barang. Pada bagian belakangnya bisa terdapat gambar, warna, bahasa, humor dan tubuh yang sedang “berbicara”.
Ia adalah galeri yang bergerak, tetapi sekaligus cermin masyarakat yang memproduksinya.
Membaca lukisan bak truk secara kritis berarti membaca bagaimana masyarakat membentuk identitas, menegosiasikan nilai, mempertahankan humor, sekaligus mereproduksi atau menantang relasi kuasa dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks itulah, penelitian Dwita menggeser cara pandang terhadap lukisan bak truk: dari sekadar dekorasi kendaraan menjadi teks budaya yang merekam sekaligus mempertontonkan wajah masyarakat di ruang publik.
Sidang tersebut dipimpin oleh tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. A.A. Ngurah Anom Kumbara, M.A. sebagai promotor, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. sebagai Ko-Promotor I, dan Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum. sebagai Ko-Promotor II.
Ketua penguji adalah Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dengan anggota penguji Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., Dr. Ni Luh Putu Ari Sulastri, S.S., M.Si., Dr. Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun, S.Sn., S.H., M.Hum., dan Dr. Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi, S.Sn., M.Erg.

S3 Kajian Budaya UNUD
Melalui penelitian tersebut, Dwita menunjukkan bahwa untuk memahami sebuah masyarakat, terkadang tidak perlu selalu melihat museum, galeri seni atau ruang-ruang elite.
Cukup melihat apa yang mereka tulis dan gambar di belakang truk yang melintas di jalan raya.
