Slot Header 970×90

Internasional

Tak Hanya Indonesia, 5 Negara Ini Sedang Memindahkan Ibu Kotanya, Ada yang Sudah Berjalan

Oleh Giostanovlatto Sinantong · Redaksi

30 Juli 2026 pukul 15.19 WITA · 2 menit baca

BALINEWS.ID – Ketika berbicara tentang pemindahan ibu kota, banyak orang langsung teringat pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Namun…
BALINEWS.ID – Ketika berbicara tentang pemindahan ibu kota, banyak orang langsung teringat pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Namun… — BaliNews.id

BALINEWS.ID – Ketika berbicara tentang pemindahan ibu kota, banyak orang langsung teringat pada pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Namun ternyata, Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengambil langkah besar tersebut.

Di berbagai belahan dunia, sejumlah negara juga tengah membangun ibu kota baru atau memindahkan pusat pemerintahannya. Alasannya beragam, mulai dari mengurangi kepadatan kota lama, mengatasi kemacetan, hingga menciptakan pusat pemerintahan yang lebih modern dan berkelanjutan.

Berikut lima negara yang sedang menjalankan atau merencanakan pemindahan ibu kota.

1. Mesir: Bangun Kota Pemerintahan Baru di Tengah Gurun

Mesir menjadi salah satu negara yang paling serius menjalankan proyek pemindahan ibu kota. Sejak 2015, pemerintah membangun New Administrative Capital, sekitar 45 kilometer di timur Kairo.

Kota baru ini dirancang untuk mengurangi beban Kairo yang selama bertahun-tahun menghadapi kemacetan, kepadatan penduduk, dan tekanan terhadap infrastruktur.

Sejumlah kementerian dan lembaga negara kini telah mulai beroperasi di kota tersebut, menjadikannya pusat administrasi baru Mesir.

2. Indonesia: Nusantara Dibangun untuk Mengurangi Beban Jakarta

Indonesia juga sedang memindahkan pusat pemerintahan ke Nusantara di Kalimantan Timur.

Langkah ini diambil karena Jakarta menghadapi berbagai persoalan, seperti kemacetan kronis, banjir, penurunan muka tanah, serta tingginya konsentrasi aktivitas ekonomi di Pulau Jawa.

Pemerintah merancang Nusantara sebagai kota hutan (forest city) yang mengutamakan pembangunan berkelanjutan, didukung infrastruktur modern dan teknologi ramah lingkungan. Hingga kini pembangunan masih berlangsung dan proses pemindahan dilakukan secara bertahap.

3. Korea Selatan: Pusat Pemerintahan Berpindah, Ibu Kota Tetap Seoul

Berbeda dengan Indonesia dan Mesir, Korea Selatan memilih pendekatan yang lebih bertahap melalui pembangunan Sejong City.

Sejak 2012, berbagai kementerian dan lembaga pemerintah dipindahkan ke kota yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Seoul tersebut.

Meski demikian, Seoul tetap menjadi ibu kota resmi karena pertimbangan konstitusi. Saat ini Sejong berfungsi sebagai pusat administrasi sekaligus dikembangkan sebagai kota pintar (smart city).

4. Iran: Masih Sebatas Kajian

Iran juga mempertimbangkan memindahkan ibu kota dari Teheran ke kawasan Makran di pesisir tenggara negara itu.

Wacana ini muncul karena Teheran menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kemacetan lalu lintas, polusi udara, kepadatan penduduk, hingga tingginya risiko gempa bumi.

Namun hingga kini, rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum memiliki jadwal pelaksanaan yang pasti.

5. Sudan Selatan: Tertunda karena Kendala Anggaran

Sejak merdeka pada 2011, Sudan Selatan telah berencana memindahkan ibu kota dari Juba ke Ramciel yang berada di lokasi lebih strategis.

Pemerintah berharap ibu kota baru dapat memperkuat persatuan nasional sekaligus mendorong pemerataan pembangunan.

Namun keterbatasan anggaran dan situasi politik membuat proyek tersebut belum terealisasi. Hingga kini, Juba masih menjadi ibu kota resmi negara tersebut.

Fenomena Global, Bukan Hanya Indonesia

Pemindahan ibu kota bukan sekadar membangun kota baru. Di banyak negara, langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan pusat pemerintahan yang lebih efisien, mengurangi tekanan terhadap kota lama, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi di wilayah lain.

Meski setiap negara memiliki tantangan yang berbeda, tujuan akhirnya relatif sama: membangun sistem pemerintahan yang lebih siap menghadapi kebutuhan masyarakat di masa depan.

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto Sinantong

Giostanovlatto adalah pendiri Hey Bali yang lebih sering bertanya "kenapa?" daripada "gimana?". Ia percaya berita yang bagus bukan yang paling cepat bikin heboh, tapi yang paling mudah dipahami. Kalau lagi nggak nulis, biasanya lagi surfing, ngopi, sunsetan, kadang liputan, kadang nyamar jadi CEO, curhat sama anjingnya, atau bengong di trotoar Renon sambil mencari ide. Belum pernah menang giveaway, tapi tetap optimis. Kalau chat-nya centang dua tapi nggak dibalas, anggap saja sedang mengejar rekor tidur.

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.