DENPASAR, BALINEWS.ID – Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) genap berusia 24 tahun pada 8 Juni 2026. Memasuki usia yang ke-24, organisasi kemanusiaan ini menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam pelayanan kesehatan, penanggulangan bencana, dan misi kemanusiaan, termasuk di Provinsi Bali yang pernah dilanda bencana banjir besar pada September 2025.
Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional BSMI, Muhammad Djazuli Ambari, mengatakan perjalanan BSMI sejak berdiri pada tahun 2002 merupakan bukti konsistensi para relawan, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen organisasi dalam menjalankan misi kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan.
“Selama 24 tahun, BSMI berupaya hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Dari berbagai bencana di Indonesia hingga krisis kemanusiaan internasional, kami terus berusaha menjalankan amanah kemanusiaan secara profesional dan berkelanjutan,” ujar Djazuli.
Saat ini, BSMI memiliki jaringan di 24 provinsi dan 155 kabupaten/kota di Indonesia. Jaringan tersebut menjadi kekuatan utama organisasi dalam mempercepat respons kemanusiaan, pelayanan kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.
Di Bali, kiprah BSMI terlihat saat bencana banjir besar melanda Pulau Dewata pada 10 September 2025. Curah hujan ekstrem yang terjadi sejak 9 hingga 10 September menyebabkan banjir di 18 kecamatan yang tersebar di enam kabupaten dan satu kota, yakni Badung, Tabanan, Karangasem, Jembrana, Gianyar, Klungkung, dan Kota Denpasar.
Bencana tersebut menewaskan sedikitnya sembilan orang serta mengakibatkan kerusakan ratusan rumah dan kerugian material yang cukup besar. Dalam situasi darurat tersebut, BSMI Provinsi Bali turun langsung membantu para korban dengan menyalurkan bantuan dari para donatur, menyediakan kebutuhan makanan, perlengkapan dapur dan rumah tangga, layanan pemeriksaan kesehatan, hingga trauma healing bagi warga terdampak.
Selain aktif dalam penanganan bencana di dalam negeri, BSMI juga terlibat dalam berbagai misi kemanusiaan internasional. Salah satunya melalui pengiriman Emergency Medical Team (EMT) Indonesia ke Gaza, Palestina, yang diperkuat oleh 14 dokter spesialis dari berbagai bidang untuk memberikan layanan kesehatan kepada korban konflik dan krisis kemanusiaan.
BSMI juga tercatat mengirimkan bantuan kemanusiaan dan tim relawan ke berbagai negara yang terdampak bencana maupun konflik, di antaranya Turki, Bangladesh, Myanmar, Nepal, dan Filipina. Organisasi ini juga memberikan dukungan kepada pengungsi Rohingya di Bangladesh dan Myanmar serta menjalin kerja sama pemberian beasiswa bagi mahasiswa asal Palestina di sejumlah universitas di Indonesia.
Menurut Djazuli, pengalaman panjang dalam berbagai operasi kemanusiaan nasional maupun internasional menjadi modal penting bagi BSMI untuk menghadapi tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks di masa depan.
“Tantangan kemanusiaan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim meningkatkan frekuensi bencana, sementara konflik dan krisis kesehatan masih terjadi di berbagai belahan dunia. Karena itu, BSMI akan terus memperkuat kapasitas relawan, tenaga medis, sistem respons darurat, dan jejaring kemanusiaan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan profesional,” katanya.
Pada momentum Milad ke-24 ini, BSMI mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial sebagai fondasi membangun masyarakat yang tangguh dan berkeadaban.
“Milad ke-24 ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kami. BSMI akan terus hadir melayani kemanusiaan, menguatkan harapan bagi mereka yang terdampak bencana dan krisis, serta membawa semangat kemanusiaan Indonesia untuk dunia,” pungkas Djazuli.
Dirgahayu ke-24 BSMI menjadi pengingat bahwa semangat kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah. Dari Bali hingga Gaza, BSMI terus meneguhkan perannya sebagai garda terdepan dalam membantu masyarakat yang menghadapi bencana dan krisis kemanusiaan.

