Bali Didorong Naik Level ke Regenerative Tourism

DENPASAR, BALINEWS.ID — Pariwisata Bali dinilai tidak bisa lagi hanya mengandalkan pertumbuhan jumlah wisatawan dan predikat sebagai salah satu destinasi terbaik dunia. Bali didorong naik level dari sekadar menerapkan sustainable tourism menuju regenerative tourism yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan, budaya, dan masyarakat.

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Bali sekaligus praktisi pariwisata Bali, Yoga Iswara, mengatakan Bali menghadapi sedikitnya enam tantangan utama, mulai dari regulasi, kesenjangan infrastruktur, lingkungan, hingga alih fungsi lahan dan tekanan pembangunan pariwisata.

Pandangan tersebut disampaikan Yoga dalam Diskusi Publik yang digelar IWO Bali bertema “Meneropong Bali dari Sudut Berbeda”, Minggu (30/8/2026).

Menurut Yoga, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah regulasi dan sistem perizinan yang belum sepenuhnya menyesuaikan karakteristik Bali. Ia mencontohkan penerapan sistem Online Single Submission (OSS) yang menurutnya perlu dikaji agar tidak menggerus karakter pariwisata budaya Bali.

“Bali tidak memegang remote-nya. Bukan kita pegang remote-nya. Contoh misalkan perizinan. Perizinan sekarang ada sistem OSS,” ujar Yoga.

Ia menilai perkembangan usaha pariwisata yang berlangsung cepat, termasuk menjamurnya beach club dan berbagai jenis usaha lainnya, perlu dikendalikan agar tidak mengorbankan karakter dan daya dukung Pulau Dewata.

Tantangan lain adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dengan ketersediaan infrastruktur. Pertumbuhan aktivitas wisata yang tidak diikuti penguatan infrastruktur berpotensi membuat konsentrasi aktivitas semakin menumpuk di kawasan tertentu.

“Pertumbuhan dengan infrastructure yang ada enggak sesuai gap-nya, sehingga ini menciptakan concentrated pada titik-titik tertentu,” katanya.

Jangan Terlena Predikat Destinasi Terbaik

Yoga juga mengingatkan agar Bali tidak terlena dengan berbagai predikat sebagai destinasi wisata terbaik. Menurut dia, penghargaan tersebut tidak boleh membuat persoalan mendasar seperti sampah, kemacetan, air, infrastruktur dan tekanan terhadap lingkungan terabaikan.

BACA JUGA :  Lirik Lagu Suatu Saat Bertemu - JKT48V

“Hati-hati, pemberian predikat the best destination bisa menjadi manfaat yang semu untuk Bali,” tegasnya.

Menurut Yoga, tujuan utama pembangunan pariwisata Bali bukan sekadar mengejar penghargaan atau meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

“Bukan kita menjadi the best destination sebagai ultimate goal kita, tetapi bagaimana kita memastikan air kita aman, infrastruktur kita bagus, budaya kita naik,” ujarnya.

Ia juga menilai tidak semua kebijakan nasional dapat diterapkan secara seragam di seluruh daerah. Bali, kata dia, memiliki karakteristik khusus sehingga membutuhkan pendekatan regulasi yang lebih sesuai dengan kondisi daerah.

“Regulasi yang kita miliki di Indonesia itu sudah mulai tidak fit lagi untuk Bali. Tidak semua regulasi yang ada itu fit for every destination,” katanya.

Dari Sustainable ke Regenerative

Yoga menegaskan Bali perlu bergerak melampaui konsep sustainable tourism. Menurutnya, pariwisata berkelanjutan lebih banyak berorientasi pada pengurangan dampak negatif, sementara Bali telah memiliki akumulasi persoalan lingkungan yang membutuhkan upaya pemulihan.

Konsep regenerative tourism, kata Yoga, tidak hanya berupaya mengurangi dampak negatif, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi destinasi.

“Kalau yang regeneratif, selain mengurangi, dia menciptakan dampak positif agar yang minus itu menjadi berkurang, positif,” jelasnya.

Ia mendorong agar wisatawan maupun pelaku usaha memiliki orientasi untuk meninggalkan Bali dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan sebelum mereka datang.

“Coba meninggalkan Bali lebih baik dari ketika mereka datang,” katanya.

Yoga juga memperkenalkan konsep post profit, yakni pandangan bahwa keuntungan bukan satu-satunya tujuan dalam menjalankan usaha pariwisata.

BACA JUGA :  Tiga Buruh Terjebak Air Pasang di Uluwatu, Evakuasi Berhasil Dilakukan

Ia menggunakan analogi the goose that laid the golden egg atau angsa yang menghasilkan telur emas. Menurutnya, pelaku usaha jangan hanya mengejar keuntungan, tetapi harus menjaga lingkungan dan ekosistem yang menjadi sumber keuntungan tersebut.

“Jadi mari pelihara angsanya agar telur-telur emas itu tetap ada. Jangan hanya memikirkan telur emas, lupa merawat angsanya,” ujarnya.

Jumlah Wisatawan Bukan Lagi Ukuran Utama

Yoga menilai pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan tidak seharusnya menjadi satu-satunya indikator keberhasilan pariwisata Bali.

Menurutnya, yang harus diukur adalah manfaat ekonomi dan sosial yang diterima masyarakat serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan budaya.

“Kita jangan, ‘bagus pariwisata Bali, kunjungan wisatanya meningkat’, jangan berhenti pada angka itu. Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana manfaatnya, bagaimana tanggung jawabnya,” katanya.

Untuk mendorong perubahan tersebut, Yoga menilai Bali membutuhkan otoritas khusus dalam pengelolaan pariwisata, terutama dalam aspek regulasi. Insentif khusus untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan dan regeneratif juga dinilai diperlukan.

Ia juga menekankan pentingnya mengembalikan pariwisata budaya sebagai fondasi utama pembangunan pariwisata Bali. Setiap pembangunan usaha wisata yang tidak memiliki keterkaitan dengan karakter dan budaya Bali, menurutnya, perlu dipertimbangkan secara serius.

Meski demikian, Yoga menegaskan Bali tidak tinggal diam. Sejumlah kebijakan telah dilakukan, termasuk penguatan dan sosialisasi usaha akomodasi resmi yang disebut telah meningkatkan jumlah akomodasi dari sekitar 12.000 menjadi 17.000 unit.

Menurutnya, peningkatan kepatuhan usaha tersebut berdampak terhadap pajak dan standardisasi sektor pariwisata. Pemerintah juga terus melakukan pembangunan jalan dan shortcut untuk mengurangi kemacetan serta membatasi OSS untuk sejumlah KBLI.

BACA JUGA :  Lima Pendaki Alami Kelelahan di Gunung Batukaru, Tim SAR Gerak Cepat Evakuasi

“Bali tidak diam, Bali sedang mengeram,” ujar Yoga.

SDM Bali Banyak Dicari di Luar Negeri

Dalam diskusi tersebut, persoalan sumber daya manusia (SDM) Bali juga menjadi perhatian. Banyak anak muda Bali yang menempuh pendidikan pariwisata dan perhotelan justru memilih bekerja di kapal pesiar maupun hotel di luar negeri.

Pengamat ekonomi dan pariwisata Trisno Nugroho mengatakan perbedaan pendapatan menjadi salah satu faktor yang mendorong tenaga kerja Bali mencari peluang di luar negeri.

Menurutnya, pekerja sektor perhotelan di Bali sebenarnya memiliki peluang memperoleh pendapatan lebih tinggi dari upah minimum melalui service charge dan komponen pendapatan lainnya. Namun, tawaran penghasilan dari luar negeri tetap menjadi daya tarik.

Selain pendapatan, tingginya permintaan tenaga kerja asal Bali juga menjadi faktor penting. Trisno menyebut SDM Bali memiliki reputasi kuat di bidang hospitality dan banyak bekerja di berbagai negara.

“Bali itu terkenal tidak hanya pulaunya, tapi manusia Bali di luar negeri sangat terkenal dan sangat diapresiasi,” kata Trisno.

Ia mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi SDM Bali agar mampu mengambil peluang yang lebih besar, termasuk menghadapi potensi berkembangnya Bali sebagai pusat keuangan dan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur.

Dengan berbagai tantangan tersebut, masa depan pariwisata Bali dinilai tidak lagi dapat ditentukan hanya dari seberapa banyak wisatawan yang datang. Lingkungan, budaya, infrastruktur, pemerataan manfaat ekonomi serta kualitas SDM harus menjadi indikator utama agar pariwisata tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu menjaga dan memulihkan Bali untuk generasi mendatang.

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya