DENPASAR, BALINEWS.ID – Dunia literasi dan kebudayaan anak Indonesia diselimuti duka mendalam. Tepat pada peringatan Hari Anak Nasional, Kamis (23/7/2026), sang maestro dongeng dan penjelajah permainan tradisional Bali, Made Taro, menghembuskan napas terakhirnya pada dini hari usai menjalani perawatan medis akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun sejak akhir Juni 2026.
Kepergian sang maestro meninggalkan warisan tak ternilai bagi generasi muda Indonesia. Sosok kelahiran Karangasem tahun 1940 ini mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk menjaga senyum, tawa, dan imajinasi anak-anak melalui dongeng serta permainan rakyat.
Mendedikasikan Hidup untuk Anak-Anak dan Tradisi
Nama Made Taro tak dapat dipisahkan dari dunia anak. Ia bukan sekadar penutur cerita, melainkan penjaga kebudayaan yang konsisten mengajak anak-anak Bali untuk mengenal dan mencintai akar budayanya sendiri.
Langkah nyatanya terwujud saat ia mendirikan Sanggar Kukuruyuk, sebuah wadah bagi anak-anak usia 8 hingga 12 tahun. Di sanggar inilah tawa riang anak-anak membahana lewat kegiatan:
Mendongeng: Menanamkan nilai budi pekerti lewat kearifan lokal.
Bernyanyi & Bermain: Menghidupkan kembali permainan rakyat yang kian tergerus zaman.
Dedikasinya tak hanya bergaung di Pulau Dewata. Pengalaman dan kepiawaiannya membawanya melanglang buana, diundang mendongeng serta memperagakan permainan tradisional ke berbagai provinsi di Indonesia hingga ke mancanegara. Berbagai penghargaan dari pemerintah maupun lembaga swasta pun mengalir sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya.
Penulis Produktif Melintasi Zaman
Melalui jemarinya yang terampil, pengalaman dan kecintaannya pada tradisi dituangkan ke dalam lebih dari 50 karya tulis—dengan sedikitnya 35 judul buku legendaris yang tercatat kokoh dalam sejarah literasi anak, di antaranya:
Bawang dan Kesuna (Balai Pustaka, 1997)
Lagu-Lagu Permainan Tradisional Bali (Upada Sastra, 1999)
Aliiih….! Traditional Balinese Games (Taksu Foundation, 2000)
Gita Krida (Sarad, 2001)
Randu dan Sahabatnya (Kanisius, 2002)
Karya Terakhir dan Tongkat Estafet yang Diteruskan
Bahkan di usia senjanya dan di tengah kondisi fisik yang kian melemah, nyala semangat berkarya Made Taro tak pernah padam. Menantu almarhum, Ni Made Maharini, menuturkan bahwa mertuanya masih aktif menulis hingga menjelang akhir hayatnya. Almarhum tengah menyelesaikan rangkaian buku Dongeng-Dongeng Lansia.
“Bapak masih berkarya, itu pun belum lama menciptakan buku Dongeng Lansia. Bapak maunya menerbitkan sampai seri kelima, dia sempat bilang butuh dua tahun saja untuk menyelesaikan. Tapi belum kehendak Tuhan, Bapak menyelesaikannya sampai di seri keempat,” tutur Maharini penuh haru.
Sejak fisiknya melorot, Made Taro memilih fokus pada pena dan kertas, sementara keahlian mendongeng yang menjadi jiwanya mulai ia wariskan kepada sang cucu agar tradisi tutur tidak terputus.
Momen kepergiannya yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional terasa bagai pesan puitis terakhir dari sang maestro.
“Sedih sekali Bapak yang banyak berkarya untuk anak tutup usia di Hari Anak Nasional. Tapi beliau meninggalkan banyak karya dan tidak mau dongeng atau mainan tradisional hilang, jadi beliau mewariskan keahlian ini ke cucunya,” pungkas Maharini.
Selamat jalan, Made Taro. Cerita, dongeng, dan permainan yang engkau tinggalkan akan terus hidup dalam ingatan anak-anak Indonesia.
