KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

Catatat Sugi Lanus

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha

Oleh: Sugi Lanus

Di sepanjang garis pantai Pulau Serangan dan pantai-pantai di Bali dimuliakan dan dilindungi pohon Pidada/Pedada/Prapat — inilah yang secara umum dikenal sebagai ‘mangrove’.

Pidada/Pedada/Prapat yang menjadi bagian hutan mangrove, tegak berdiri, tapi sering kali terabaikan, tidak dipahami nilai kekuatan alamiahnya dan spiritualnya.

Bagi mata awam, ia mungkin hanyalah sekadar penjaga pantai dari genus Sonneratia. Namun, bagi masyarakat Hindu di Bali, Pidada adalah simbol kesucian pesisir yang kedudukannya sejajar dengan pohon beringin di daratan.

Representasi Kaja dan Kelod — Segara dan Giri

Dalam kosmologi Bali, harmoni jagat dibangun di atas poros Kaja (gunung/ giri) dan Kelod (laut/ segara). Kedua titik ini memiliki simbol penjaga spiritualnya masing-masing. Jika di wilayah Kaja atau pusat desa kita mengenal pohon Beringin sebagai paku bumi yang disucikan, maka di wilayah Kelod, Pidada adalah representasinya. Pohon ini disamakan dengan “Beringin Laut”.

BACA JUGA :  CPNS 2024 Diangkat Serentak 1 Oktober 2025

Memahami lokasi tumbuhnya beringin dan pidada berarti memahami bagaimana leluhur Bali memetakan representasi alam semesta secara utuh. Keberadaannya bukan sekadar vegetasi, melainkan pembatas suci yang menjaga keseimbangan antara darat dan laut.

Jejak Spiritual Danghyang Nirartha

Kesucian Pidada bukanlah sebuah mitos tanpa akar sejarah. Hubungan spiritual pohon ini memiliki benang merah yang kuat dengan tokoh besar abad ke-15–16, Danghyang Nirartha (Ida Peranda Sakti Wau Rauh). Beliau adalah tokoh sentral yang merevitalisasi tradisi Hindu Jawa Kuno ke Bali. Begitu sakralnya nilai kesucian yang pohon mangrove ini, membuat nama Pidada diabdikan menjadi salah satu nama garis keturunan beliau yang bermukim di Griya Pidada. Nama ini melekat pada salah satu trah Danghyang Nirartha, yaitu Pidada, sampai kini.

Hal ini menegaskan bahwa dalam tradisi suci Bali, Pidada dipandang sebagai entitas yang mulia, yang kehadirannya dihargai dalam silsilah spiritual dan sejarah intelektual Bali.

Peran Penting dalam Ritual Ngaben

BACA JUGA :  Kehadiran Pemerintah di Tengah Duka, Wabup Badung Serahkan Akta Kematian

Bukti lain dari kesucian Pidada dapat ditemukan dalam ritual Ngaben.

Sebagaimana tradisi ngalap don bringin (memetik daun beringin) dilakukan sebagai bagian penting dalam proses penyucian ruh, pohon Pidada pun memegang peran serupa di pesisir. Bagian dari pohon ini sering kali menjadi komponen sesaji suci untuk prosesi kremasi.

Sebagai “Beringin Laut”, ia bertugas menyucikan kembali jiwa manusia sebelum akhirnya kembali bersatu dengan alam semesta (segara).

Benteng Fisik dan Benteng Kesehatan

Selain fungsi spiritual, Pidada adalah pengawal dan pahlawan ekologi. Akar napasnya yang kuat mencuat dari lumpur, membentuk benteng alami yang menahan gempuran ombak dan mencegah abrasi. Tanpa keluarga Pidada yang berbaris dengan berbagai jenis lain dari keluarga besar mangrove lainnya, daratan Pulau Serangan dan pesisir Bali akan terus tergerus oleh kekuatan samudra.

Secara historis, Pidada juga menjadi tumpuan pangan dan kesehatan bagi warga pesisir. Buahnya yang bulat sering diolah menjadi rujak pidada yang menyegarkan—sebuah sumber pangan alternatif di masa lalu. Lebih dari itu, buah ini diyakini sebagai obat bagi berbagai penyakit.

BACA JUGA :  Soulshine Bali Invites You to Experience 'The Great Slowdown', A Transformative Nyepi Retreat in Bali

Jika tubuh pohonnya membentengi pantai dari amukan alam, maka buahnya menjadi “benteng kesehatan” yang melindungi fisik warga sekitar.

Konservasi Mangrove sebagai Laku Yadnya

Dengan segala nilai historis, ritual, dan ekologis yang dimilikinya, pembabatan terhadap hutan mangrove dan keluarga Pidada adalah sebuah pelanggaran serius terhadap tradisi suci dan kearifan lokal (local wisdom). Tindakan merusak ekosistem ini merupakan laku yang fatal karena tidak hanya menghancurkan benteng alam, tetapi juga memutus mata rantai spiritual yang telah dijaga berabad-abad.

Memuliakan pidada di masa kini berarti melakukan upaya konservasi yang nyata. Melindungi dan menanam kembali pohon Pidada bermakna sama dengan sebuah yadnya (persembahan tulus). Dengan menjaga kelestariannya, kita sedang menjaga martabat ritual kita sendiri, menghormati sejarah leluhur, dan memastikan bahwa “Beringin Laut” ini tetap tegak berdiri sebagai penjaga abadi pesisir Bali.(*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

Breaking News

Baca Lainnya