BBTF 2026 Ajak Buyer Internasional Menyusuri Destinasi dan Kuliner di Badung

Post-tour and gala dinner BBTF 2026 di Kabupaten Badung.
Post-tour and gala dinner BBTF 2026 di Kabupaten Badung.

BADUNG, BALINEWS.ID – Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 menutup rangkaian kegiatan pasca-pameran (post tour) di Kabupaten Badung dengan menghadirkan pengalaman wisata berbasis budaya, spiritualitas, dan gastronomi di Desa Wisata Bongkasa, Minggu (31/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri para buyer internasional, media, serta pelaku industri pariwisata yang sebelumnya mengikuti ajang BBTF 2026.

Turut hadir dalam acara makan malam tersebut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Putri Mas Agung, PPK Bidang Pemasaran Pariwisata I Ketut Gde Widiartha Negara, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Badung Ni Kadek Ari Armaeni, serta jajaran pemerintah dan pelaku pariwisata setempat.

Ketua BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali, Putu Winastra, mengatakan pengalaman yang disuguhkan selama post tour merupakan upaya memperkenalkan Bali secara lebih mendalam kepada para buyer internasional. Menurutnya, Bali tidak dapat dipahami hanya melalui presentasi bisnis atau materi promosi semata.

“Bali tidak dapat sepenuhnya dipahami dari meja pertemuan. Bali harus dirasakan melalui pura, desa, makanan, ritual, lanskap, dan masyarakatnya,” ujar Winastra dalam sambutannya.

BACA JUGA :  Tragis! Bantu Dorong Motor, Pria Asal Banyuwangi Tewas Terlindas Truk Tronton di Tabanan

Selama sehari penuh, para peserta diajak mengunjungi sejumlah destinasi unggulan di Badung, mulai dari Taman Ayun yang menampilkan warisan budaya kerajaan, Hutan Wisata Sangeh yang memadukan alam dan kepercayaan masyarakat lokal, hingga pengalaman melukat di Pura Pancoran Solas Mumbul yang memperkenalkan hubungan spiritual masyarakat Bali dengan air sebagai simbol penyucian dan pembaruan diri.

Puncak kegiatan berlangsung di Desa Wisata Bongkasa melalui jamuan makan malam bertema Rajalaya yang mengangkat nilai keramahan dan penghormatan kepada tamu.

Winastra menilai konsep tersebut sejalan dengan tema BBTF 2026, yakni “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage.”

Ia menjelaskan bahwa gastronomi tidak hanya berbicara tentang makanan yang tersaji di atas meja, tetapi juga seluruh proses dan nilai budaya yang melatarbelakanginya.

“Gastronomi bukan hanya apa yang ada di atas piring. Ada petani, rempah-rempah, api, persembahan, tangan-tangan yang menyiapkan makanan, serta komunitas yang menyambut kita semua,” katanya.

BACA JUGA :  Jadi Stafsus Menhan, Kekayaan Deddy Corbuzier Nyaris Capai 1 Triliun

Menurut Winastra, tren wisata global saat ini menunjukkan bahwa wisatawan semakin mencari pengalaman autentik yang menggabungkan budaya, alam, kesehatan, kuliner lokal, dan interaksi langsung dengan masyarakat.

Bali dinilai memiliki seluruh unsur tersebut, namun perlu dikemas dan dipasarkan secara tepat serta tetap dijaga keberlanjutannya.

Ia menegaskan bahwa masa depan pariwisata tidak lagi sekadar menjual sebanyak mungkin destinasi dalam satu perjalanan, melainkan menciptakan alasan yang lebih mendalam bagi wisatawan untuk berkunjung.

“Banyak destinasi memiliki pantai, hotel mewah, dan matahari terbenam yang indah. Namun Bali memiliki sesuatu yang sangat langka, yaitu filosofi hidup yang masih berjalan. Alam, budaya, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari masih saling terhubung,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Winastra menyoroti pentingnya desa wisata seperti Bongkasa dalam mendukung pariwisata berkualitas. Desa wisata dinilai mampu menghadirkan pengalaman yang lebih personal, memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisata, sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal.

“Bongkasa menunjukkan Bali yang lebih tenang, hijau, personal, dan manusiawi. Di sini wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat, menikmati makanan lokal, mengikuti aktivitas desa, dan memahami bahwa keramahan bukan sekadar layanan, melainkan ketulusan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Jenazah Korban Kapal Tiba di Klungkung, Kadek Oka Langsung Diaben oleh Keluarga

Ia juga mengajak para buyer dan operator tur internasional untuk tidak hanya membawa wisatawan ke destinasi populer, tetapi juga ke tempat-tempat yang memiliki nilai dan makna budaya yang kuat.

“Bawalah wisatawan tidak hanya ke pantai, tetapi juga ke desa. Tidak hanya ke resor, tetapi juga ke komunitas. Tidak hanya ke restoran, tetapi juga ke cerita di balik makanan yang mereka nikmati,” katanya.

Menutup sambutannya, Winastra menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Badung, Desa Wisata Bongkasa, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan post tour BBTF 2026. Ia berharap pengalaman tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang Bali sebagai destinasi yang hidup dan terus berkembang.

“Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merasakan Bali bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai sebuah kisah yang hidup,” tutupnya. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya