BALINEWS.ID – Zinedine Zidane resmi diangkat sebagai pelatih Timnas Prancis, mengakhiri penantian panjang seorang legenda yang rela menolak deretan klub raksasa Eropa demi satu-satunya jabatan yang benar-benar ia impikan.
Zidane menggantikan posisi Didier Deschamps, yang mengundurkan diri setelah membawa Prancis finis di posisi keempat Piala Dunia 2026. Kepergian Deschamps sekaligus menutup babak 14 tahun kariernya bersama timnas. Hanya berselang dua pekan, Federasi Sepakbola Prancis (FFF) langsung mengumumkan penggantinya.
Kontrak Empat Tahun, Debut Akhir September
Menurut laporan detikSport, Zidane resmi terikat kontrak selama empat tahun, membentang hingga Piala Dunia 2030, dengan masa aktif dimulai 1 Agustus 2026. Ini menjadi kali pertama Zidane kembali melatih sejak mundur dari Real Madrid pada 2021.
“Zidane resmi diangkat sebagai pelatih Timnas Prancis dengan kontrak empat tahun,” demikian pernyataan resmi FFF.
Debut Zidane bersama Les Bleus akan berlangsung saat menghadapi Turki pada matchday pertama Liga A Nations League, akhir September mendatang, sebelum menjalani laga kandang perdana melawan Italia di Stade de France pada 2 Oktober.
Tugas Berat Menanti
Di balik seremoni pengangkatan ini, tugas yang menunggu Zidane tidaklah ringan. Prancis terakhir kali menjuarai Euro pada 2000, dan gelar Piala Dunia terakhir mereka diraih pada 2018. Sejak itu, pencapaian Les Bleus justru menurun: hanya menjadi finalis Piala Dunia 2022, dan tahun ini pun cuma sampai babak semifinal.
Selama era Deschamps, Prancis mencatatkan 120 kemenangan dari 185 laga, rekor yang kini menjadi patokan awal bagi Zidane untuk melanjutkan, atau bahkan melampaui, warisan sang pendahulu.
Menolak Manchester United, Chelsea, hingga Juventus
Kembalinya Zidane ke dunia kepelatihan setelah absen sejak 2021 bukan berarti ia benar-benar sepi tawaran selama masa rehatnya. Sejumlah klub raksasa Eropa, termasuk Manchester United, Chelsea, dan Juventus, sempat dikaitkan dengan nama pelatih berusia 54 tahun tersebut.
Namun, Zidane secara konsisten menolak semua tawaran itu. Alasannya sederhana: ia hanya punya satu impian, melatih timnas negaranya sendiri, sebuah pencapaian yang ia anggap sebagai puncak dari perjalanan karier kepelatihannya.
“Bagi saya, hari ini seperti mimpi yang terwujud. Saya punya banyak tawaran melatih klub dalam 4-5 tahun terakhir, dan saya tolak semua demi Timnas Prancis,” ujar Zidane kepada The Athletic.
“Ini satu-satunya keinginan saya. Saya sudah jadi bagian tim itu sejak masih kecil; saya mulai di tim U-15 dan bekerja keras untuk di setiap level usia hingga mencapai skuad senior,” lanjutnya.
“Saya ingin memberikan segalanya agar tim ini terus menang, itu satu-satunya yang bikin saya semangat,” tutupnya.
Penunjukan Zidane juga disambut antusias oleh para pendukung Les Bleus di berbagai belahan dunia, termasuk di Bali yang selama ini menjadi rumah kedua bagi banyak wisatawan dan ekspatriat asal Prancis. Saat Piala Dunia maupun Piala Eropa berlangsung, tak sedikit sport bar di Pulau Dewata dipenuhi suporter berbaju biru yang datang untuk mendukung tim kesayangannya. Kini, harapan mereka tertuju pada satu sosok yang pernah mengantar Prancis menjadi juara dunia pada 1998, kali ini bukan sebagai maestro di lapangan, melainkan sebagai pelatih di pinggir lapangan.
