NASIONAL, BALINEWS.ID – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (3/6/26). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.40 WIB di pasar spot exchange, rupiah awalnya melemah ke posisi Rp17.905 per dolar AS. Beberapa menit kemudian, rupiah kembali turun 75 poin atau 0,42 persen sehingga berada di level Rp17.914 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau menguat tipis. Mata uang Negeri Paman Sam itu masuk ke zona hijau dengan kenaikan 0,01 persen ke level 99.227.
Pelemahan rupiah ini melanjutkan tren yang sudah terlihat sejak akhir Mei 2026. Pada 29 Mei lalu, nilai tukar rupiah tercatat telah menyentuh Rp17.864 per dolar AS, mendorong Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan terkait tekanan yang terjadi pada mata uang domestik.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global, terutama akibat perkembangan konflik di Timur Tengah.
Selain faktor eksternal tersebut, permintaan terhadap valuta asing juga meningkat secara musiman, sementara arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas.
“Antara lain (kebutuhan akan USD) untuk pembayaran ULN (utang luar negeri) dan repatriasi dividen,” ujar Ramdan dalam keterangan tertulisnya dikutip dari JPNN.
Meskipun nilai tukar Rupiah kian melemah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum mengganggu kondisi perekonomian nasional.
Purbaya mengatakan pemerintah telah mengantisipasi pergerakan kurs dalam penyusunan APBN, sehingga kondisi fiskal masih tetap terjaga.
“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah ke posisi sekarang,” ujar Purbaya, Minggu (31/5/26).

