DENPASAR, BALINEWS.ID — Garapan seni penjor spektakuler bertema “Legong Lasem” berhasil mengantarkan ST Yowana Dharma Laksana Banjar Meranggi sebagai peraih Juara I sekaligus memboyong Piala Bergilir pada Lomba Penjor Pengrebongan Desa Adat Kesiman 2026. Kompetisi ini digelar serangkaian piodalan di Pura Agung Petilan Pengrebongan, Kesiman, Denpasar, pada Minggu (5/7/2026).
Karya monumental yang mengangkat warisan budaya khas Banjar Meranggi tersebut sukses dinilai sebagai yang terbaik oleh tim dewan juri, menyisihkan 32 peserta sekaa teruna (ST) dari seluruh banjar di wilayah Desa Adat Kesiman.
Inovasi Piala Bergilir Pascarestorasi Pura
Kembalinya ajang tahunan ini disambut dengan antusiasme tinggi dari para pemuda, setelah sebelumnya sempat vakum pada akhir tahun 2025 akibat adanya proyek restorasi di areal utama pura. Penyelenggaraan tahun ini digarap apik melalui kolaborasi antara Yowana Desa Adat Kesiman dan LPD Desa Adat Kesiman.
Ketua Yowana Desa Adat Kesiman, I Putu Dede Aridana, menjelaskan bahwa kehadiran Piala Bergilir pada tahun ini merupakan sebuah inovasi baru yang sengaja dihadirkan sebagai bentuk penghargaan tertinggi atas kreativitas generasi muda.
“Lomba penjor kembali kami gelar setelah restorasi pura selesai. Tahun ini kami juga menghadirkan piala bergilir agar menjadi motivasi bagi ST untuk terus berinovasi dalam melestarikan seni penjor,” ujar Dede. Ia menambahkan, kompetisi ini diikuti oleh 32 banjar yang tersebar di tiga wilayah administratif, meliputi Kelurahan Kesiman, Desa Kesiman Petilan, dan Desa Kesiman Kertalangu.
Sentuhan Sejarah dan Rumitnya Proses Garapan
Ketua sekaligus konseptor penjor ST Yowana Dharma Laksana, I Kadek Yoga Febrian Ramartha, mengungkapkan bahwa pemilihan tema Legong Lasem didasari atas komitmen untuk memperkenalkan tetamian atau warisan budaya adiluhung dari Banjar Meranggi.
“Legong Lasem merupakan warisan dari Raja Kesiman yang terus kami lestarikan. Melalui penjor ini kami ingin memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada masyarakat,” jelas Yoga.
Di balik kemegahan penjor tersebut, Yoga mengakui timnya harus menghadapi tantangan teknis yang sangat kompleks. Tingkat kerumitan visual penjor ini terbilang tinggi, terutama dalam memperhitungkan titik beban ornamen, susunan gebogan, keserasian payasan, hingga instalasi tata cahaya agar struktur penjor tetap berdiri seimbang.
Selain faktor kerumitan desain, pengerjaan penjor ini menelan biaya hingga Rp18 juta di tengah meroketnya harga bahan baku di pasaran, seperti daun ental dan cat prada untuk ukiran. “Juara ini menjadi penutup yang manis di akhir masa jabatan saya sebagai ketua ST,” imbuh Yoga penuh syukur.
