Mental Surviving dan Mental Thriving: Dinamika Cara Manusia Menjalani Kehidupan

Sumber foto: Gemini Ai
Sumber foto: Gemini Ai

Penulis: Gede Julius: Agustus, 2026

1. PENDAHULUAN

Kondisi realitas kehidupan masa kini, kita melihat banyak sekali orang dengan berbagai pemikiran dan cara mereka bertahan dan menjalani hidup. Kita kadang merasa kecewa melihat orang yang mementingkan dirinya sendiri dan senang melihat orang yang mementingkan orang lain. Namun pertanyaannya, apakah sudut pandang kita sama dengan mereka yang kita lihat? Dan apakah realitas hidup sesederhana apa yang ada di pikiran kita dalam menilai orang lain?

Pertanyaan tentang realitas di atas mungkin bisa dijawab dengan sudut pandang psikologi yaitu konsep “Mental Surviving dan Mental Thriving” yang merepresentasikan dua cara adaptasi manusia terhadap suatu situasi. Mental surviving merujuk pada mode bertahan dalam menghadapi situasi, sedangkan mental thriving mengacu pada mode berkembang dan aktualisasi diri dalam menghadapi situasi. Dalam tulisan ini akan dijelaskan lebih lanjut tentang definisi, karakteristik, serta manifestasi kedua mental/kondisi tersebut dalam konteks kehidupan nyata. Tulisan ini murni merupakan opini penulis dalam melihat, mengamati, dan menganalisa realitas yang ada.

2. PEMBAHASAN

Di era globalisasi dan ketidakpastian ekonomi menuntut individu untuk memiliki kapasitas adaptif yang tinggi. Dunia berkembang begitu cepat, persaingan sangat tinggi sehingga kita dituntut bisa melawati ini semua agar hidup layak dan nyaman. Di Bali dan wilayah urban Indonesia lainnya, tekanan seperti biaya hidup tinggi, persaingan kerja, dan degradasi lingkungan menempatkan banyak individu pada mode bertahan (surviving). Namun demikian, sebagian individu mampu berada pada mode berkembang (thriving).

BACA JUGA :  Koster Janjikan Insentif Pecalang Rp 50 Juta per Desa Adat se-Bali

Apa itu Mental Surviving?

Mental surviving didefinisikan sebagai kondisi psikologis di mana individu memfokuskan seluruh sumber daya kognitif dan emosionalnya untuk mempertahankan fungsi dasar kehidupan dan menghindari kerugian lebih lanjut atau menjauhi bahaya agar segera selamat. Karakteristik utamanya meliputi orientasi jangka pendek, fokus bertahan (berkaitan dengan amigdala: fight or flight).

Individu dalam fase ini cenderung mengalami kondisi pasrah bahkan kadangkala nekat dan berpikir singkat. Baik-jahat atau etika bukan hal yang utama lagi, namun fokus utama bagaimana bisa tetap selamat, jauh dari bahaya dan tetap hidup.

Apa itu Mental Thriving?

Berbeda dengan surviving, mental thriving merupakan kondisi yang lebih pada pengelolaan pikiran, emosional, dan kejiwaan. Karakteristiknya meliputi proaktivitas, penetapan tujuan jangka panjang, regulasi emosi yang adaptif, pengembangan diri, dan pencarian makna.

Dalam kondisi mental thriving tidak berarti absennya masalah, melainkan kapasitas untuk mentransformasi tantangan menjadi katalisator perkembangan.

Contoh dalam Kehidupan Nyata

Berikut disajikan perbandingan contoh dari kedua kondisi tersebut dalam sektor ekonomi/pekerjaan, pendidikan, relasi percintaan, kesehatan, dan finansial.

Sektor Pekerjaan dan Karier

  • Mental Surviving: Seorang karyawan kontrak di sektor pariwisata Bali bekerja 6 hari/minggu dengan jam kerja tidak menentu. Fokus utamanya adalah mempertahankan pekerjaan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar. Pengembangan kompetensi diabaikan karena keterbatasan waktu dan energi.
  • Mental Thriving: Seorang karyawan yang sama, setelah stabil secara finansial, mengambil sertifikasi hospitality management pada akhir pekan. Ia membangun jejaring profesional dan merancang rencana karier 5 tahun. Tekanan kerja diartikan sebagai peluang untuk meningkatkan kompetensi.
BACA JUGA :  Kita Membunuh Seorang Bapak Malam Itu, Bukan Menyelamatkan Ayam Aduan

Sektor Pendidikan

  • Surviving: Mahasiswa yang cenderung mengejar kelulusan dengan IPK minimal. Proses belajar bersifat instrumental, yakni untuk mendapatkan ijazah. Partisipasi dalam kegiatan akademik non-kurikuler minim, dengan harapan cepat dapat kerja atau naik jabatan dengan ijazah jika sudah bekerja.
  • Thriving: Mahasiswa yang memiliki pemikiran memanfaatkan masa kuliah untuk riset, memperkuat relasi, ikut berbagai organisasi, magang, dan publikasi ilmiah. Kegagalan dalam satu mata kuliah akan dimaknai sebagai umpan balik untuk motivasi strategi belajar yang lebih efektif.

Sektor Percintaan

  • Surviving: Hubungan romantis dipertahankan karena ketakutan akan kesepian, bukan karena kualitas relasi. Komunikasi cenderung menghindari konflik.
  • Thriving: Pasangan membangun relasi berbasis pertumbuhan bersama. Konflik dikelola melalui komunikasi dua arah. Kemandirian emosional tetap dijaga sehingga relasi bersifat saling menguatkan. Menjalani hubungan dengan penuh makna di setiap peristiwa.

Sektor Kesehatan dan Financial

  • Surviving: Pola hidup tidak teratur, konsumsi makanan yang kurang sehat, tidak adanya dana darurat, dan keputusan kesehatan serta keuangan bersifat reaktif, dilakukan hanya saat krisis terjadi.
  • Thriving: Individu menerapkan preventive health behavior seperti olahraga rutin dan financial planning dengan alokasi tabungan dan investasi. Kesehatan dipandang sebagai modal sosial, bukan sekadar ketiadaan penyakit.
BACA JUGA :  Puja Saraswati Bersumber Dari Tradisi Bharata Warsa (India Kuno)

Mengapa manusia bisa berada di kondisi Surviving dan Thriving?

Kondisi mental ini tidak terjadi secara otomatis. Beberapa faktor penyebab meliputi:

  • kondisi apakah sudah terpenuhinya/belum kebutuhan biologis/dasar dan rasa aman;
  • keberadaan komunitas, mentor, atau jaringan relasi;
  • keyakinan bahwa individu memiliki urgensi untuk pasrah atau mengubah keadaan;
  • kemampuan memaknai situasi sebagai ancaman atau tantangan.

3. PENUTUP

Mental surviving dan mental thriving merupakan dua kutub dalam adaptasi manusia. Surviving merupakan mekanisme protektif yang krusial pada masa krisis, sementara thriving merepresentasikan pengelolaan situasi untuk jangka panjang yang lebih baik dengan berbagai perhitungan.

Surviving adalah fondasi keselamatan dasar yang dibutuhkan ketika menghadapi krisis riil. Thriving adalah tahap selanjutnya ketika rasa aman telah terpenuhi dan individu mulai mengarahkan energinya untuk aktualisasi diri, eksistensi bermakna, dan kontribusi positif.

Pemahaman terhadap kedua konstruksi ini penting bagi siapapun, baik masyarakat biasa, pengusaha, ataupun pejabat. Kondisi mental manusia saat ini surviving atau thriving, pada akhirnya bergantung pada interaksi antara sumber daya individu, lingkungan, dan kemampuan memaknai pengalaman hidup.

(*)

Tag

Catatan: Jika Anda memiliki informasi tambahan, klarifikasi, atau menemukan kesalahan dalam artikel ini, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email atau melalui kontak di situs kami.

ucapan-galungan-dprd-klungkung
KPP FEED IG QR_new

Breaking News

Baca Lainnya