Mengenal Co-Parenting yang Diterapkan Raisa dan Hamish: Tetap Kompak Meski Tak Lagi Bersama

Potret Raisa dan Hamish Daud merayakan ulang tahun putrinya. sumber: IG/@raisa6690

INTERMESO, BALINEWS.ID – Kabar perpisahan Raisa Andriana dan Hamish Daud tentu membuat publik terkejut. Pasangan yang selama ini dikenal harmonis dan nyaris tanpa gosip itu akhirnya mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk berpisah, setelah tujuh tahun membangun rumah tangga.

Namun di tengah kabar yang mengejutkan itu, ada satu hal yang justru mencuri perhatian yakni keputusan keduanya untuk tetap menjalankan co-parenting demi sang putri, Zalina Raine Wyllie.

Bagi sebagian orang, istilah co-parenting mungkin masih terdengar baru. Sederhananya, ini adalah pola pengasuhan bersama di mana kedua orang tua tetap berbagi tanggung jawab dalam membesarkan anak, meskipun hubungan mereka sebagai pasangan sudah berakhir.

BACA JUGA :  Kementerian BUMN Akan Diubah Jadi Badan Pengaturan BUMN

Meskipun sudah tidak ada lagi status suami dan istri, tapi kedua orang tua tetap berkomitmen kuat sebagai ayah dan ibu. Model pengasuhan seperti ini menuntut kedewasaan karena fokus utamanya bukan lagi pada perasaan pribadi, melainkan pada kebahagiaan dan kestabilan anak.

Dalam pernyataannya, Raisa menulis dengan nada yang lembut, bahwa cinta keduanya baik Raisa dan Hamish Daud tidak akan berubah kepada Zalina. Di tengah dunia hiburan yang penuh sorotan, keputusan ini menjadi contoh bahwa berpisah tidak selalu berarti bermusuhan.

Dikutip dari Very Well Mind, ini adalah bentuk pengasuhan bersama saat kedua orang tua tetap berbagi tanggung jawab membesarkan anak, meski sudah tidak lagi menjalin hubungan.

BACA JUGA :  Pekerja di TPS3R Gelgel Alami Kecelakaan Kerja, Kedua Tangan Terseret ke Mesin Pencacah

Penelitian menunjukkan konflik antara orang tua setelah perceraian dapat memengaruhi anak secara emosional, membuat mereka lebih rentan terhadap stres, kesulitan beradaptasi, hingga menurunnya rasa percaya diri. Karena itu, pola co-parenting yang sehat menjadi kunci agar anak tetap tumbuh dalam suasana aman dan penuh dukungan.

Co-parenting sendiri terdiri dari beberapa tipe. Berikut adalah tipe-tipe pola pengasuhan bersama, di antaranya.

1. Co-Parenting Konfliktual
Orang tua sering berselisih, komunikasi buruk, dan menerapkan aturan berbeda di rumah masing-masing. Anak sering terjebak di tengah konflik, sehingga lebih berisiko mengalami gangguan perilaku, kecemasan, atau depresi.

BACA JUGA :  Rencana Pembangunan Pelabuhan Kusamba: Layak Bersyarat, Pembebasan Lahan Masih Jadi Persoalan

2. Co-Parenting Kooperatif
Kedua orang tua saling bekerja sama, rutin berkomunikasi tentang keputusan penting anak, dan menempatkan kebutuhan anak di atas ego pribadi.

3. Co-Parenting Paralel
Orang tua menjalankan pengasuhan masing-masing tanpa banyak interaksi. Meski minim konflik, pola ini kadang membuat anak kehilangan konsistensi aturan di rumah.

Walaupun terdengar ideal, pola co-parenting bukan tanpa tantangan. Untuk itu penting bagi kedua orang tua untuk terbuka dalam komunikasi, memprioritaskan anak, dan  menyiapkan mental dan emosional dalam masa transisi. (*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

0 Comments
Newest
Oldest
Inline Feedbacks
View all comments

Breaking News

Informasi Lowongan Pekerjaan Terbaru Hari Ini

Baca Lainnya

GIANYAR, BALINEWS.ID – Anggota DPR RI I Nyoman Parta, S.H., melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Banjar...
GIANYAR, BALINEWS.ID – Anggota MPR RI I Nyoman Parta, S.H., menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di...
DENPASAR, BALINEWS.ID – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali kembali mengungkap modus baru peredaran gelap narkotika melalui media...
BANGLI, BALINEWS.ID – Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Bangli, membahas berbagai...