GIANYAR, BALINEWS.ID – Ibu-ibu PKK Banjar Adat Sampiang, Gianyar, menggelar kegiatan tirtayatra atau wisata spiritual yang didukung penuh oleh para suami dan keluarga. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Sang Creator, kegiatan ini juga menjadi momen untuk menikmati keagungan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Kegiatan spiritual ini dihadiri langsung oleh Wakil Bendesa Adat Gianyar, I Wayan Suparma, yang didampingi Kelihan Adat dan Lingkungan Banjar Adat Sampiang, I Nyoman Gede Suberatha.
Dalam kesempatannya, I Wayan Suparma menyampaikan pemaknaan mendalam mengenai keberadaan manusia sebagai makhluk utama yang memiliki Atman—percikan terkecil dari Tuhan (mikrokosmos)—yang terhubung langsung dengan Jiwatman atau pemelihara alam semesta (makrokosmos).
“Sedangkan beliau yang Maha Kuasa menciptakan Alam semesta beserta isinya,sebagai Jiwatman ( Macrokosmos ),maka dari itu ibu ibu PKK ,Br Adat Sampiang Gianyar, walaupun tidak terjadwal secara rutin, asalkan ada waktu selalu melaksanakan kegiatan ini, sehingga dapat memperdalam jati diri dan selalu eling, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan melakukan sujud bakti ke tempat tempat suci ( Pura ),” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sejatinya apa yang terdapat di dalam diri manusia (mikrokosmos) memiliki keselarasan dengan apa yang ada di alam agung (makrokosmos).
“Dengan melakukan Dharmayatra kita dapat mendekatkan diri kepada Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadi manunggaling Kawulo Gusti,” lanjutnya.
Perjalanan Pertama ke Pura Kahyangan Jagat Pucak Mangu
Pada persembahyangan kali ini, rombongan tirtayatra PKK Banjar Adat Sampiang tiba dengan selamat di Pura Parahyangan Pucak Mangu, salah satu Pura Kahyangan Jagat. Berdasarkan purana, Pura Pucak Mangu merupakan salah satu parahyangan dalam konsep Padma Asta Dala—lambang bunga teratai berdaun delapan sebagai stana sembilan dewa utama (Dewata Nawa Sanga) yang berstana di delapan penjuru mata angin dengan Dewa Siwa di titik pusatnya.
Wayan Suparma memaparkan bahwa pemaknaan Padma Buana ini juga tecermin di dalam organ tubuh manusia, seperti stana Bhatara Iswara di jantung, Bhatara Brahma di hati, Bhatara Wisnu di limpa, hingga Bhatara Siwa di tumpukin hati.
Momen persembahyangan ini terasa istimewa karena menjadi kali pertama bagi rombongan untuk napak nangkil di Pura Pucak Mangu.
“Astungkara hari ini kita bisa napak nangkil sujud bakti ring Pucak Mangu,untuk pertama kalinya,karena Pura yang lain sudah pernah kita Sembahyang,dan di hari hari yang lain kita bisa menghaturkan sembah bakti di Pura yang lain,untuk menumbuhkan rasa eling dan keyakinan kita kepada Yang Maha Kuasa,agar senantiasa kita mendapatkan perlindungan dan limpahan rahmatnya, sehingga kita selalu dalam keadaan selamat ,sehat rahayu rahajeng,Moksartam Jagathita ya ca iti dharma,” tutup dia.
