Oleh : Giostanovlatto Pendiri Hey Bali dan Bali Reporter
Setiap kali ada berita perselingkuhan, reaksi publik hampir selalu sama. Pelakunya dicap tidak bermoral, tidak bersyukur, atau memang “dasarnya playboy”.
Penilaian itu tidak sepenuhnya salah. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita ajukan: mengapa fenomena ini terus berulang, bahkan pada laki-laki yang tampak mencintai keluarganya?
Psikologi modern ternyata menawarkan jawaban yang jauh lebih rumit daripada sekadar “karena ada kesempatan”. Di balik perselingkuhan, sering kali ada perpaduan antara biologi, pengalaman hidup, kebutuhan emosional, dan lingkungan sosial yang saling memengaruhi.
Ini bukan tulisan untuk membela laki-laki yang berselingkuh. Sebaliknya, ini adalah upaya memahami sesuatu yang sering hanya kita hakimi.
Karena memahami penyebab tidak pernah sama dengan membenarkan perbuatan.
Selama bertahun-tahun kita diajarkan bahwa cinta dan hasrat adalah hal yang sama. Padahal, ilmu saraf menunjukkan keduanya bekerja di “ruang” yang berbeda di dalam otak.
Seseorang bisa benar-benar mencintai pasangannya, tetapi tetap merasakan ketertarikan seksual kepada orang lain. Terdengar tidak masuk akal, tetapi memang begitulah cara otak manusia bekerja.
Itulah sebabnya perselingkuhan sering membuat banyak orang bertanya, “Kalau masih sayang, kenapa selingkuh?”
Pertanyaannya memang masuk akal. Hanya saja, jawaban biologinya tidak selalu sesederhana logika kita.
Penelitian juga menemukan adanya peran dopamin, zat kimia di otak yang membuat manusia merasa senang ketika mendapatkan sesuatu yang baru. Pada sebagian orang, sistem ini bekerja dengan cara yang membuat mereka terus mencari sensasi berikutnya.
Bukan hanya dalam hubungan asmara. Pola yang sama juga terlihat pada orang yang mudah bosan, gemar mengambil risiko, atau selalu mengejar pengalaman baru.
Artinya, bagi sebagian laki-laki, perselingkuhan bukan sekadar mencari perempuan lain. Yang dicari justru sensasi, tantangan, dan ledakan emosi yang muncul ketika melakukan sesuatu yang terasa baru.
Namun, jika semua itu hanya soal biologi, tentu semua laki-laki akan berselingkuh. Faktanya tidak demikian.

Di sinilah psikologi mengambil peran yang jauh lebih besar.
Banyak penelitian menemukan bahwa laki-laki sering kali mencari validasi. Mereka ingin merasa masih menarik, masih dibutuhkan, masih dianggap berharga.
Ketika usia bertambah, karier mulai stagnan, tubuh berubah, atau hubungan terasa hambar, sebagian orang mulai mencari cermin baru yang bisa memantulkan kembali harga dirinya.
Ironisnya, yang mereka cari sering kali bukan cinta. Mereka hanya ingin kembali merasa diinginkan.
Ada pula mereka yang sejak kecil tumbuh tanpa kedekatan emosional yang sehat. Mereka sulit membangun hubungan yang stabil, mudah takut ditinggalkan, tetapi juga takut terlalu dekat.
Hubungan seperti ini sering menghasilkan paradoks. Mereka mendambakan keintiman, tetapi pada saat yang sama justru merusaknya.
Lalu ada fakta yang mungkin paling mengejutkan.
Banyak survei menunjukkan bahwa alasan terbesar laki-laki berselingkuh bukanlah karena seks. Yang lebih sering muncul justru karena mereka merasa tidak lagi dipahami, tidak lagi dihargai, atau kehilangan kedekatan emosional dengan pasangan.
Angka-angka dalam berbagai penelitian memang berbeda, tetapi polanya konsisten. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi muncul jauh lebih sering daripada sekadar dorongan seksual.
Tentu saja ini bukan berarti pasangan harus disalahkan.
Setiap orang tetap bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Tidak ada rasa kesepian yang otomatis berubah menjadi izin untuk mengkhianati komitmen.
Lingkungan juga memainkan peran yang tidak kecil.
Perselingkuhan jarang dimulai dari sebuah kamar hotel. Jauh lebih sering, ia dimulai dari percakapan yang terlalu nyaman.
Dari rekan kerja yang selalu mendengarkan. Dari teman lama yang kembali menghubungi. Dari pesan singkat yang awalnya terasa biasa, lalu perlahan menjadi tempat berbagi cerita yang tidak lagi dibagikan kepada pasangan.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai proximity effect. Semakin sering seseorang hadir dalam kehidupan kita, semakin besar peluang munculnya kedekatan emosional.
Perselingkuhan sering kali bukan ledakan besar. Ia lebih mirip retakan kecil yang dibiarkan terlalu lama.
Kalau kita melihat Bali, fenomena ini memiliki lapisan yang berbeda.
Pulau ini mempertemukan jutaan orang dari berbagai negara, budaya, dan gaya hidup. Hotel, restoran, tempat hiburan, ruang kerja bersama, hingga industri pariwisata membuat interaksi antarmanusia terjadi hampir tanpa jeda.
Kesempatan untuk bertemu orang baru jauh lebih besar dibanding banyak daerah lain di Indonesia.
Namun, jangan salah memahami.
Bali bukan penyebab perselingkuhan. Bali hanya memperbesar peluang bertemunya dua orang yang sama-sama membuka pintu.
Sama seperti hujan tidak pernah menciptakan kebocoran. Hujan hanya menunjukkan atap mana yang sejak awal sudah rapuh.
Karena itu, solusi perselingkuhan tidak pernah cukup hanya dengan mengawasi pasangan. Manusia selalu bisa menemukan kesempatan ketika memang ingin mencarinya.
Yang jauh lebih penting adalah membangun hubungan yang tetap hidup, bahkan setelah rasa berbunga-bunga di awal hubungan mulai memudar.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah tergoda. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang terus dirawat ketika godaan itu datang.
Mungkin pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa laki-laki berselingkuh.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa ada orang yang merasa lebih mudah mencari pelarian daripada memperbaiki hubungan yang sudah mereka bangun sendiri.
Sebab perselingkuhan hampir tidak pernah dimulai ketika seseorang bertemu orang baru.
Ia jauh lebih sering dimulai ketika dua orang yang sudah lama bersama berhenti benar-benar saling melihat.
Dan mungkin, di situlah pelajaran yang paling sunyi. Kesetiaan bukanlah kemampuan menolak godaan, melainkan kemampuan membuat seseorang tetap merasa pulang, meski dunia di luar terus menawarkan tempat singgah.
