DENPASAR, BALINEWS.ID – Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong transformasi sistem energi menuju penggunaan sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, arah kebijakan Bali bukan sekadar mengejar target Net Zero Emission (NZE) 2045, tetapi membangun kemandirian energi dengan tetap menjaga kelestarian alam.
Hal tersebut disampaikan Koster saat menerima audiensi Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Bali Perkumpulan Tenaga Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (Pertalindo) di Jayasabha, Denpasar, Jumat (28/8/2026).
Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi antara Pertalindo Bali dengan Pemerintah Provinsi Bali, terutama dalam pengelolaan lingkungan hidup, sertifikasi, laboratorium terakreditasi serta pengembangan energi bersih.
Ketua DPP Pertalindo Bali, I Ketut Gede Dharma Putra, menyampaikan bahwa organisasi yang menghimpun tenaga ahli lingkungan hidup tersebut berkomitmen mengambil bagian dalam mendukung pembangunan Bali, khususnya di sektor lingkungan hidup.
Pertalindo Bali juga memiliki lembaga sertifikasi dan laboratorium terakreditasi yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang berbagai kebutuhan di bidang lingkungan hidup.
Dalam audiensi itu, Pertalindo Bali turut menyampaikan rencana pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan Konferensi Internasional pada 22 September 2026. Kegiatan tersebut akan digelar melalui kolaborasi dengan Shinhwa University dan Universitas Udayana.
Konferensi internasional tersebut mengangkat tema “Pemanfaatan Energi Bersih di Bali Menuju Net Zero Emission 2045.” Dalam kegiatan itu, Gubernur Wayan Koster diundang untuk membuka acara sekaligus menjadi keynote speaker.
Koster menegaskan bahwa Bali memiliki agenda yang lebih luas daripada sekadar memenuhi target NZE. Menurutnya, arah utama kebijakan energi Bali adalah mewujudkan Bali Mandiri Energi dengan mengembangkan sumber energi yang bersih, baru dan terbarukan.
“Bali tidak hanya Net Zero Emission. Agenda utamanya Bali Mandiri Energi. Sumber energinya bersih, baru dan terbarukan,” tegas Koster.
Menurut Koster, kemandirian energi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Bali. Kebijakan tersebut juga harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem alam sebagai bagian dari implementasi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Ia menekankan, pembangunan energi bersih harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Orientasinya bukan semata-mata mengikuti agenda global, melainkan memastikan kualitas udara tetap baik, lingkungan bersih, polusi berkurang, masyarakat hidup sehat dan pangan yang dikonsumsi memiliki kualitas yang baik.
Karena itu, pengembangan energi bersih harus dibarengi dengan perluasan hutan, rehabilitasi hutan serta peningkatan penanaman pohon. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan kemampuan alam dalam menyediakan oksigen.
Koster juga mendorong transformasi sistem energi Bali dengan mengurangi secara bertahap ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Saat ini, sistem kelistrikan Bali masih mendapat sebagian pasokan dari pembangkit berbahan bakar fosil, termasuk sekitar 35 megawatt (MW) dari Paiton yang menggunakan batu bara.
Ke depan, Bali diarahkan untuk memperbesar pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, seperti tenaga surya, gas, energi gelombang dan energi angin.
Transformasi tersebut, kata Koster, telah masuk dalam rencana sistem kelistrikan PLN dan prosesnya sedang berjalan.
Salah satu strategi utama dalam mewujudkan Bali Mandiri Energi adalah mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pemanfaatannya didorong di berbagai sektor, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan atau mal, sekolah hingga fasilitas lainnya.
Pemerintah Provinsi Bali juga terus mendorong penggunaan PLTS melalui berbagai kebijakan dan Surat Edaran Gubernur. Dukungan juga datang dari pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM yang memberikan dukungan pengembangan PLTS di Bali dengan kapasitas hingga 1.500 MW.
Koster menargetkan peningkatan penggunaan energi bersih tersebut dapat memberikan dampak langsung terhadap kualitas lingkungan Bali. Pengurangan energi fosil diharapkan mampu menekan polusi, memperbaiki kualitas udara, menciptakan lingkungan yang lebih sehat serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Dengan demikian kualitas udara bagus, polusi turun, penyakit juga menurun. Itu target saya,” ujar Gubernur Koster.
Menurut Koster, kebijakan Bali Mandiri Energi pada akhirnya tetap sejalan dengan agenda dunia menuju Net Zero Emission 2045. Namun, bagi Bali, kebijakan tersebut memiliki landasan yang lebih mendasar, yakni menjaga alam Bali serta menciptakan kehidupan masyarakat yang bersih, sehat dan berkualitas.
Langkah Bali dalam mendorong energi bersih dan kemandirian energi juga mulai mendapat perhatian internasional. Koster menyampaikan dirinya bahkan mendapat undangan ke London untuk membahas kebijakan energi bersih yang dikembangkan Bali.
Perhatian tersebut dinilai menjadi indikasi bahwa kebijakan Bali dalam membangun kemandirian energi dan mendorong penggunaan energi bersih memiliki relevansi lebih luas, tidak hanya bagi Bali, tetapi juga dalam menghadapi perubahan sistem energi global. (*)
