Slot Header 970×90

Lolos Sertifikasi Organik, Subak Padang Lantang Buktikan Pesisir Mampu Hasilkan Beras Berkualitas

Oleh Indra · null

3 Oktober 2026 pukul 18.18 WITA · 3 menit baca

Subak Padang Lantang di Desa Lebih, Kecamatan Gianyar.
Subak Padang Lantang di Desa Lebih, Kecamatan Gianyar. — Desa Lebih

GIANYAR, BALINEWS – Desa Lebih kembali menorehkan prestasi di sektor pertanian. Subak Padang Lantang yang berada di wilayah pesisir resmi mengantongi Sertifikat Organik untuk komoditas padi, membuktikan bahwa kawasan yang selama ini identik sebagai penerima aliran air dari wilayah hulu juga mampu menghasilkan beras organik berkualitas dan berdaya saing.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari komitmen Pemerintah Desa Lebih di bawah kepemimpinan Perbekel I Wayan Agus Muliana, S.AP., yang sejak 2023 konsisten mendorong pengembangan pertanian organik sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan, melindungi lahan produktif, sekaligus mendukung program ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.

Menurut Agus Muliana, pertanian organik tidak hanya menghasilkan pangan yang lebih sehat, tetapi juga menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang serta memberikan nilai jual yang lebih baik bagi petani. Karena itu, pemerintah desa terus memberikan dukungan penuh agar petani mampu beralih dari pola konvensional menuju sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu kekuatan program ini terletak pada integrasi ekonomi sirkular yang diterapkan Desa Lebih. Sampah organik hasil pemilahan dari rumah tangga warga diolah oleh TPS3R Desa Lebih menjadi pupuk kompos berkualitas. Pupuk tersebut kemudian disalurkan kembali kepada petani sebanyak 4 ton per hektare sebagai bantuan operasional dari pemerintah desa.

Tak hanya itu, petani juga mendapat bantuan benih unggul varietas Mentik Wangi Susu maupun Inpari 32 sebanyak 23 kilogram per hektare, paket pestisida nabati dan asap cair masing-masing lima liter, hingga pembiayaan pengolahan lahan dan biaya tanam yang ditanggung penuh oleh desa.

Di tengah berbagai tantangan, enam petani Subak Padang Lantang tetap bertahan dan menjadi pelopor dalam proses sertifikasi organik. Mereka adalah Pekaseh Pande Ketut Alit Wijaya, I Made Suratnaya, I Nyoman Gede Suardika, I Nyoman Yunadi, I Made Parwata, dan I Wayan Ganas. Keenam petani tersebut mengelola total lahan seluas dua hektare dengan estimasi produksi mencapai 9,3 ton per tahun.

Keberhasilan itu juga didukung pendampingan intensif dari Pendamping Organik I Wayan Warga, S.P. dan Ida Bagus Ketut Guna, serta Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Lebih, I Made Tayoga, S.P. Pembinaan berkelanjutan membuat para petani mampu menerapkan standar budidaya organik secara konsisten.

Perjalanan menuju sertifikasi tidak berlangsung mudah. Proses administrasi yang cukup kompleks sempat menjadi kendala utama. Namun pada Februari 2026, upaya tersebut mendapat dorongan baru melalui keterlibatan Paksi Bali Dewa, S.P., M.Agb., putra asli Desa Lebih yang juga bertugas sebagai penyuluh pertanian lapangan. Bersama tim pembina organik UPTD BSMKP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali serta mahasiswa Universitas Udayana dalam program KKN dan Bina Desa, berbagai persyaratan administrasi akhirnya dapat dipenuhi.

Setelah menjalani tahapan verifikasi dan surveilans oleh LSO Kertha Bali Sejahtera pada Juli dan Agustus 2026 serta menyelesaikan sejumlah perbaikan lapangan, sertifikat organik resmi diterbitkan untuk Subak Padang Lantang.

Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri karena diraih oleh subak yang berada di kawasan pesisir. Kondisi geografis yang selama ini dianggap kurang ideal untuk pertanian organik justru berhasil dibuktikan sebagai tantangan yang mampu ditaklukkan melalui ketekunan petani dan dukungan berbagai pihak.

Kini, keberhasilan tersebut memasuki babak baru. Pemerintah Desa Lebih tengah mengurus izin edar beras organik yang nantinya akan dipasarkan melalui BUMDes. Produk ini diharapkan menjadi identitas baru Desa Lebih sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi petani lokal.

Agus Muliana bahkan mengajak para pemilik warung lesehan ikan laut di sepanjang Pantai Lebih dan jalur Bypass Prof. IB Mantra untuk menggunakan beras organik lokal sebagai menu utama bagi wisatawan maupun masyarakat. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya meningkatkan nilai gizi makanan yang disajikan, tetapi juga memperkuat rantai ekonomi lokal dari petani hingga pelaku usaha kuliner.

“Ke depan, kita ingin semakin banyak pangan yang diproduksi secara organik sehingga masyarakat memperoleh makanan yang sehat, petani mendapatkan nilai tambah, dan lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.

Melalui sinergi antara pengelolaan sampah berbasis sumber, perlindungan lahan pertanian, pemberdayaan petani, hingga keterlibatan sektor usaha kuliner, Desa Lebih menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Keberhasilan Subak Padang Lantang menjadi contoh nyata bahwa pertanian organik tidak hanya tumbuh di daerah pegunungan, tetapi juga mampu berkembang dan berprestasi di kawasan pesisir Bali.

Indra

Indra

Wartawan Madya

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.