Eka Mahardhika Gagas “Ngempu Bali”, Pariwisata Diminta Kembali Berakar pada Alam dan Budaya

DENPASAR, BALINEWS.ID — Direktur Utama Mahardhika Institute, Eka Mahardhika, menggagas konsep “Ngempu Bali” sebagai gerakan kultural untuk mengembalikan pembangunan pariwisata Bali pada tiga fondasi utama, yakni alam, manusia, dan budaya.

Gagasan tersebut disampaikan Eka dalam Diskusi Publik “Meneropong Bali dari Sudut yang Berbeda” yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali dalam rangka HUT ke-14 IWO Indonesia dan HUT ke-1 IWO Bali di Aula Dinas Pariwisata Bali, Renon, Denpasar, Minggu (30/8/2026).

Menurut Eka, perkembangan industri pariwisata yang semakin masif perlu diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga jati diri Bali. Ia menilai pariwisata tidak semestinya hanya berorientasi pada aspek komersial dan pertumbuhan ekonomi.

“Dalam bahasa Bali, ngempu memiliki makna menjaga, memelihara, dan mendidik. Istilah ini erat dengan peran seseorang yang mengasuh dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajibannya,” ujar Eka.

Ia menjelaskan, konsep Ngempu Bali mengusung prinsip Tri Dharma Wangsa Bali, yakni Ngempu Alam, Ngempu Manusia, dan Ngempu Budaya Bali.

Bagi Eka, ngempu bukan sekadar aktivitas menjaga secara fisik. Konsep tersebut juga mengandung unsur pendidikan, tanggung jawab, serta hubungan timbal balik antara manusia dengan sesuatu yang dijaganya.

Dalam konteks Bali, prinsip tersebut dinilai penting karena pariwisata tidak dapat dipisahkan dari alam, masyarakat, adat, budaya, dan spiritualitas.

BACA JUGA :  Setelah Ghibli, Kini Muncul Edit Foto Jadi Action Figur Pakai ChatGPT

“Bali bukan semata-mata destinasi wisata, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama,” tegasnya.

Belajar dari Nilai Leluhur

Eka mengatakan gagasan Ngempu Bali memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai leluhur Bali, salah satunya yang tercermin dalam Bhisama Lontar Batur Kelawasan.

Menurut dia, warisan tersebut mengajarkan pentingnya menjaga gunung dan laut sebagai bagian dari keberlangsungan kehidupan. Gunung dipandang sebagai sumber kesucian, sementara laut menjadi ruang untuk menghilangkan kekotoran.

Manusia juga diingatkan untuk hidup dari hasil tangannya sendiri dan tidak membangun kehidupan dengan cara merusak alam.

Nilai tersebut, kata Eka, semakin relevan di tengah pertumbuhan penduduk, pembangunan, tekanan terhadap lingkungan, serta perkembangan industri pariwisata di Bali.

Selaras dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali

Konsep Ngempu Bali juga ditempatkan Eka dalam kerangka Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Bali.

Nilai tersebut diwujudkan melalui Sad Kerthi, yakni Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.

Dalam konsep Ngempu Bali, keenam Kerthi tersebut diterjemahkan sebagai bentuk tanggung jawab nyata dalam menjaga kehidupan di Bali.

Atma Kerthi, misalnya, diarahkan pada pemeliharaan spiritualitas Bali, desa adat, pura, pratima, simbol keagamaan, bahasa, aksara, sastra, serta warisan budaya.

BACA JUGA :  Dari Limbah ke Energi, Inovasi Tongkol Jagung Ini Bikin Presiden Prabowo Terkesan

Sementara Segara Kerthi diwujudkan melalui upaya menjaga laut dan pesisir, termasuk pantai dan sungai serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah dan lingkungan.

Danu Kerthi diarahkan pada perlindungan mata air dan danau sebagai sumber kehidupan. Sedangkan Wana Kerthi mencakup pelestarian vegetasi dan tumbuhan, termasuk tanaman endemik Bali.

Selanjutnya, Jana Kerthi menempatkan masyarakat Bali sebagai subjek pembangunan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang tetap berakar pada kebudayaan lokal.

Adapun Jagat Kerthi diarahkan pada upaya menjaga Pulau Bali secara menyeluruh sebagai ruang kehidupan yang membutuhkan pengelolaan secara fokus, lurus, dan tulus.

Dorong Ngempu Menjadi Gerakan

Eka menegaskan, Ngempu Bali tidak berhenti sebagai gagasan filosofis, tetapi diarahkan menjadi gerakan dalam berbagai bidang kehidupan.

Di bidang spiritualitas dan budaya, konsep tersebut mencakup pemuliaan desa adat, perlindungan kawasan suci, penguatan kebudayaan, serta pemajuan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Di bidang lingkungan, Ngempu Bali mendorong perlindungan danau, mata air, sungai, dan laut, pengurangan sampah plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, serta pelestarian tanaman endemik.

Sementara dalam pembangunan manusia, gagasan tersebut mencakup penguatan perekonomian adat Bali, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perlindungan pekerja migran asal Bali, pelayanan kesehatan tradisional, serta berbagai program penguatan kebudayaan.

BACA JUGA :  Meriah! Lomba Gerak Jalan Kreasi di Tabanan Kenakan Pakaian Unik

Pada tingkat Pulau Bali, konsep itu juga mencakup gagasan Bali Pulau Organik, Bali Mandiri Energi dengan Energi Bersih, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, Ekonomi Kerthi Bali, pemerataan pembangunan antarwilayah, serta pariwisata budaya yang berkualitas dan bermartabat.

Termasuk di dalamnya penguatan produk lokal, perlindungan karya intelektual Bali, digitalisasi, pengembangan pusat kebudayaan, konektivitas antarwilayah, hingga pengembangan Bali sebagai pusat pariwisata maritim.

Pariwisata Jangan Kehilangan Jati Diri

Eka menilai keberhasilan pembangunan pariwisata Bali tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, investasi, atau pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, terdapat ukuran yang lebih mendasar, yakni kemampuan pembangunan dalam menjaga alam, memuliakan manusia, dan mempertahankan kebudayaan sebagai identitas Bali.

Dalam perspektif Ngempu Bali, masyarakat lokal juga tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pelengkap industri pariwisata.

“Masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama sekaligus penggerak perubahan,” katanya.

Eka yang kini juga menjadi Staf Ahli Gubernur Bali tersebut menegaskan, Ngempu Bali merupakan ajakan untuk melihat Bali sebagai rumah bersama yang memberikan kehidupan sekaligus membutuhkan penghormatan dan tanggung jawab.

“Sebab, ketika alam dijaga, manusia dimuliakan, dan budaya dilestarikan, pariwisata tidak sekadar menjadi mesin ekonomi. Pariwisata dapat tumbuh sebagai bagian dari kehidupan Bali yang tetap berakar pada nilai, keseimbangan, dan jati diri,” tandasnya.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya