Tergiur Gaji Fantastis, Tiga Mahasiswi Jadi Operator Judol di Bali

Polda Bali mengungkap jaringan judi online internasional di Benoa.

DENPASAR, BALINEWS.ID – Direktorat Reserse Siber Polda Bali membongkar praktik judi online (judol) jaringan internasional yang beroperasi di wilayah Benoa, Kuta Selatan, Badung. Dalam pengungkapan ini, polisi mengamankan empat orang pelaku, termasuk tiga mahasiswi yang berperan sebagai operator lapangan.

Kasus ini diungkap dalam konferensi pers di Mapolda Bali, Rabu (29/4), oleh Direktur Reserse Siber Polda Bali Kombes Pol Aszhari Kurniawan yang didampingi Kabid Humas Kombes Pol Ariasandy. Ia menjelaskan, pengungkapan berawal dari patroli siber yang kemudian dikembangkan melalui penyelidikan intensif hingga teknik penyamaran (undercover).

“Dari hasil patroli siber, profiling hingga penyamaran, kami berhasil mengerucut ke lokasi operasional di Benoa,” ujar Aszhari.

Berdasarkan hasil penyelidikan, tim Ditressiber kemudian menggerebek sebuah rumah di Jalan Pratama Gang Hasan Nomor 3, Benoa, pada Minggu (12/4) sekitar pukul 15.45 WITA. Saat penggerebekan, para pelaku tengah menjalankan aktivitas promosi serta pengelolaan dua situs judi online, yakni “ketua.co” dan “GN77”.

BACA JUGA :  Waria dan Rekannya Keciduk Jadi Pengedar Narkoba di Denpasar, Simpan Sabu di Lemari Make Up

Empat tersangka yang diamankan masing-masing IJT alias Gisel (23), RFD alias Selena (22), dan MDB alias Aleta (22) asal Manado, serta WAB alias Guang Yun (31) asal Jakarta. Tiga perempuan tersebut bertugas sebagai telemarketing, sementara Guang Yun berperan sebagai customer service.

Dalam menjalankan aksinya, para pelaku setiap hari menghubungi sekitar 300 hingga 400 nomor ponsel masyarakat Indonesia. Mereka menawarkan tautan aplikasi judi online sekaligus memberikan iming-iming bonus awal agar calon korban tertarik melakukan deposit melalui rekening virtual.

Dari lokasi penggerebekan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa empat unit laptop dan beberapa ponsel yang digunakan untuk operasional. Penyelidikan lanjutan mengungkap bahwa sebagian pelaku merupakan operator berpengalaman yang sebelumnya bekerja di luar negeri.

BACA JUGA :  Kelola Sampah, Desa Tibubeneng Punya Cara Baru

“Setelah ada penindakan di luar negeri, mereka kembali ke Indonesia dan memilih Bali sebagai basis baru. Aktivitasnya di sini baru berjalan sekitar satu bulan,” jelas Aszhari.

Dua tersangka diketahui pernah bekerja sebagai operator judi online di Filipina dan Kamboja. Mereka berpindah-pindah negara setelah lokasi sebelumnya digerebek aparat setempat.

Yang mengejutkan, tiga tersangka perempuan masih berstatus mahasiswi dan tengah mengambil cuti kuliah. Mereka tergiur bayaran tinggi dari pekerjaan tersebut. Salah satu tersangka disebut menerima gaji Rp11 juta per bulan dengan tambahan bonus hingga Rp8 juta, sementara dua lainnya yang masih masa percobaan digaji sekitar Rp2,5 juta per bulan.

Meski demikian, para pelaku hanya bertugas sebagai operator lapangan. Polisi memastikan bahwa kendali utama jaringan berada di luar negeri, tepatnya di Kamboja. Bahkan, salah satu pengelola situs terdeteksi berada di wilayah Kalimantan.

BACA JUGA :  Pria Asal Karangasem Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Bangli

“Leader jaringan berada di Kamboja. Kami masih dalami aliran dana dan kemungkinan keterlibatan pihak lain,” tegasnya.

Saat ini, seluruh tersangka telah ditahan di Rutan Polda Bali. Polisi juga telah menerbitkan daftar pencarian orang (DPO) terhadap pimpinan jaringan berinisial CND, serta berkoordinasi untuk memblokir rekening yang digunakan sebagai penampung aliran dana judi online.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 426 ayat (1) huruf c KUHP tentang perjudian dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.

Polda Bali menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan Bali tidak hanya secara fisik, tetapi juga di ruang digital. Masyarakat pun diimbau untuk tidak terjerumus dalam praktik judi online yang kerap menjanjikan keuntungan instan.

“Judi online membuat pemain kecanduan dan terus berharap menang, namun kenyataannya pemain sudah dirancang untuk terus kalah dan merugi,” pungkas Aszhari. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya