PADANG PARIAMAN, BALINEWS – PT Hutama Karya (Persero) mulai memperkenalkan rencana trase pembangunan Jalan Tol Bukittinggi–Sicincin kepada masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dalam tahap awal tersebut, perusahaan memaparkan gambaran teknis pembangunan, termasuk rencana terowongan yang akan menembus kawasan Bukit Barisan.
Pemaparan dilakukan melalui kegiatan prasosialisasi dan dialog bersama pemangku kepentingan di Kantor Bupati Padang Pariaman, Senin (26/10). Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, jajaran Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, wali nagari, niniak mamak, serta tokoh masyarakat.
Direktur Utama Hutama Karya Koentjoro menjelaskan, ruas Bukittinggi–Sicincin direncanakan menjadi kelanjutan Jalan Tol Padang–Sicincin yang telah beroperasi. Ruas tersebut juga merupakan bagian dari koridor Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang menghubungkan Padang dan Pekanbaru.
Menurut Koentjoro, pembangunan ruas tol tersebut saat ini masih berada pada tahap perencanaan. Prasosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman awal kepada masyarakat dan pemangku kepentingan sebelum memasuki tahapan formal persiapan pengadaan tanah.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap para pemangku kepentingan memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai rencana pembangunan, sementara tahapan selanjutnya akan dilaksanakan sesuai ketentuan dan kewenangan instansi terkait,” ujar Koentjoro.
Ia menjelaskan, tahapan persiapan pengadaan tanah nantinya mencakup pemberitahuan rencana pembangunan, pendataan awal lokasi, dan konsultasi publik hingga penerbitan Penetapan Lokasi (Penlok) oleh Gubernur Sumatera Barat.
Rincian bidang tanah yang terdampak juga akan dikaji bersama pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) sebelum disampaikan kepada masyarakat secara bertahap.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam perencanaan proyek ini adalah kondisi geografis Sumatera Barat. Selama ini, konektivitas Padang–Bukittinggi mengandalkan sejumlah jalur, antara lain Lembah Anai, Sitinjau Lauik, dan Malalak. Jalur-jalur tersebut memiliki medan yang menantang dan beberapa kali mengalami gangguan akibat bencana.
Untuk menyediakan alternatif konektivitas, ruas Bukittinggi–Sicincin direncanakan melintasi kawasan Bukit Barisan melalui pembangunan terowongan. Hutama Karya menyebut aspek keselamatan menjadi perhatian utama, baik selama konstruksi maupun ketika jalan tol mulai beroperasi.
Dalam mendukung kajian teknis pembangunan terowongan, Hutama Karya menggandeng kalangan akademisi di Sumatera Barat, termasuk Universitas Andalas dan Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah (PUSTROIB). Koordinasi juga akan dilakukan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta instansi lingkungan hidup karena rencana trase berpotensi bersinggungan dengan kawasan hutan dan kawasan wisata.
Sementara itu, Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menegaskan bahwa masyarakat harus dilibatkan dalam setiap tahapan perencanaan pembangunan. Menurutnya, forum prasosialisasi menjadi ruang bagi warga untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan pertanyaan, masukan, keberatan, dan harapan.
“Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang menerima informasi, tetapi juga diberikan ruang yang memadai untuk menyampaikan pertanyaan, masukan, keberatan, dan harapan,” tegas John Kenedy Azis.
Ia berharap pembangunan jalan tol tersebut tidak hanya menghasilkan infrastruktur fisik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Padang Pariaman melalui pembukaan peluang usaha lokal, penyerapan tenaga kerja, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade juga menilai Sumatera Barat membutuhkan jalur alternatif yang lebih andal untuk mengatasi persoalan konektivitas dalam jangka panjang.
Menurut Andre, pembangunan jalan tol berpotensi membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat setempat, termasuk keterlibatan pelaku usaha sebagai pemasok material konstruksi dan penyedia kebutuhan proyek lainnya.
Ia juga mengingatkan agar proses pengadaan tanah dan pemberian ganti kerugian dilaksanakan secara transparan, adil, serta sesuai ketentuan dengan tetap memperhatikan hak masyarakat terdampak.
Andre mengajak niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan tokoh masyarakat untuk terlibat dalam dialog guna menyelesaikan berbagai persoalan yang mungkin muncul selama proses pembangunan.
Prasosialisasi rencana pembangunan Jalan Tol Bukittinggi–Sicincin selanjutnya dijadwalkan berlanjut di Kabupaten Tanah Datar dan Kota Padang Panjang pada Rabu (28/10).
Hutama Karya menyatakan akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan tahapan perencanaan serta persiapan pembangunan berjalan sesuai ketentuan, dengan memperhatikan aspek keselamatan, lingkungan, dan kepentingan masyarakat.

