Slot Header 970×90

Menghidupkan Kembali Warisan 1978: Kemegahan Karya Agung dan Tradisi Nyenuk di Manukaya Let

Oleh Indra · null

4 Oktober 2026 pukul 12.25 WITA · 2 menit baca

Anak-anak mengikuti peed serangkaian prosesi Nyenuk di Pura Agung Manukaya Let, Tampaksiring.
Anak-anak mengikuti peed serangkaian prosesi Nyenuk di Pura Agung Manukaya Let, Tampaksiring. — Foto: Desa Manukaya Let

GIANYAR, BALINEWS — Suasana khidmat dan penuh nuansa spiritual menyelimuti Desa Adat Manukaya Let, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Sabtu (3/10/2026). Ribuan krama dari enam desa adat berkumpul mengikuti prosesi peed dan Nyenuk sebagai bagian dari rangkaian Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let.

Karya Agung yang meliputi upacara Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, dan Mendem Pedagingan ini memiliki nilai historis dan spiritual tersendiri. Pasalnya, ritual serupa terakhir kali digelar 48 tahun lalu, tepatnya pada 1978.

Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, menjelaskan bahwa prosesi Nyenuk melibatkan sekitar 2.000 peserta yang berjalan kaki mengikuti iring-iringan upacara dengan penuh rasa bhakti dan kebersamaan.

"Terakhir kali karya agung serupa dilaksanakan pada 1978. Melalui pelaksanaan kali ini, kami berharap tradisi yang diwariskan leluhur tetap terjaga dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya," ujar Mawi Arnata. Ke depan, Karya Agung ini direncanakan kembali dilaksanakan secara berkala setiap 30 tahun sekali.

Prosesi ini melibatkan gabungan enam desa adat, yakni Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul. Kemeriahan makin terasa dengan lantunan dari 10 kelompok sekaa gong, seperti Adi Mardangga, baleganjur, hingga gong suling.

Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur

Bagi masyarakat setempat, Karya Agung bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum memperkuat sraddha dan bhakti sekaligus memohon kerahayuan serta keseimbangan alam (sekala dan niskala). Keterlibatan lintas desa adat ini mencerminkan kuatnya semangat menyama braya dan gotong royong.

Di balik kemegahan Karya Agung, Desa Adat Manukaya Let juga memegang teguh tradisi sakral khas seperti Tampiog atau Melabuh Geni. Ritual ini melibatkan aksi menendang dan menerjang gundukan bara api yang menyala sebagai simbol penyucian diri dan ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Uniknya, Tampiog dilakukan dalam keadaan sadar tanpa proses kerauhan (kesurupan), melibatkan pemangku, prajuru, undagi, hingga sekaa baris.

Selain itu, terdapat pula kesenian sakral Tari Bedag-bedagan yang rutin dipentaskan pada hari-hari suci tertentu.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan "Yantu" Adi Parbawa, turut menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, pelaksanaan upacara yang didukung ribuan umat ini merupakan komitmen bersama warga untuk merenovasi serta membangkitkan kembali nilai-nilai tradisi leluhur yang sempat terhenti.

Indra

Indra

Wartawan Madya

0 komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Komentar langsung tayang. Komentar spam atau tidak pantas akan disembunyikan/dihapus redaksi.