Slot Header 970×90

Pojok Narasi

Kepemimpinan 'Balang Tamak': Belilah Pujian Ketika Rakyat Membencimu

Pojok Narasi Penulis: Sugi Lanus

7 Juli 2026 pukul 11.54 WITA · 2 menit baca

Oleh: Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 KEPEMIMPINAN 'BALANG TAMAK': BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU BALINEWS.ID - Alkisah Balang Tamak, tokoh cer…
Oleh: Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 KEPEMIMPINAN 'BALANG TAMAK': BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU BALINEWS.ID - Alkisah Balang Tamak, tokoh cer… — BaliNews.id

Oleh: Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026

KEPEMIMPINAN 'BALANG TAMAK': BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

BALINEWS.ID - Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan kepada istri dan anaknya menjelang ajal. Ia meminta keluarganya untuk menyewa dan membayar "tukang tangis" (orang yang dibayar untuk menangis) ketika ia meninggal nanti.

Mengapa?

Balang Tamak sadar diri akan tabiat dan ulahnya semasa hidup pasti membuat tidak akan ada satu pun tetangga atau warga yang merasa kehilangan atau sudi menangisinya.

Transformasi Balang Tamak

Pesan Balang Tamak ini menjelma kembali dan bertransformasi menjadi realitas politik yang menyedihkan dalam tata kelola pemerintahan kita hari ini. Kita tengah menyaksikan sebuah panggung besar di mana pemerintah bertindak layaknya penerapan metode kepemimpinan Balang Tamak.

Alih-alih bekerja keras hingga rakyat menangisi kepergian atau akhir masa jabatannya karena karya dan prestasinya, pemerintah justru sibuk memuji diri sendiri. Mereka asyik menepuk dada sendiri atas program yang belum tentu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Mengapa Pemerintah "Menyewa Tukang Puji"?

Ada kemiripan psikologis antara menyewa tukang tangis dan membayar tukang puji. Keduanya adalah bentuk kepalsuan yang dipamerkan ke publik untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.

Pemerintah sadar bahwa jalanan masih berlubang, harga kebutuhan pokok masih mencekik, dan angka pengangguran belum menunjukkan perbaikan signifikan. Alih-alih memperbaiki layanan publik dan kebijakan, mereka mengambil jalan pintas: menggelontorkan anggaran negara untuk kampanye, menyewa buzzer, dan mengorkestrasi media sosial demi membanjiri ruang publik dengan narasi keberhasilan semu.

Dunia digital kini disulap menjadi panggung sandiwara. Kritik dari masyarakat yang objektif sering kali dibungkam atau diserang balik oleh pasukan siber pelat merah. Sebaliknya, narasi yang mengagung-agungkan pemerintah diproduksi secara massal setiap hari.

Pemerintah seolah lupa bahwa pujian yang dibeli tidak akan pernah bisa menutupi realita di lapangan.

Kritik Satir yang Menjadi Kenyataan

Kisah Balang Tamak adalah bentuk kritik sosial masyarakat Bali terhadap orang yang gemar bersandiwara. Sangat disayangkan, kisah satir tersebut kini mencerminkan birokrasi kita. Pemerintah yang seharusnya berfokus melayani (public service) justru berubah fungsi menjadi departemen kehumasan yang kerjanya memoles citra penguasa.

Pemerintah gemar menggelontorkan anggaran besar untuk acara seremonial, baliho raksasa berisi pujian kinerja, hingga influencer yang dibayar miliaran rupiah. Semua ini dilakukan demi satu tujuan: memastikan tidak ada yang melihat kegagalan mereka.

Pada akhirnya, seperti halnya kisah tukang tangis Balang Tamak yang tidak bisa menghapus duka atau mengubah watak aslinya, pujian yang dibeli tak akan pernah bisa mengubah nasib rakyat. Masyarakat masa kini sudah jauh lebih cerdas. Mereka tidak bisa lagi dikelabui oleh deretan kata-kata manis. Pujian buatan hanya akan menjadi monumen kesia-siaan yang dikenang rakyat sebagai bentuk pengkhianatan amanah. (*)

SLOT IKLAN TENGAH ARTIKEL
Sugi Lanus
Sugi LanusPenulis Narasi
0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.