Oleh: Gede Julius
BALINEWS.ID – Bali adalah sebuah pulau tropis dengan aneka keunikannya. alam bali yang sangat indah yang selalu menjdi daya tarik bagi siapapun yang mengunjungi pulau ini. Dari indahnya pantai dengan pasir putih maupun hitam, ombak yang selalu menantang bagi peselancar, terumbu karang dan aneka keindahan dunia bawah laut yang memikat para penyelam maupun yang ingis snorkeling.
Pegunungannya juga tidak kalah mempesona, banyak orang tertarik mendaki gunung2 di bali dan melihat sunrise maupun pemandangan dari atas gunung. Di pulau ini juga punya landscap sawah yang banyak dan tersebar hampir merata di semua kawasan sehingga menjadi daya tarik bagi siapapun, bahkan UNESCO menetapkan kawasan sawah jatiluwuh sebagai situs warisan dunia.
Satu hal yang paling luar biasa adalah Bali memiliki budaya yang khas dan tentu berbeda dengan daerah lainnya di dunia. Dari cara manusia bali hidup, tata cara ritual, tata cara memasak, tata cara membuat bangunan, tata pemerintahan tradisional , hingga tata cara kematian yang begitu terstruktur. Budaya tradisional ini masih lestari di tengah zaman yang semakin maju dengan pengaruh globalisasi yang pesat. Banyak orang yang sering bertanya, kenapa budaya orang bali kuat sekali dan bisa terjaga sampai saat ini?, bahkan banyak orang luar terkagum2 melihat langsung aktivitas berkebudayaan orang bali.
Sejarah mencatat bawasannya budaya bali yang ada saat ini adalah hasil proses adaptasi di setiap zaman sehingga bisa terjaga sampai sekarang. Dari zaman prasejarah, kerajaan bali kuno, majapahit, kolonial, hingga masa setelah kemerdekaan, manusia dan budaya bali terus bergerak , hidup , dan menyesuaikan diri. Zaman mungkin bisa berubah di setiap waktu, namun nilai-nilai budaya yang dipegang orang bali terus dijaga dan hidup di setiap generasinya.
Di zaman pemerintahan republik indonesia budaya bali juga terus berkembang, budaya tidak hanya sebagai warisan leluhur atau hanya ceromonial untuk manusia bali semata, namun dijadikan core/roh dari industri pariwisata yang dikembangkan di pulau bali. Sehingga jargon /label/branding utama yang digunakan bali untuk industri pariwisatanya adalah “pariwisata budaya” (culture tourism). Bahkan ada Perda provinsi bali yang tegas mengatur tentang standar pariwisata budaya bali. Dengan adanya aturan ini muncul kesadaran menjadikan budaya bali sebagai kompas untuk apapun jenis industri pariwisata yang dikembangkan di pulau bali. Karena semuanya harus mengadopsi ciri khas budaya bali baik dari segi bangunan, tata management, dsb.
Selanjutnya mungkin akan muncul pertanyaan konyol : Seberapa pentingkah manusia bali bagi kelangsungan pariwisata bali ???
Dalam konteks pariwisata budaya bali (culture tourism), budaya bali adalah aset terpenting bagi jalannya industri pariwisata bali. Dalam budaya itu orang/manusia bali lah yg menjadi kunci dan merekalah yang melakoni, karena dia sebagai pencipta, penjaga serta pelaku segala aktivitas budaya. Yang paling sering diabaikan adalah jika orang bali tidak sejahtera yakinlah tidak akan ada aktivitas budaya karena biaya merawat budaya bali bisa dikatakan cukup mahal. Jika sudah tidak ada aktivitas budaya, apalagi yang akan dijadikan daya tarik wisata bali?? Kalau dari segi alam mungkin masih banyak yang lebih indah dibanding pulau bali. Mungkin saja bali akan ditingalkan oleh wistaawan karena keunikan budayanya sudah tidak ada.
Maka dari itu prioritaskanlah orang bali dalam memenuhi lapangan kerja di industri pariwisata bali. Karena orang bali berhak menikmati hasil dari keseharian mereka merawat budayanya. Dan pendapatan yg mereka dapatkan juga digunakan kembali untuk merawat kebudayaan bali.
Jika semua ingin kebaikan bersama, hendaknya semua pihak harus sadar dan sepakat bawasannya apapun bentuk industri/bisnis/investasi pariwisata di pulau bali harus memprioritaskan pelaku dan si pelindung budaya bali, siapa itu?? Ya jelas orang bali sendiri. Jika mereka sejahtera, maka budaya bali akan tetap hidup. Jika budaya bali hidup, industri pariwisata juga jalan karena banyak wisatawan mau berkunjung ke bali. Jika pariwisata jalan, maka hotel, restaurant, travel, kapal, pesawat dan stakehoder terkait lainnya untung dan bisa menggaji karyawan.
Jika perusahaan itu untung dan karyawan dapat gaji maka pemerintah dapat hasil pajak untuk mengelola pulau bali, membangun/memperbaiki infrastruktur, mengolah sampah, menjaga lingkungan dan alam. Jika pemerintah mengelola pulau ini dengan baik maka pulau bali akan semakin baik citranya otomatis tambah maju pariwisatanya dan selanjutnya akan memberi berdampak positif bagi semua. Begitulah siklus perputaran industri pariwisata yang “multplier effect”. Kalau bagus mengelola maka effect postif diarasakan banyak pihak, begitu sebaliknya jika dikelola dengan buruk, maka efect buruknya dirasakan banyak pihak.
Dari pemaparan di atas Harusnya semua yang tinggal di bali sadar dengan realita kondisi bali saat ini. Orang Bali/manusia Bali memang berhak sejahtera dan menikmati hasil dari komersialisasi budaya mereka ( posisi mereka sangat penting dan strategis dalam kelangsungan pariwisata Bali) .
Pemerintah juga harus melindungi orang bali dan memastikan mereka mendapat akses untuk kehidupan yang layak dan sejahtera dan mengelola pulau ini dengan sebaik-baiknya. Begitu pula para pengusaha yang punya bisnis di bali harusnya memprioritaskan orang bali dalam bekerja dan menjamin kesejahteraan mereka.
Mencintai bali tidak cukup hanya dituliskan dalam kata-kata atau selogan di iklan media sosial, atau tulisan di spanduk seminar/rapat/event. Atau hanya diucapkan dalam retorika pidato, penjelasan pada wisatawan ataupun diskusi dalam kelas. Mencintai bali sesungguhnya harus ada realisasi dalam tindakan nyata. Sehingga cinta seutuhnya pada bali adalah keselarasan antara pemikiran, perkataan dan perbuatan.
Jika ada orang/kelompok yang hanya mengambil keuntungan pribadi atau kelompok saja dari industri pariwisata bali tanpa memikirkan kesejahteraan orang bali, kelestarian budaya dan alamnya maka dialah si munafik yang bersifat parasit.
Mungkinkah mereka ini akan kena karma buruk atau hukum niskala dari para leluhur orang bali??? (*)
