Slot Header 970×90

Alaya Resort Ubud Gelar Piodalan sebagai Wujud Syukur dan Komitmen Menjaga Harmoni Budaya Bali

Oleh Agung · null

7 Oktober 2026 pukul 18.59 WITA · 3 menit baca

Alaya Resort Ubud Gelar Piodalan sebagai Wujud Syukur dan Komitmen Menjaga Harmoni Budaya Bali

GIANYAR, BALINEWS - Alaya Resort Ubud kembali menyelenggarakan upacara Piodalan, Rabu, 7 Oktober 2026, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap tradisi dan budaya Bali.

Rangkaian kegiatan Piodalan yang berpusat di area Padmasana, menjadi momen bagi seluruh keluarga Alaya untuk memanjatkan doa, mengungkapkan rasa syukur, serta merawat keharmonisan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Berlandaskan filosofi Tri Hita Karana, yang mengajarkan keselarasan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, Piodalan menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas di Bali termasuk Alaya Resort Ubud.

Rangkaian prosesi telah dimulai sejak 5 Oktober melalui ritual Nunas Tirta, yaitu memohon air suci, yang dilaksanakan di sejumlah pura di area Padang Tegal dan Ubud sentral, termasuk Pura Desa dan Puseh, Pura Melanting, dan Pura Gunung Lebah.

Sebagai bagian dari persiapan sekaligus upaya mempererat kebersamaan antar tim, pada 6 Oktober, Alaya Resort Ubud menggelar rangkaian kegiatan internal yang melibatkan perwakilan karyawan dari berbagai departemen.

Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan nilai Parahyangan dalam Tri Hita Karana, sekaligus melanjutkan tradisi yang telah dijalankan di Alaya Resort Ubud sejak 2017.

Dalam tradisi tersebut, setiap departemen memiliki peran sebagai Pengempon, yaitu pihak yang bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat masing-masing pelinggih di lingkungan Alaya Resort Ubud.

Dari total sembilan pelinggih yang berada di kawasan Parahyangan Alaya Resort Ubud, masing-masing pelinggih memiliki kelompok Pengempon yang terdiri dari perwakilan karyawan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Mereresik, yaitu kegiatan membersihkan dan mempersiapkan area masing-masing pelinggih.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan lomba Mayasan Pelinggih, di mana setiap kelompok Pengempon menuangkan kreativitas dalam menata dan menghias pelinggih serta palangkiran menggunakan wastra dan ornamen tradisional Bali.

Semangat kebersamaan juga hadir melalui lomba merangkai Gebogan, dengan memanfaatkan buah-buahan lokal dan bahan-bahan alami. Selain menjadi bagian dari persiapan keagamaan, rangkaian kegiatan ini menjadi ruang bagi karyawan untuk berpartisipasi secara langsung dalam menjaga kesucian tempat persembahyangan sekaligus mengenal dan melestarikan tradisi Bali.

Puncak Piodalan pada 7 Oktober diawali dengan ritual Mecaru sebagai bagian dari prosesi pembersihan dan penyelarasan, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama pada sore hari di Padmasana. Manajemen dan seluruh karyawan Alaya Resort Ubud, bersama para undangan, mengikuti rangkaian persembahyangan dengan mengenakan pakaian adat Bali, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus penuh kebersamaan.

Salah satu bagian yang turut memperkaya rangkaian Piodalan adalah Tari Rejang Renteng, sebuah tarian sakral yang dipersembahkan dalam upacara agama Hindu.

Gerakannya yang dilakukan secara beriringan dan saling terhubung mencerminkan kebersamaan, keharmonisan, serta ketulusan dalam menghaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam konteks ritual, tarian ini menjadi bagian dari persembahan sekaligus penghormatan kepada kehadiran Ida Bhatara dalam rangkaian upacara.

Di Alaya Resort Ubud, Tari ini menjadi semakin istimewa karena dipersembahkan oleh para karyawan.

Sebagai bagian dari komitmennya menghadirkan pengalaman hospitality Indonesia yang autentik di Bali, Alaya Resort Ubud juga membuka kesempatan bagi para tamu yang sedang menginap di properti-properti Alaya untuk menyaksikan dan mengikuti pengalaman budaya tersebut secara langsung.

Kehadiran tamu dalam momen ini menjadi bagian dari upaya Alaya untuk memperkenalkan tradisi Bali secara lebih dekat, dengan tetap menghormati nilai, tata cara, dan konteks budaya setempat.

“Piodalan merupakan momen berharga bagi seluruh tim kami untuk sejenak berhenti dari rutinitas, mengucap syukur, dan bersama-sama menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali,” ujar Dewi Mas, Chief Operating Officer Alaya Hotels & Resorts.

“Bagi Alaya, budaya bukan sekadar bagian dari pengalaman yang kami hadirkan kepada tamu, akan tetapi juga merupakan nilai yang hidup dalam keseharian kami. Melalui Piodalan ini, kami ingin terus menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, lingkungan, dan komunitas di sekitar kami, sekaligus memberikan ruang bagi para tamu untuk mengenal dan merasakan kehangatan budaya Bali secara lebih dekat," paparnya.

Berakar di Ubud, yang dikenal sebagai salah satu pusat seni dan budaya Bali, Alaya Resort Ubud terus menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman hospitality yang dihadirkan kepada para tamunya.

Melalui perayaan Piodalan dan berbagai inisiatif yang berakar pada tradisi setempat, Alaya Resort Ubud memperkuat komitmennya untuk menghadirkan hospitality Indonesia yang autentik, berakar pada budaya, dan selaras dengan kehidupan masyarakat Bali.(*)

Agung

Agung

null

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.