DENPASAR, BALINEWS – Kapolresta Denpasar Kombes Pol. I Wayan Winaya, S.I.K., M.H., menyiapkan penguatan patroli malam hingga dini hari untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) di wilayah Denpasar. Langkah tersebut dilakukan guna memberikan rasa aman kepada masyarakat dan wisatawan, mengingat Denpasar merupakan salah satu wajah pariwisata Bali.
Winaya mengungkapkan, dirinya akan turun langsung memimpin patroli yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 23.00 hingga 04.00 WITA. Patroli tersebut difokuskan pada waktu dan lokasi yang dinilai rawan berdasarkan analisis situasi keamanan.
"Kami menilai dari masyarakat ini pengin kehadiran polisi, makanya nanti malam kita patroli, dari jam 11 malam sampai jam 4 pagi," ujar Winaya dalam diskusi bulanan Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Bali bertajuk #NgopiSantuy, Sabtu (31/10/2026), di Denpasar.
Menurut Winaya, kehadiran personel kepolisian di lapangan menjadi salah satu upaya untuk menjaga situasi keamanan tetap kondusif. Terlebih, Denpasar memiliki posisi strategis sebagai ibu kota sekaligus pusat berbagai aktivitas masyarakat dan pariwisata di Bali.
Ia menjelaskan, penentuan waktu patroli tidak dilakukan secara sembarangan. Bagian Operasi Polresta Denpasar terlebih dahulu melakukan analisis terhadap situasi keamanan, termasuk mengidentifikasi waktu-waktu yang berpotensi menimbulkan gangguan kamtibmas.
Dengan demikian, pola dan waktu pelaksanaan patroli disesuaikan berdasarkan tingkat kerawanan serta dinamika aktivitas masyarakat di lapangan.
Selain penguatan patroli, Winaya juga menyoroti pentingnya penyampaian informasi mengenai situasi keamanan Bali secara proporsional. Ia mengingatkan agar satu kasus kriminal yang terjadi di suatu lokasi tidak langsung dijadikan tolok ukur untuk menilai keamanan seluruh wilayah Denpasar maupun Bali.
"Seberapa pengaruh daripada ketidakamanan di titik ini terhadap luasnya wilayahnya? Kan harus dinilai itu, tidak boleh digeneralisir," tegasnya.
Menurutnya, penilaian terhadap kondisi keamanan harus mempertimbangkan lokasi kejadian, cakupan wilayah, serta dampak suatu peristiwa terhadap situasi secara keseluruhan.
Winaya juga menyinggung pengaruh pemberitaan kasus kriminal terhadap citra pariwisata Bali. Ia mencontohkan kasus mutilasi yang melibatkan warga negara Rusia pada 2025 sebagai salah satu peristiwa yang mendapat perhatian luas.
Karena itu, ia mengajak media, khususnya media online, untuk turut menyampaikan informasi mengenai kondisi keamanan Denpasar secara berimbang dan proporsional kepada masyarakat di berbagai daerah.
Menurutnya, informasi yang disampaikan kepada publik perlu memberikan gambaran sesuai kondisi sebenarnya sehingga satu peristiwa kriminal tidak serta-merta membentuk persepsi bahwa seluruh wilayah Bali berada dalam kondisi tidak aman.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari program bulanan #NgopiSantuy yang digagas IWO Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Ketua IWO Bali, Tri Widiyanti.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PD IWO Kota Denpasar beserta jajaran, Ketua PD IWO Kabupaten Badung beserta jajaran, serta pengurus dan anggota IWO Provinsi Bali.
Melalui forum tersebut, IWO Bali memberikan ruang bagi wartawan untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada pemangku kebijakan, menggali informasi, sekaligus menyuarakan aspirasi masyarakat.
IWO Bali berharap program #NgopiSantuy dapat menjadi jembatan komunikasi antara insan pers dan pemangku kebijakan, sekaligus mendorong keterbukaan informasi mengenai berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat Bali.

