Kita Membunuh Seorang Bapak Malam Itu, Bukan Menyelamatkan Ayam Aduan

Oleh Giostanovlatto, Pendiri Hey Bali dan Koordinator Aliansi Jurnalis Pariwisata

 

BALINEWS.ID – Untuk semeton Bali yang masih percaya bahwa desa kita bukan tempat seperti ini

Ada satu suara di video itu yang tidak pernah berhenti terngiang di kepala saya.

Bukan suara amukan massa. Bukan suara yang lantang atau menggelegar.

Suara seorang anak perempuan. Kecil. Serak karena menangis. Memanggil nama ayahnya, berulang-ulang, ke arah tubuh yang sudah tidak bisa lagi mendengarnya.

Ayahnya bernama KD. Berasal dari Singaraja.Ia tewas subuh itu, di Baturiti, Tabanan. Tuduhannya: mencuri seekor ayam aduan.

Diduga.

Saya ingin berhenti sejenak di kata ini, karena kata inilah yang paling banyak kita lupakan malam itu.

Diduga bukan berarti terbukti. Diduga bukan berarti pantas dihukum di tempat, oleh siapa pun, dengan cara apa pun. Diduga adalah kata yang seharusnya membuat kita menunggu, bukan bergerak.

Tapi malam itu, di Baturiti, kesabaran sudah lebih dulu habis daripada proses hukum sempat dimulai.

Ayam Aduan dan Harga Sebuah Nyawa

Saya paham betul kenapa ayam aduan begitu berarti bagi banyak keluarga di desa-desa kita. Bukan sekadar hobi. Bukan sekadar tanding di kalangan. Ada bulan-bulan perawatan di dalamnya. Ada tabungan keluarga yang tertanam di sana. Ada gengsi banjar yang ikut dipertaruhkan setiap kali sang jago turun ke gelanggang.

Saya tidak sedang meremehkan kehilangan itu.

Tapi saya ingin bertanya dengan jujur, sebagai orang yang lahir dan besar di tanah ini: sejak kapan kita mengukur nyawa seorang bapak, seorang suami, seorang manusia, setara dengan seekor unggas?

Sejak kapan kandang yang kosong terasa lebih menyakitkan daripada meja makan yang akan kosong selamanya, tanpa seorang ayah yang biasa duduk di ujungnya?

Bapak yang Pergi Mencari, Bukan Mencuri Kesenangan

Senator kita, Arya Wedakarna, dalam video yang menyebar ke mana-mana itu, mengucapkan sesuatu yang menurut saya menembus langsung ke jantung persoalan ini. Seorang bapak, yang lapar, dengan anak menunggu di rumah, menunggu dibawakan sesuatu.

BACA JUGA :  PURA KUNO TERJEBAK PT. BTID (Kura-Kura Bali), PHDI APA KABAR?

Saya membayangkan malam itu di rumah KD.

Mungkin ada anak yang belum makan malam.

Mungkin ada anak yang sudah biasa menunggu ayahnya pulang, membawa apa saja, sekadar cukup untuk esok pagi.

Anak itu tidak tahu bahwa malam itu berbeda.

Anak itu tidak tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah pulang lagi, membawa apa pun.

Ini Bukan Desa di Bali yang Saya Kenal Sejak Kecil

Saya besar mendengar tetua-tetua kita bicara soal paruman desa. Bicara soal menyelesaikan sengketa lewat prajuru adat, lewat musyawarah banjar, lewat kepala dingin dan hati yang mengalah demi keseimbangan bersama, Tri Hita Karana yang selalu kita banggakan ke dunia luar.

Desa Bali yang saya kenal tidak menyelesaikan persoalan dengan mengeroyok seseorang sampai mati sebelum matahari terbit.

Karena itu, ketika Pak Wedakarna berkata “ini bukan Hindu, ini bukan Dharma,” saya mengangguk penuh setuju.

Tapi ada pertanyaan lanjutan yang mengganjal di dada saya, dan mungkin juga di dada Anda yang membaca ini.

Kalau ini memang bukan wajah asli Bali, lalu wajah apa yang sebenarnya sedang kita lihat malam itu? Dan sejak kapan wajah itu mulai tumbuh di antara kita, tanpa kita benar-benar menyadarinya?

Ketika Melapor Terasa Sia-Sia

Saya tidak ingin buru-buru menghakimi warga yang malam itu ada di lokasi. Saya juga besar di sebuah desa. Saya tahu betapa lelahnya rasanya kehilangan berulang kali, lapor, menunggu, dan pada akhirnya merasa seperti tidak ada yang benar-benar berubah.

Di kolom komentar media sosial, banyak sekali suara yang, kalau kita mau jujur mendengarkannya, sebenarnya bukan sekadar pembelaan atas kekerasan. Itu suara kelelahan. Kelelahan menunggu proses hukum yang terasa lamban. Kelelahan melihat kasus-kasus kecil seperti pencurian berulang tanpa penyelesaian yang memuaskan.

BACA JUGA :  BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

Saya tidak mengatakan kelelahan itu membenarkan apa yang terjadi.

Saya hanya mengatakan, kelelahan itu nyata, dan kalau kita terus berpura-pura tidak melihatnya, kita hanya menunggu desa berikutnya mengalami malam yang sama.

Karena ketika sebuah komunitas berhenti percaya bahwa keadilan akan datang lewat jalur yang benar, mereka tidak berhenti mencari keadilan.

Mereka hanya mulai mencarinya sendiri.

Biaya Sekolah Tidak Bisa Menggantikan Pelukan Seorang Ayah

Pak Wedakarna berjanji menanggung sekolah anak-anak KD sampai sarjana. Saya menghargai itu sepenuh hati, sungguh.

Tapi mari kita jujur pada diri sendiri sejenak.

Tidak ada beasiswa, sebesar apa pun nilainya, yang bisa menggantikan seorang ayah yang seharusnya ada di hari pertama anaknya masuk SMP. Yang seharusnya duduk di kursi penonton saat anaknya wisuda. Yang seharusnya menuntun anaknya ke pelaminan kelak.

Kepala Desa Sidatapa, I Made Sutama, yang sendiri menjemput jenazah KD, mengatakan sesuatu yang sederhana namun menghantam telak: melihat anak itu menangis tersedu-sedu, ia benar-benar sedih.

Coba bayangkan posisinya. Seorang kepala desa, yang mestinya sudah kebal menghadapi berbagai persoalan warganya, tetap tidak sanggup menahan kesedihannya sendiri di hadapan tangis seorang anak.

Itulah gambaran paling jujur dari tragedi ini.

Bukan seekor ayam yang raib dari kandangnya.

Melainkan seorang anak kecil, yang esok pagi, dan mungkin ribuan pagi ke depan, akan terbangun dan menyadari ada satu kursi di meja makan yang tidak akan pernah terisi lagi.

Yang Perlu Kita Renungkan, Bukan Sekadar yang Perlu Kita Hukum

Kita boleh, dan memang harus, marah kepada mereka yang malam itu mengambil nyawa seseorang tanpa proses hukum. Saya sepenuh hati mendukung langkah tegas terhadap siapa pun yang terbukti terlibat.

Tapi kemarahan itu, kalau berhenti di situ saja, hanya akan menyelesaikan satu kasus, tanpa pernah benar-benar menjawab pertanyaan yang lebih besar.

BACA JUGA :  Puja Saraswati Bersumber Dari Tradisi Bharata Warsa (India Kuno)

Kenapa kemarahan terasa lebih cepat memberi hasil dibanding menunggu proses hukum?

Kenapa sebuah desa di Bali yang saya kenal penuh kelembutan dan gotong royong, bisa sampai di titik di mana membunuh terasa lebih masuk akal daripada melapor?

Kenapa rasa percaya kita pada sistem yang seharusnya melindungi, bisa terkikis sedemikian rupa, sampai nyawa manusia dipertaruhkan hanya karena sebuah dugaan?

Kalau kita hanya menghukum kerumunan malam itu, tanpa pernah berani menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jujur, kita mungkin menutup satu perkara. Tapi kita belum menutup jalan bagi perkara serupa untuk terjadi lagi, di banjar lain, dengan bapak lain, dan anak lain yang akan menangis di tengah kerumunan yang sama.

Untuk Anak yang Masih Menunggu di Buleleng

Malam ini, di suatu tempat di Buleleng, ada seorang anak kecil yang barangkali masih belum benar-benar mengerti kenapa ayahnya tidak pulang.

Ia tidak tahu soal pasal berlapis. Ia tidak tahu soal senator, soal DPD RI, soal perdebatan panjang yang sedang kita tuliskan malam ini tentang kepercayaan masyarakat pada hukum.

Yang ia tahu hanyalah, ayahnya pergi malam itu.

Dan tidak pernah kembali.

Kalau ada satu hal yang benar-benar layak kita bawa pulang dari tragedi ini, mungkin bukan sekadar kesimpulan bahwa main hakim sendiri itu salah. Itu sudah terlalu jelas untuk perlu ditegaskan lagi.

Yang jauh lebih berat, tapi jauh lebih mendesak, adalah memastikan tidak ada lagi desa di Bali yang merasa bahwa jalan seperti itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa bagi mereka.

Karena apa pun yang hilang dari kandang ayam malam itu, nilainya, sampai kapan pun, tidak akan pernah sebanding dengan seorang ayah yang hilang dari kehidupan anak-anaknya.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya