Oleh : Kande Putra
“Bukan lautan, hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan, kau temui ikan dan udang menghampiri dirimu.”
Lagu itu pernah menjadi gambaran tentang Indonesia. Bali dan negeri yang digambarkan begitu kaya, begitu subur, begitu murah hati kepada siapa pun yang lahir dan tumbuh di atasnya. Bahkan sejak kecil kita diajarkan sebuah ungkapan yang begitu indah, “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Seolah alam akan selalu menyediakan kehidupan bagi anak-anaknya.
Namun, hari ini kenyataan berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Dari Papua, kabar duka datang ketika tiga orang kehilangan nyawa akibat aksi pembunuhan. Di Bali, seorang terduga pencuri menjadi sasaran amarah massa hingga hukum nyaris kalah oleh emosi. Di Jakarta, pengeroyokan kembali merenggut nyawa seseorang hanya karena kemarahan yang meledak dalam hitungan menit.
Tempatnya berbeda. Korbannya berbeda. Pelakunya berbeda.
Tetapi akar persoalannya memiliki benang merah yang sama: manusia yang kalah oleh amarah, dan masyarakat yang semakin terhimpit oleh tekanan hidup.
Kita sering sibuk memperdebatkan siapa yang paling salah. Pelaku menyalahkan keadaan. Korban menyalahkan pelaku. Masyarakat menyalahkan hukum. Pemerintah disalahkan karena dianggap gagal menghadirkan kesejahteraan.
Namun jarang sekali kita bertanya, mengapa kekerasan kini begitu mudah menjadi pilihan?
Mengapa nyawa manusia terasa semakin murah?
Mengapa kemarahan lebih cepat bekerja daripada akal sehat?
Tidak semua kekerasan lahir dari kebencian. Sebagian muncul dari keputusasaan.
Perut yang lapar memang tidak pernah membenarkan pencurian. Hukum harus tetap ditegakkan. Tetapi kita juga harus berani mengakui bahwa kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan hilangnya harapan sering menjadi pupuk bagi lahirnya tindakan-tindakan yang melanggar hukum.
Di sisi lain, kemarahan massa juga bukan jalan menuju keadilan. Main hakim sendiri hanya melahirkan kekerasan baru. Ketika emosi menggantikan hukum, maka siapa pun bisa menjadi korban berikutnya.
Yang lebih menyedihkan, setiap tragedi hampir selalu menyisakan tangisan yang sama.
Tangisan seorang ibu.
Tangisan seorang istri.
Tangisan anak-anak yang kehilangan ayahnya.
Mereka tidak ikut mencuri. Mereka tidak ikut memukul. Mereka tidak ikut bertikai. Namun merekalah yang harus menanggung luka paling panjang.
Seorang anak yang kehilangan ayah karena dibunuh akan tumbuh dengan pertanyaan yang mungkin tak pernah terjawab. Seorang anak yang ayahnya dipenjara karena memb*n*h juga akan memikul beban yang bukan pilihannya.
Korban sesungguhnya bukan hanya mereka yang meninggal.
Korban berikutnya adalah masa depan keluarga yang ditinggalkan.
Ironisnya, kita hidup di negeri yang begitu kaya. Hutan terbentang luas. Laut menyimpan kekayaan yang tak terhitung. Tanahnya subur. Gunungnya menjulang. Mineralnya menjadi rebutan dunia.
Tetapi di negeri yang disebut Zamrud Khatulistiwa ini, masih banyak orang yang tidur dengan perut kosong. Masih ada yang rela mempertaruhkan hidup demi sesuap nasi. Masih ada yang merasa bahwa kemarahan adalah satu-satunya cara menyelesaikan masalah.
Ini bukan semata-mata persoalan kriminalitas.
Ini adalah cermin yang memperlihatkan retaknya empati, rapuhnya pengendalian diri, serta belum tuntasnya pekerjaan rumah kita sebagai bangsa.
Kemajuan tidak cukup diukur dari gedung-gedung tinggi, jalan tol yang membentang, atau angka pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati diukur dari kemampuan sebuah bangsa menjaga martabat setiap manusia dan memastikan hukum berjalan tanpa kehilangan rasa keadilan.
Kita membutuhkan penegakan hukum yang tegas, tetapi juga keadilan sosial yang nyata. Kita membutuhkan pendidikan yang membentuk karakter, bukan sekadar mengejar nilai. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berpidato, tetapi juga mampu menghadirkan harapan.
Karena selama masih ada rakyat yang hidup dalam keputusasaan, selama kemarahan lebih mudah menyala daripada kepedulian, dan selama nyawa manusia dianggap murah, tragedi serupa akan terus berulang—hanya nama kota dan korbannya yang berganti.
Papua lusa.
Bali kemarin.
Jakarta hari ini,
Lalu daerah mana lagi yang akan menjadi berita berikutnya?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya siapa yang harus disalahkan, dan mulai bertanya apa yang harus kita benahi bersama.
Sebab Indonesia bukan sekadar sebidang tanah yang kaya akan sumber daya. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 280 juta jiwa yang sama-sama memanggil negeri ini dengan satu nama: Ibu Pertiwi.
Dan seorang ibu tidak pernah ingin melihat anak-anaknya saling memb*n*h.
Semoga kita masih memiliki keberanian untuk mengembalikan Indonesia sebagai negeri yang bukan hanya kaya alamnya, tetapi juga kaya hati nuraninya.*
